SEPEKAN TERAKHIR
  Jumat, 24 Maret 2017   -HARI INI-
  Kamis, 23 Maret 2017
  Rabu, 22 Maret 2017
  Selasa, 21 Maret 2017
  Senin, 20 Maret 2017
  Minggu, 19 Maret 2017
  Sabtu, 18 Maret 2017
POKOK RENUNGAN
Keinginan bebas tanpa batas akan hanya membawa kita kepada perbudakan.
DITULIS OLEH
Pdt. Denny D. Kristianto
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Bebas
Bebas
Jumat, 24 Maret 2017
Bebas
Kejadian 3:1-19

Setiap orang rindu menikmati kebebasan. Misalnya bebas beribadah menurut keyakinannya, bebas berpendapat secara bertanggung-jawab, bebas menentukan pilihan dalam PEMILU, dan bebas memilih profesi. Semua itu adalah contoh-contoh kebebasan yang kita nikmati dan berharap dapat tetap terpelihara dengan baik dalam masyarakat bangsa kita. Namun semakin tua dunia ini, tuntutan akan kebebasan yang melebihi batas kewajaran pun kian tinggi. Misalnya sex bebas dalam berbagai bentuknya. Mulai dari sex sebelum nikah, hidup bersama tanpa ikatan pernikahan [kumpul kebo], hingga bebas berhubungan intim dengan sesama jenis kelamin. Kebebasan macam ini meski...selengkapnya »
Yesus telah menunjukkan perhatian dan pemeliharaan-Nya bagi para murid dengan menyiapkan hidangan pagi bagi mereka. Namun demikian masih ada hal lain yang penting untuk dikerjakan buat murid-murid-Nya, terutama untuk Petrus. Yakni percakapan dalam bentuk pertanyaan yang sama hingga 3 kali oleh Tuhan Yesus dengan tekanan makna yang berbeda [ayat 15-17]. Pertanyaan tersebut bukan hanya menyentuh hati nurani Petrus yang telah menyangkal Dia hingga 3 kali [Yohanes 18:17, 26, 27], tetapi sekaligus menuntun Petrus untuk menyadari bahwa kasih dan setianya kepada Tuhan Yesus bukan melalui kekuatan kodrat dirinya. Karena 3 tahun sebelumnya, Yesus pernah berkata, ”Ikutlah Aku...” [Matius 4:19]. Dan Petrus mengikuti-Nya tanpa keraguan. Kekaguman terhadap Yesus begitu menguasainya dan nampaknya ia melakukan hal itu dengan kekuatannya sendiri. Kemudian sampai di titik ia menyangkal Yesus dan hancurlah hatinya oleh perasaan bersalah. Dalam keadaannya yang demikian, ia akhirnya siap menerima semua yang diberikan Tuhan Yesus yang bangkit baginya. Dia menghembusi mereka dan berkata, ”Terimalah Roh Kudus.” [Yohanes 20:22]. Panggilan “ikutlah Aku” yang pertama adalah suatu ajakan untuk mengikut secara lahiriah. Sedang panggilan yang kedua, Yesus meminta pengorbanan dan penyerahan diri dari dalam batin. Kini tidak ada yang lain di hadapan Petrus selain Tuhan Yesus Kristus. Apapun perubahan yang Allah lakukan dalam diri kita jangan pernah bersandar pada perubahan-perubahan itu, tetapi bangunlah kekuatan hanya di dalam satu pribadi, yaitu Yesus Kristus dan Roh Kudus yang Dia berikan kepada kita. Kadang janji dan tekad kita berakhir pada penyangkalan dan ketidaktaatan karena kita tidak memiliki kekuatan untuk mewujudkannya Namun sebaliknya bukan hanya secara mental, tetapi sepenuhnya kita dapat “menerima Roh Kudus” yang berarti bersedia tunduk pada otoritas Ilahi. Maka hanya ada satu pribadi yang mengatur jalan hidup kita, yaitu Tuhan Yesus Kristus.
Kisah heroik Daud melawan Goliat sangat melegenda. Bukan hanya kaum Kristiani saja yang mengetahui kisah ini tetapi juga orang “di luar sana” tahu bahwa pertempuran itu sangat tidak imbang. Daud yang imut tanpa perlengkapan perang melawan Goliat si raksasa yang berpakaian perang lengkap. Daud menghadapi Goliat tanpa rasa takut sedikitpun. Mengapa ??? Daud sudah mengalami secara pribadi pertolongan Tuhan saat dia bekerja menggembalakan kambing domba ayahnya. Daud merasa tersinggung ketika mendengar Goliat yang berteriak-teriak mencemooh Allah Israel sehingga dengan penuh keyakinan dikatakannya kepada Raja Saul bahwa dia akan mengalahkan Goliat sama seperti dia mengalahkan singa dan beruang saat dia melindungi ternak ayahnya [ayat 34-36]. Daud hanya membawa tongkat, lima batu kali dalam kantongnya dan umban di tangannya sehingga Goliat marah, mengutuki Daud karena merasa dianggap seekor anjing [ayat 43]. Goliat yang besar mendatangi Daud dengan pedang, tombak dan lembing sedangkan Daud yang imut mendatangi Goliat dengan nama TUHAN [ayat 45]. Dengan hikmat dan pertolongan Tuhan, Daud dapat melihat peluang yang ada, yaitu lubang ketopong yang dipakai Goliat tepat di dahinya [ayat 49]. Mungkin saat ini kita sedang menghadapi “Goliat” dalam kehidupan keseharian kita, dalam pekerjaan, problema rumah tangga bahkan mungkin dalam pelayanan. Jangan takut, jangan putus asa !! Mari kita ingat pertolongan Tuhan yang telah kita alami sama seperti Daud disertai Tuhan sehingga bisa membaca peluang yang ada dan hanya dengan batu kali licin yang kecil dapat mengalahkan “Goliat” yang mungkin sangat menakutkan !!! Amin.
Tulisan “HARAP TENANG” pada waktu yang lalu banyak kita jumpai di kantor-kantor, di ruang tunggu praktek dokter dan di rumah sakit. Tentunya tulisan itu dipasang sebagai public notice dengan harapan di dalam tenang ada keteduhan, ada kesejukan hati. Dan itu akan memberi kenyamanan kerja, kenyamanan pasien yang menunggu panggilan dokter untuk diperiksa. Sekarang tulisan itu sulit kita temukan. Dalam gedung gereja kita yang lama, di kiri kanan mimbar dipasang tulisan: “DIAM & BERDOA, TUHAN HADIR”. Tulisan itu cukup memberkati jemaat, mereka masuk ruang ibadah, duduk, diam dan berdoa menikmati kehadiran Tuhan sambil menunggu kebaktian dimulai. Bahkan di hari-hari biasa, pagi hari, tidak ada kebaktian, ada jemaat yang datang, duduk sendiri di depan mimbar berdiam diri berdoa. Entah apa yang mereka sampaikan kepada Tuhan tidak ada orang yang yang tahu tapi saya yakin Tuhan hadir menjamah mereka. Firman Tuhan [1 Petrus 4:7] menasihatkan “kuasailah diri, jadilah tenang supaya kamu dapat berdoa”. Daud adalah manusia yang sarat dengan masalah. Lebih-lebih sejak ia diurapi menjadi raja menggantikan Saul. Karena iri hati Saul, Daud ada dalam kejaran pedang, diburu, terancam bahaya maut, kesesakan dan ketakutan bertubi-tubi datang dalam hidupnya. Daud mendapatkan ketenangan sewaktu ia datang pada Allah yang hidup mencurahkan segala isi hatinya. Masalah datang setiap saat dalam hidup kita tanpa diundang. Tetap saja rasa panik dan bingung lebih cepat menyergap kita daripada ide cemerlang untuk mengatasi masalah itu. Semua itu hal yang wajar dan manusiawi tapi perlu kita ingat bahwa kita punya tempat yang tepat untuk mencurahkan semua gundah gulana kegalauan hati kita. Harap tenang, hampiri Allah, sapalah Dia dalam doa. Allah mengerti apa yang sedang terjadi. Dia sudah mempersiapkan jalan keluar bagi kita. Datang, sujud di hadapan-Nya dan berdoa. Mintalah dan terimalah kelegaan dari-Nya.
Dalam perikop ini rasul Paulus menyampaikan suatu prinsip supaya orang percaya tidak melakukan sesuatu yang dapat menyebabkan saudara seiman [yang masih belum dewasa rohani] menjadi bimbang atau menimbulkan syak dalam hati nuraninya. Diberi contoh dalam hal makan makanan yang disediakan oleh orang yang belum percaya. Prinsip tersebut adalah “segala sesuatu yang kita lakukan meskipun diperbolehkan [tidak melanggar hukum], tetapi belum tentu berguna dan membangun iman saudara seiman. Berarti kita harus dapat menahan diri demi kebaikan orang lain [Filipi 2:4]. Secara konkrit disimpulkan, “Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah” [ayat 31]. Melakukan sesuatu untuk kemuliaan Allah bukan sekedar menyanyi, memuji dan menyembah dengan lagu-lagu yang bersyair pujian dan penyembahan di dalam kebaktian. Tetapi harus diekspresikan dalam sikap dan perbuatan yang memberi nilai tinggi/menghormati Tuhan dalam gerak kehidupan sehari-hari. Sukses kehidupan bagi seorang anak Tuhan adalah bila telah berusaha mempraktekkan prinsip tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Umumnya orang mengartikan sukses kehidupan berupa keberhasilan dalam studi, pekerjaan, karir, bisnis, rumah tangga. Untuk mencapai semua itu bisa mempertaruhkan segenap hidup tanpa batas. Bahkan sampai level tertentu terbelenggu oleh kuasa dunia, kuasa kegelapan [materialism, konsumerisme] dan melakukan praktek kehidupan yang merugikan orang lain. Di lingkungan komunitas kristen kita kenal dengan istilah orang kristen duniawi, tidak setia kepada Tuhan karena mengabdi kepada Mamon [Yakobus 4:4]. Kita harus waspada supaya tidak membiarkan diri terbelenggu oleh pola pikir menjadikan berbagai fasilitas duniawi menjadi sumber kebahagiaan dan kehormatan diri.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Balok Dan Selumbar
03 Maret '17
Kegagalan Yang Berbuah Manis
13 Maret '17
Pertemuan Yang Membawa Perubahan
07 Maret '17
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang