SEPEKAN TERAKHIR
  Rabu, 24 April 2019   -HARI INI-
  Selasa, 23 April 2019
  Senin, 22 April 2019
  Minggu, 21 April 2019
  Sabtu, 20 April 2019
  Jumat, 19 April 2019
  Kamis, 18 April 2019
POKOK RENUNGAN
Mari kita bawa terang Kristus kepada dunia melalui hidup benar sesuai Firman-Nya.
DITULIS OLEH
Sdr. Daud Sugiyarno
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Memuliakan Tuhan1
Memuliakan Tuhan1
Rabu, 24 April 2019
Memuliakan Tuhan1
Imamat 20:26

Sebuah penggalan lirik lagu yang berbunyi “kita dipilih dari segala bangsa, kita dipilih jadi umat-Nya, kita dipilih dan dikuduskan-Nya, membawa kemuliaan hanya bagi Dia”. Lirik dari lagu ini tegas mengatakan bahwa kita sebagai orang-orang yang menjadi umat Allah yang dikuduskanNya dari keadaan yang semula tidak kudus menjadi kudus oleh karena Dia, dan kita memiliki tugas yaitu untuk menjadi alat bagi kemuliaan-Nya. Tuhan memiliki tujuan bagi setiap kita, umat yang dikasihi-Nya.

Sebuah hal yang luar biasa bagi kita yang pada dasarnya adalah manusia yang berdosa. Namun, oleh karena kasih karunia Allah kita memperoleh pengampunan melalui pengorbanan Kristus di kayu salib. Karena Allah sendiri yang telah memilih kita untuk menjadi umat-Nya maka dari itu kita perlu meresponi panggilan tersebut dengan benar. Hidup benar dan kudus di hadapan Tuhan sebagai wujud dari rasa syukur kita kepada Allah dan juga sebagai wujud bakti kita kepada-Nya. Dalam kitab Imamat 20:26 dikatakan bahwa Tuhan adalah kudus dan kita juga haruslah kudus, karena Ia telah memisahkan dan memilih kita sebagai umat kepunyaan-Nya. Maka sangat jelas bagi kita untuk hidup kudus sesuai dengan Firman-Nya. Hidup kudus berarti menjaga hidup kita untuk tetap lurus berjalan dalam kebenaran Firman Tuhan da...selengkapnya »
Hampir setiap hari ketika kita berkendaraan berhenti di traffic light, ada satu atau beberapa orang yang minta-minta dengan berbagai cara. Tidak semua orang yang sedang berhenti memberikan uang kepada mereka. Bila diperhatikan maka tidak ada satupun yang memperhatikan mereka. Mungkin ada yang melihat hanya sepintas dan menganggap hal itu sesuatu yang biasa. Pemberian dilakukan dengan alasan kasihan atau merasa terganggu, tetapi tidak ada satupun yang memandang dengan perasaan belas kasihan. Sehingga para peminta-minta itu akan tetap pada penderitaan atau masalah mereka tanpa ada yang peduli karena yang mereka terima bukan belas kasihan tetapi sekedar pemberian. Yesus memanggil Matius pemungut cukai sebagai murid dan Dia duduk makan bersama para pemungut cukai. Hal ini sangat bertentangan dengan orang Farisi yang menganggap pemungut cukai sebagai orang berdosa. Mereka tidak mau bergaul dan bertegur sapa dengan pemungut cukai karena mereka hanya menjalankan hukum taurat secara lahiriah. Yesus mengingatkan bahwa yang berkenan kepada Allah adalah belas kasihan dan bukan persembahan atau perbuatan yang dilakukan hanya karena perintah agama. Yesus datang untuk memanggil orang berdosa dan untuk itu harus ada hati yang berbelas kasih kepada mereka. Banyak orang yang ada di sekitar kita bahkan yang dekat dengan kita belum menerima keselamatan. Bagaimana pandangan kita terhadap mereka ? Apakah kita hanya sekedar memberi bantuan bila mereka membutuhkan pertolongan ? Sebagai murid Kristus seyogyanya kita juga mempunyai rasa belas kasihan pada waktu kita melihat orang yang bermasalah baik secara jasmani maupun rohani. Kita harus mau bertegur sapa dan bergaul dengan mereka. Melalui pergaulan dengan mereka kita akan mengetahui permasalahan yang mereka hadapi. Di saat itulah kita tergerak dengan belas kasihan untuk menolong permasalahan mereka dan menuntun ke pada Sang Juru Selamat. Ingatlah Tuhan menghendaki belas kasihan dan bukan persembahan.
Kita sebagai orang percaya sering diperhadapkan dengan situasi dimana kita digerakkan untuk menyatakan tindakan belas kasihan kepada orang lain. Walaupun situasi kita pada saat itu tidak memungkinkan untuk melakukannya, karena keterbatasan kita. Namun sebagai orang percaya, tindakan berbelas kasihan harus di aplikasikan sebagai bukti bahwa kasih sejati sudah dianugerahkan Tuhan Yesus pada kita. Kondisi di atas pernah di alami Tuhan Yesus dengan para murid-Nya saat itu.Yesus dan murid-murid bermaksud untuk beristirahat sejenak melepas penat serta fokus untuk berdoa. Namun keinginan mereka terhambat oleh begitu banyaknya orang yang berbondong-bondong mengikuti Yesus; karena mengharapkan mujizat kesembuhan. Yang menarik dalam kisah ini, Yesus tidak merasa terganggu oleh kehadiran orang banyak tersebut. Justru sebaliknya, Yesus menunjukkan belas kasihan-Nya kepada mereka. Yang hendak diajarkan Yesus melalui peristiwa itu yaitu: Pertama,.Belas kasihan adalah pengorbanan. Tindakan pertama yang dilakukan Yesus ketika mendarat dan turun dari perahu adalah “melihat” kepada orang banyak. Artinya Yesus mengarahkan perhatian-Nya kepada orang banyak. Yesus mengorbankan rasa lelah dan rasa lapar-Nya [bd. Mrk.6:31], hanya untuk menunjukkan belas kasihan-Nya kepada orang banyak tersebut. Kedua,. Belas kasihan adalah penerimaan. Dalam keadaan letih dan lapar, Yesus menerima kedatangan orang banyak kepada-Nya. Walaupun sebenarnya ada alasan Yesus untuk menolak kedatangan mereka, oleh karena telah sepanjang hari Yesus melayani orang banyak tersebut. Yesus tidak mengusir orang banyak, justru menerima mereka dengan kasih-Nya. Hal ini berbanding terbalik dengan apa yang dilakukan murid-murid. Ketiga,.Belas kasihan adalah pengajaran mengenai kebenaran firman. Tindakan Yesus dalam hal menunjukkan belas kasihan adalah; selalu ada pengajaran mengenai kebenaran firman. Yesus bukan sekedar memberi perhatian kepada hal-hal materi atau fisik. Namun Yesus menekankan pengajaran kebenaran yang bermuara kepada keselamatan. Dan itulah pokok utama yang disampaikannya kepada orang banyak tersebut. Keempat, Belas kasihan adalah tindakan pemenuhan kebutuhan. Pada saat bersamaan, Yesus tidak hanya berdiam diri saja, namun Dia mengambil tindakan dalam memenuhi apa yang menjadi kebutuhan utama orang banyak pada saat itu. Yesus menggunakan yang sangat terbatas, yakni 5 roti dan 2 ikan. Dari yang sederhana tersebut, Yesus mampu memberikan makan kepada lima ribu orang laki-laki, belum termasuk anak-anak dan wanita bahkan sampai kenyang. Sesungguhnya Yesus sudah memberi hati belas kasihan yang diikat oleh kasih agape kepada setiap orang percaya [bd. Kol 3:12-14]. Dengan demikian, setiap orang percaya dimampukan untuk berkorban, menerima, mengajarkan kebenaran. Selain itu juga menyatakan tindakan dalam membantu seseorang yang membutuhkan belas kasihan. Mari tunjukkan belas kasihan kita kepada setiap rang yang membutuhkannya. Sebab segala sesuatu yang kita lakukan kepada orang yang memerlukan tersebut, sesungguhnya kita sedang melakukannya untuk Tuhan [bd. Mat. 25:31-46].
Siang hari bolong di perumahan padat di sudut kota Semarang. Udara terasa gerah karena mendung tebal menyelimuti langit namun tak kunjung turun hujan. Tiba-tiba teriakan keras membahana memecah suasana: “Kurang ajar! Kecil-kecil sudah belajar jadi maling! Awas kalau ketemu aku lagi tak mutilasi kamu semua!” Seorang pemuda berkulit pekat mengacungkan tangan dengan wajah kesetanan. Matanya melotot ke arah anak-anak yang berlari berhamburan. “Kak Benay, kami hanya mau mengambil layangan, bukannya mau mencuri buah ceresen!” teriak anak-anak itu dari kejauhan. Belum reda amarah Benay. Tiba-tiba sepasang tangan renta menyentuh lembut pundaknya dari belakang. “Sabar Ben, sabar. Sebut nama Tuhan”, kata Mbah Wanidy si pemilik tangan renta itu, “Aku tidak mau kamu jadi psikopat.” Benay membalikkan badan. “Psikopat? Apa itu Mbah?”, tanya Benay. “Hmm...masak Nak Benay tidak tahu? Psikopat itu orang yang anti-sosial. Ia sangat kejam. Tidak mengenal rasa bersalah dan tidak mempunyai belas kasihan. Jika ia membunuh orang, serasa seperti membunuh nyamuk saja.” “Berarti psikopat itu gangguan jiwa? Tapi saya tidak gila seperti itu lho, Mbah?” “Ya, tapi ancaman mutilasi tadi membuat saya merinding lho. Bisa jadi itu bibit psikopat.” Wajah Benay memerah karena malu. “Tidak Mbah Wan, saya hanya terbawa emosi kok.” “Ya namanya anak muda, Mbah bisa memaklumi. Mbah berharap Nak Ben punya welas asih. Jangan sembarang mengeluarkan ancaman. Apalagi pada anak-anak yang belum tentu bersalah.” Jemaat yang terkasih. Kisah di atas memberi gambaran tentang sikap mengancam dan membenci yang bertentangan dengan sikap welas asih. Sikap mengancam dan membenci dibentuk ketika seseorang tidak menjadikan manusia sebagai orientasi hidupnya. Misalnya, orang Farisi yang lebih mementingkan aturan Sabat daripada murid-murid Yesus yang kelaparan. Sikap orang Farisi ini bertolak-belakang dengan pendirian Tuhan Yesus. Bagi Tuhan, manusia adalah tujuan dan orientasi pelayanan-Nya. Tuhan tetap menghargai peraturan agamawi. Namun Dia tidak akan pernah menempatkannya di atas kemanusiaan. Demikian juga sikap-Nyaterhadap pengkotak-kotakan manusia berdasarkan pangkat-derajat dan harta milik. Tuhan Yesus tidak silau dengan semuanya itu. Dia tetap fokus untuk memuliakan manusia. Oleh sebab itu hati-Nya begitu dipenuhi denganbelas kasih pada setiap orang. Terutama pada orang yang tidak dimuliakan oleh masyarakat karena miskin, cacat dan berdosa. Meskipun dengan bersikap demikian, Dia harus menerima cibiran sebagai sahabat orang berdosa. Jemaat yang dikasihi Tuhan. Tuhan menghendaki kita mempunyai sikap berbelas kasihan terhadap sesama manusia.Dalam pada itu hargailah sesama kita manusia sebagaimana yang diteladankan dan diajarkan oleh Tuhan Yesus. Mohonlah hikmat pada Tuhan agar kita diberi kamampuan untuk mengerti bagaimana mentaati peraturan agamawi di satu sisi. Dan di sisi lain memuliakan manusia di atas semua peraturan itu. Terpujilah Tuhan!
Manakah yang lebih mudah? Memberi atau menerima?. Peristiwa perubahan hidup jemaat mula-mula setelah mereka hidup oleh Roh Kudus, memberikan contoh cara hidup yang luar biasa. Cara hidup “tidak eman-eman” jemaat mula-mula untuk memberi tumpangan kepada yang membutuhkan telah ditunjukan oleh mereka. Mereka menjual milik mereka dan menyerah kepada para rasul dan di bagikan kepada yang membutuhkan. Mereka memberi tapi tidak pernah kekurangan [ayat 34]. Orang memberi/berbagi hidupnya tidak akan kekurangan. Justru ketika kita berbagi hidup maka kita sedang melakukan perintah Yesus. Dalam Yohanes 13: 34-35 Satu-satunya alasan yang paling kuat kenapa saudara dan saya saling mengasihi adalah karena kita semua murid Kristus. Kematian dan kebangkitan Kristus lah yang seharusnya mendorong kita untuk mengasihi Yesus dengan mengasihi apa yang Yesus kasihi, yaitu sesama saudara seiman dan orang lain. Ketika kita telah merasakan anugerah keselamatan Allah yang begitu luar biasa, maka setiap kita akan terus mempraktekkan kasih dalam kehidupan ini. Kendala dan pemikiran yang menjadi penghambat kita untuk berbagi adalah, Pertama, Tidak percaya / mencurigai orang. Modus penipuan dengan memanfaatkan belas kasihan, akan membuat kita mulai takut dan ragu untuk hidup berbagi. kita mulai curiga dan takut dimanfaatkan, dan itu membuat kita untuk sulit berbagi kepada orang lain. Kedua, Egois. Kendala terbesar dari hidup berbagi adalah perasaan egois yang ada dalam diri kita. Ketika hidup kita hanya berpusat pada diri sendiri. Kita mau berbagi ketika itu menguntungkan diri sendiri. Alkitab juga memberikan 2 contoh yang kontras tentang orang yang berbagi: yang pertama adalah Barnabas dan yang kedua Ananias dan Safira. Contoh ini menyadarkan kita bahwa ada banyak jemaat yang membutuhkan bantuan dan pertolongan kita, dan marilah kita hidup berbagi. Dan kalau kita hidup berbagi marilah dengan ketulusan hati dan bukan dengan paksaan. Bukan juga demi harga diri dan supaya tidak malu, tetapi karena itu adalah panggilan kita sebagai murid Yesus. Dengan berbagi, kita telah melakukan Firman Tuhan untuk mengasihi sesama seperti kita mengasihi diri kita sendiri. Seperti Yesus hidup penuh belas kasih, demikian juga hendaknya kita meneladani Yesus di setiap hidup kita. Dampak dari hidup berbagi maka Pemberitaan Injil bisa semakin maju dan banyak orang kemudian menjadi percaya. Jika berbagi dengan sesama jemaat, akan ada kesatuan dan kesehatian di antara Jemaat. Bahkan mereka hidup dalam kasih karunia yang berlimpah-limpah. Dan dari kesaksian ini banyak orang menjadi percaya dan mengikut Yesus. Bukankah itu yang seharusnya menjadi kerinduan kita? Yaitu membawa orang kepada Kristus ?
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Dipenuhi Belas Kasihan1
13 April '19
Berubahlah
16 April '19
Mengalami, Bertumbuh dan Berdampak
28 Maret '19
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang