SEPEKAN TERAKHIR
  Rabu, 24 Agustus 2016   -HARI INI-
  Selasa, 23 Agustus 2016
  Senin, 22 Agustus 2016
  Minggu, 21 Agustus 2016
  Sabtu, 20 Agustus 2016
  Jumat, 19 Agustus 2016
  Kamis, 18 Agustus 2016
POKOK RENUNGAN
Kesadaran bahwa kita ini ciptaan yang berharga dan telah ditebus oleh Yesus Kristus hendaknya menggerakkan kita untuk memberi yang terbaik kepada-Nya tanpa sisa.
DITULIS OLEH
Pdm. Benaya D. Cahyono
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Tidak Ada Yang Terbuang Percuma
Tidak Ada Yang Terbuang Percuma
Rabu, 24 Agustus 2016 | Tema: Diperlengkapi Untuk Membangun Tubuh Kristus
Tidak Ada Yang Terbuang Percuma
Efesus 2:10

Dulu sebelum tahun 2000an bahan makanan seperti singkong dan jenis umbi-umbian tidaklah begitu digemari oleh banyak orang karena tidak memiliki penamplan atau sajian yang istimewa karena pada umumnya hanya digoreng, direbus atau dibakar. Variasi yang lain biasanya dibuat getuk atau keripik. Namun sekarang bahan makanan seperti singkong atau umbi-umbian tidak bisa diremehkan karena ada tangan-tangan yang mengolahnya menjadi produk kreatif. Singkong yang dulu hanya ada di warung-warung, sekarang sudah masuk dalam hotel bintang lima, restorant yang mewah dan bahkan sudah bersanding dengan makanan international sehingga bernilai ekonomis tingg...selengkapnya »
Suatu saat bu Siti harus berjuang keras untuk membaca Alkitab sebab tertinggal dari teman-teman lain yang berkomitmen membaca lima pasal setiap hari. Akhirnya perjuangannya tidak sia-sia, bu Siti berhasil menyelesaikan tugas bacaan hari itu. Melalui pembacaan Alkitab secara rutin membuat bu Siti semakin mengerti kebenaran Firman Allah. Sebagai murid Kristus ada dua tujuan utama yang harus dicapai, yaitu hidup semakin serupa dengan Kristus [Roma 8:30] dan bertumbuh dewasa dalam iman kepada Kristus [Efesus 4:13-16]. Untuk mencapai tujuan tersebut ada berbagai macam cara yang Allah pergunakan sebagai sarana untuk membangun dan mendewasakan iman umat-Nya. Salah satunya melalui masalah dan pencobaan yang harus mereka hadapi dan lewati agar dirinya semakin dekat dan mengenal Allah lebih dalam lagi. Tanpa melalui proses mengalami Allah dalam hidup, kita hanya mengenal Allah secara teori saja sebagaimana kita mendapatkan cerita dari pengalaman orang lain. Renungan kita hari ini berkaitan dengan Firman Allah yang memberi manfaat positif bagi pertumbuhan dan kebangunan iman kita di dalam Kristus. Sebab Alkitab adalah satu-satunya sarana yang Allah sediakan supaya kita mengenal, mengerti kehendak Allah, serta membangun kehidupan kerohanian kita. Supaya manfaat yang positip dari Firman Allah seperti yang tertulis dalam 2 Timotius 3:16-17 kita alami dalam hidup kita sehari-hari, maka tidak ada cara lain kecuali dengan tekun membaca Alkitab setiap hari. Karena Alkitab sangat kaya dengan hal-hal yang berkaitan dengan pengalaman hidup orang beriman. Di dalamnya terdapat banyak petunjuk dan janji-janji Allah yang bakal kita alami dengan nyata apabila kita sungguh hidup dalam ketaatan kepada Allah. Membaca Alkitab dengan rutin bukan saja untuk membangun kerohanian kita tetapi juga mendewasakan cara berpikir dan bertindak kita. Dengan demikian kerohanian kita terbangun dengan dasar yang baik dan benar. Sudahkah kita memiliki kebiasaan untuk membaca Alkitab secara rutin? Dengan cara apakah kehidupan kerohanian kita dibangun selama ini? Bagi kita yang belum merasakan kehidupan kerohaniannya terbangun dengan baik dan benar, marilah kita mengambil komitmen dengan mulai membaca Alkitab dengan rutin setiap hari. Bagi kita yang sudah memperoleh manfaat melalui bacaan Alkitab, bagikan dan bimbingan saudara-saudara kita agar kehidupan kerohanian mereka juga terbangun dengan baik dan iman mereka semakin dewasa di dalam Kristus.
Sebuah rumah dengan desain yang bagus dan menarik menjadi sebuah keinginan bagi hampir setiap orang. Namun pada dasarnya tidak cukup hanya berurusan dengan desain dan bentuk rumah tersebut. Rumah akan menjadi semakin menarik dan bagus jikalau dilengkapi dengan berbagai perabotan yang ada di dalamnya. Tidak harus selalu sesuatu yang mahal, yang penting cukup untuk mempercantik keadaan rumah. Di mulai dari ruang tamu dengan meja kursi sederhana, ruang dapur dengan perlengkapannya, dan sebagainya. Sehingga keadaan dan suasana rumah menjadi lengkap dengan segala isinya. Namun sebaliknya, jika kita hanya melihat luarnya saja maka mungkin kita bisa tertipu. Keadaan yang bagus dari luar tetapi di dalamnya tidak terdapat apa-apa, berarti tidak hanya kurang lengkap namun kosong. Sehingga diperlukan perlengkapan untuk menjadikan rumah tersebut sempurna. Surat Yakobus mengingatkan kepada kedua belas suku di perantauan bahwa kehidupan sebagai orang percaya jangan hanya didasarkan pada yang nampak dari luar saja. Komunitas orang percaya tidak untuk menjadi pelindung, menyukakan hati para pemimpin dan orang yang berkuasa, melainkan harus berlaku setara antar sesama anggota. Lebih lanjut lagi Yakobus menuliskan bahwa setiap orang yang telah melakukan pembedaan itu berarti ia telah menjadi hakim atas orang lain. Tuhan justru menentang kita yang menganggap diri kita hakim dan berkuasa atas orang lain. Jikalau seseorang masih memandang muka, maka orang tersebut belum siap untuk menjadi pelayan Tuhan. Jika masih berurusan dengan status sosial berarti belum siap untuk diperlengkapi dalam membangun Tubuh Kristus. Jemaat yang terkasih, Tuhan mengingatkan kita sebagai orang percaya melalui surat Yakobus ini bahwa kesiapan kita sebagai pelayan Tuhan tidak ditentukan dengan tampilan luar kita. Tuhan lebih menilik pada kesiapan hati kita. Jikalau kita masih memusingkan orang lain karena tidak sama dengan kita berarti kita belum siap untuk diperlengkapi. Setiap orang diberikan kehidupan dengan segala keperbedaannya, bukan tanpa alasan. Tuhan menyiapkan kita sebagai orang percaya dalam satu komunitas rohani untuk sama-sama bertumbuh, saling melengkapi, dan terlebih siap untuk diperlengkapi dalam pembangunan Tubuh Kristus. Mari kita belajar merendahkan hati untuk menerima pengajaran Firman dan siap untuk diperlengkapi oleh pengurapan Tuhan Yesus.
Karunia Roh/karunia rohani adalah kemampuan khusus yang diberikan oleh Roh Kudus kepada orang percaya untuk memperlengkapi mereka, sesuai kehendak dan perkenan Allah, dalam rangka pelayanan dan pembangunan jemaat/tubuh Kristus [1 Korintus 12:11; 14:3, 4, 12]. Perlu disadari bahwa karunia Roh bukan hasil pencapaian pribadi, bukan tujuan, tapi perlengkapan untuk mendukung terselenggarakannya suatu pelayanan yang benar. Jenis jenis karunia rohani bisa dijumpai di Roma 12:6-8, juga 1 Korintus 12:8-11. Kita perlu mewaspadai pemahaman yang salah terhadap karunia rohani, antara lain: • Pandangan bahwa semua jemaat harus memiliki karunia khusus. • Karunia rohani dapat diajarkan kepada jemaat, termasuk anak-anak Sekolah Minggu. Yang sering dijumpai, yaitu mengajarkan karunia berbahasa Roh dan karunia bernubuat. • Pandangan bahwa aktivis yang belum berbahasa Roh berarti tidak memiliki Roh Kudus, dan belum dewasa rohaninya. Kita harus percaya, bila kita makin dewasa rohani dan mulai terbeban bagi pekerjaan Tuhan, karunia rohani pasti diberikan sesuai dengan kebutuhan pelayanan. Jadi tiap hari kita harus terus bertumbuh menuju kedewasaan rohani, hidup makin berkenan kepada Tuhan, hidup tidak bercacat, tidak bercela, menjadi anak Allah yang mengenakan kodrat Ilahi/kesempurnaan Kristus. Dalam Galatia 5:22-23 kita jumpai buah Roh yang berupa: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemah-lembutan, penguasaan diri. Buah Roh menggambarkan sifat pribadi Kristus, merupakan suatu pencapaian pribadi orang percaya, yang telah memperjuangkannya dengan tekun dalam tuntunan Kebenaran Injil [apa yang diajarkan dan diteladankan oleh Tuhan Yesus] dan bimbingan Roh Kudus. Buah Roh menandai adanya karakter seseorang yang makin serupa dengan Kristus. Kehidupannya dipersembahkan sepenuhnya bagi kepentingan Tuhan [Yohanes 4:34]. Pribadi demikian pasti menjadi terang dan saksi bagi Kristus di manapun berada. Dan inilah pada hakekatnya keunggulan seorang anak Tuhan.
Pak Narto adalah seorang yang berprofesi sebagai tukang batu. Entah berapa rumah yang sudah dibuatnya atau sudah berapa kali pak Narto membuat jembatan, sudah tak terhitung. Maklum karena dia sebagai tukang batu senior yang sangat baik kerjanya sehingga jasanya sering dipakai banyak orang. Namun ada satu hal yang menarik dalam diri pak Narto, sudah banyak rumah orang lain dia buat tetapi sudah bertahun-tahun dia hanya tinggal di rumah setengah jadi [Jawa: abangan, temboknya masih batu bata merah tidak di plestar]. Pak Narto terus menerus membangun rumah orang lain, tetapi dia tidak pernah menyelesaikan bangunan rumahnya sendiri. Membangun adalah tindakan mengerjakan sesuatu yang belum selesai, tetapi tidak boleh berhenti. Harus dikerjakan terus menerus sampai selesai. Elia sebagai hamba Allah terus melayani dengan setia dan banyak hal telah dikerjakannya menurut kehendak Allah. Memang ia pernah mengalami putus asa di tengah-tengah melayani sehingga dia lari ke gunung Horeb [1 Raja-Raja 19:1-8], yang akhirnya Elia berjumpa dengan Allah dan mendapatkan peneguhan kembali untuk tetap semangat melayani Tuhan [1 Raja-Raja 19:15,16]. Perkara melayani Tuhan adalah turut membangun jemaat yang terhisap dalam tubuh Kristus. Sebelum si pemilik bangunan itu menyatakan bahwa bangunan itu selesai, maka para pengerja harus tetap bekerja menyelesaikannya. Tidak ada kata berhenti. Siapa pemilik bangunan yang harus dikerjakan terus menerus? Siapakah pemilik Gereja sebagai tubuh Kristus yang harus dibangun terus menerus? Tentu saja Tuhan Yesus sendiri. Selama Tuhan Yesus belum menyatakan berhenti dari membangun, itu berarti para pengerja-Nya harus terus bekerja membangunnya. Saudara, selama dunia ini masih dipenuhi manusia maka membangun gereja-Nya tidak akan pernah berhenti karena gereja sebagai duta Kristus untuk penyelamatan dunia ini. Jangan pernah kita berkata, “Aku berhenti saja dari pelayanan. Aku sudah cukup lama terlibat dalam pelayanan.” Kita sudah diperlengkapi Tuhan dengan bakat, talenta dan karunia rohani, marilah kita kerjakan terus menerus untuk melayani Tuhan. Mungkin urusan pribadi kita terkesampingkan, tetapi tak mengapa karena Tuhan sendiri akan memperhitungkan urusan kita [ayat 58].
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Tidak Ada Yang Salah Dengan Apa Yang Tuhan Taruh
30 Juli '16
Menyelamlah Lebih Dalam
05 Agustus '16
Iman Yang Memberi Kemenangan
17 Agustus '16
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang