SEPEKAN TERAKHIR
  Minggu, 22 Januari 2017   -HARI INI-
  Sabtu, 21 Januari 2017
  Jumat, 20 Januari 2017
  Kamis, 19 Januari 2017
  Rabu, 18 Januari 2017
  Selasa, 17 Januari 2017
  Senin, 16 Januari 2017
POKOK RENUNGAN
Lalu Malaikat TUHAN menampakkan diri kepadanya di dalam nyala api yang keluar dari semak duri. Lalu ia melihat, dan tampaklah: semak duri itu menyala, tetapi tidak dimakan api.
DITULIS OLEH
Pdt. Goenawan Susanto
Gembala Jemaat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Mengalami Tuhan �2
Mengalami Tuhan �2
Minggu, 22 Januari 2017
Mengalami Tuhan �2
Keluaran 3:1-6
Mengalami Tuhan �2

Keluaran 3:1-6
Lalu Malaikat TUHAN menampakkan diri kepadanya di dalam nyala api yang keluar dari semak duri. Lalu ia melihat, dan tampaklah: semak duri itu menyala, tetapi tidak dimakan api. [ayat 2]

Ini adalah kisah lainnya mengenai orang yang mengalami Tuhan, yaitu Musa. Musa mendapat pengalaman berjumpa dengan Tuhan ketika dia sedang menggembalakan kambing...selengkapnya »
Pak Soecipto memiliki sebidang tanah seluas 200 m2 yang bakal dibangun rumah tinggal untuk keluarganya. Dari hasil tabungan selama lima tahun, pak Soecipto telah menabung sejumlah tiga ratus juta rupiah. Karena pak Soecipto bukan seorang insinyur tetapi seorang karyawan biasa, maka pak Soecipto minta tolong pak Gatot, teman sekolah SMA yang sekarang menjadi seorang pemborong pembangunan rumah tinggal. Pemikiran pak Soecipto sederhana sekali. Kepada pak Gatot, dia bertanya, “Apakah dengan uang tiga ratus juta rupiah sudah cukup untuk mendirikan rumah tinggal di atas tanah 200 m2?” Pak Soecipto tidak mau berspekulasi bahwa dengan uang yang ada sudah cukup untuk membangun sebuah rumah tinggal. Maka pak Gatot membantu membuat maket gambar sekaligus biaya yang diperlukan sebelum rumah dibangun. Renungan hari ini berbicara tentang perjalanan Tuhan Yesus menuju salib Golgota untuk menebus dosa manusia. Hal ini disampaikan kepada para murid dan semua orang yang sedang mengikuti perjalanan-Nya menuju kota Yerusalem sebelum DIA di salibkan. Tuhan Yesus mengatakan bahwa mengikuti DIA tidak berarti sedang berjalan menuju kepada kekuasaan dan kemuliaan dunia ini, tetapi hendaknya menyadari bahwa mereka harus siap untuk setia kepada-Nya meskipun harus kehilangan hal-hal yang paling berharga dan disayangi. Maka mereka harus menghitung dengan cermat berapa ‘ongkos’ yang harus dibayar agar tidak menyesal di kemudian hari. Untuk mempertegas pernyataannya, Tuhan Yesus mengumpamakan mereka yang ingin menjadi murid-Nya itu seperti seorang yang harus siap meninggalkan orang yang paling dikasihi dalam keluarganya; seperti seorang yang akan membangun menara jaga di kebun anggurnya dan juga seperti seorang raja yang akan berperang melawan Kerajaan lain yang menjadi musuhnya. Dari Lukas 14:33 kita dapati dua pelajaran penting , yaitu: pertama, Bagi seorang Kristen apabila ingin menjadi murid Tuhan Yesus yang sejati harus memperhitungkan dengan cermat ‘ongkos’ yang harus mereka bayar, yaitu bersedia menyangkal diri dan memikul salib dengan setia. Sehingga harus siap melepaskan segala sesuatu yang paling mereka cintai di dunia ini. Kedua, Bagi seorang yang tidak siap membayar ‘ongkos’nya, maka mereka tidak layak menjadi murid Kristus yang sejati. Tentu saja upah yang bakal mereka terima di dalam kekekalan nanti akan berbeda dengan mereka yang mau membayar harga dan menjadi murid Kristus yang sejati. Dari renungan hari ini kita semua ditantang ulang untuk mengambil keputusan sebelum memasuki proses lebih lanjut dalam mempercayai Tuhan Yesus di dunia ini. Apakah kita siap membayar ‘ongkos’ dan menjadi murid Kristus sejati atau kita hanya mau menjadi pengikut saja tanpa harus menjadi murid-Nya yang sejati.
Sewaktu masih kecil, hal yang paling menakutkan bagi saya adalah kegelapan. Di mana saat itu kami sedang berkumpul di ruang keluarga di malam hari, tiba-tiba listrik mati dan lampu menjadi padam. Akibatnya seluruh ruangan tersebut menjadi gelap. Dalam keadaan yang gelap semua orang dalam ruangan tersebut tidak dapat melihat satu dengan yang lain. Kami hanya mampu mendengar suara satu sama lain. Mau berpindah ke tempat yang lain pun akan kesulitan. Harus meraba, harus bergeser dengan pelan supaya tidak menabrak benda-benda yang ada di sekitarnya. Sehingga menjadikan sangat sulit untuk melakukan aktivitas. Bahkan untuk berjalan pun butuh penerangan. Yesus menyatakan diri-Nya sebagai terang dunia, “Akulah terang dunia”. Sebagai terang dunia, Ia menyinari setiap orang yang mau mengikuti-Nya supaya tidak berjalan dalam kegelapan. Terang merupakan suatu sinar yang dapat membuat seseorang dapat berjalan dengan baik dan benar. Dengan terang Kristus, setiap orang mampu berjalan tanpa tersandung. Yesus Kristus mengubah kegelapan yang dialami oleh manusia berdosa menjadi sebuah terang yang membawa manusia melihat betapa mulia-Nya Tuhan Sang Terang itu. Kristus telah menyingkapkan segala selubung yang menutupi mata dan hati manusia sehingga menjadi terbuka. Oleh karenanya manusia dapat melihat terang yang sesungguhnya. Manusia tidak lagi meraba ketika berjalan, namun dengan jelas manusia melihat jalan kebenaran oleh karena terang Kristus yang terpancar. Jemaat yang terkasih, maukah kita berjalan dalam terang Kristus? Di awal tahun ini mari kita mengambil langkah pasti bersama dengan Tuhan karena hanya di dalam Tuhan Yesus Kristus ada terang yang menerangi seluruh kehidupan kita, sehingga kita mampu berjalan di dalam terang-Nya. Kegelapan di tahun kemarin mari kita tinggalkan, dan mari masuki tahun yang penuh dengan rahmat serta kasih Tuhan dalam terang-Nya yang ajaib. Jikalau kita sudah memasuki terang Tuhan, bersama-Nya kita mampu melihat jalan yang benar.
Nubuatan Yesaya 9:5, “Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita...”, telah tergenapi ketika bayi Yesus lahir di kandang Betlehem. Para malaikat memuji, para gembala dan para majus datang sujud dan menyembah Dia. Nubuatan Zakaria 9:9, “...lihat rajamu datang kepadamu, ia adil dan jaya, ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda.” Juga telah tergenapi ketika orang banyak mengelu-elukan Yesus yang menaiki seekor keledai muda itu memasuki kota Yerusalem waktu itu pelayanan Yesus di dunia hampir selesai sebelum Ia disalibkan. Orang-orang itu mengiringi Yesus dengan kegembiraan yang besar, bersorak sorai memuji Yesus: “Hosana... diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, hosana di tempat yang maha tinggi.” Apa artinya? Hosana berasal dari bahasa Ibrani yang berarti ‘berilah kiranya keselamatan, kami berdosa’. Doa permohonan ini kemudian menjadi ungkapan sukacita kemenangan [Mazmur 118:25-26], itulah sebabnya orang-orang bersorak sorai menyambut Yesus. Mereka memberikan pujian kepada Yesus yang telah melakukan banyak mujizat, memberikan penghormatan kepada Yesus sebagai Allah yang maha tinggi dan Raja yang akan membebaskan dan memulihkan keadaan mereka. Orang yang datang kepada-Nya akan diberkati, memperoleh keselamatan, damai sejahtera abadi. Sayangnya di tengah-tengah sukacita itu, Yesus menangisi kota Yerusalem karena sesungguhnya mereka tidak mengerti bahwa Yesus yang mereka elu-elukan itu tidak lama lagi akan mereka salibkan [Lukas 19: 41-44]. Bagaimanakah sikap hati kita ketika kita merayakan natal tahun ini sementara kita juga sedang menantikan penggenapan janji “Natal kedatangan Kristus yang kedua?” Masih kuatkah sorak sorai “Hosana” bergema dalam hidup kita. Di saat kita serukan “Hosana” pandanglah Yesus, apa yang kita temukan di wajahNya? Adakah senyum bahagia di wajah kasih-Nya ataukah tangisan duka seperti Dia menangisi kota Yerusalem waktu itu?
Ada seorang petani yang sukses mengelola perkebunan jagungnya. Si petani bukan hanya mampu menghasilkan butir-butir jagung dengan kualitas yang prima, tetapi hasil panennya pun sangat berlimpah. Ia telah beberapa kali memenangkan penghargaan. Termasuk penghargaan tertinggi dari pemerintah diraihnya karena dinilai sebagai pelopor kemajuan perekonomian masyarakat petani setempat. Keberhasilan si petani ternyata bukan hanya untuk dirinya dan keluarganya saja, tetapi juga untuk petani-petani tetangganya. Dia seringkali terlihat membagi-bagikan bibit jagung berkualitasnya, mengajari cara bercocok tanam yang baik, sehingga hampir seluruh petani di daerah itu hidup sejahtera dan perekonomian pemerintah daerah pun juga meningkat tajam. Suatu hari datang wartawan bertanya, “Apa rahasia kesuksesan Bapak?” “Oh, yang saya lakukan sederhana saja. Saya hanya membagi-bagikan bibit jagung unggul kepada tetangga-tetangga di sekitar perkebunan,” jelas si petani sambil tersenyum simpul. “Mengapa Bapak melakukan hal tersebut? Apakah Bapak tidak takut jika para tetangga menjadi pesaing Bapak, bahkan mungkin akan merebut penghargaan yang diberikan pemerintah dari tangan Bapak?” tanya si wartawan penasaran. “Saya ini bekerja bukan bertujuan untuk mendapat penghargaan. Yang saya kerjakan adalah mengelola alam dengan sebaik-baiknya, yakni terus menerus berusaha untuk menghasilkan bibit jagung yang unggulan. Yaitu jagung yang warna bijinya segar, manis, besar, sehat, dan panennya pun juga berlimpah,’ papar petani itu. ’Ingat pelajaran di SD dulu! Sesuai hukum alam, pembuahan terjadi pada tanaman bila putik bertemu dengan serbuk sari melalui perantara angin. Itu artinya sebagus apapun tanaman jagung di kebun kita, bila serbuk sari dari ladang tetangga bukan yang berkualitas baik, maka jagung yang dihasilkan pasti juga tidak berkualitas baik. Nah, sederhana kan? Untuk menghasilkan hasil jagung yang baik, saya harus menolong tetangga saya dengan memberi mereka bibit jagung yang baik pula. Dengan menolong tetangga, membantu mereka berarti juga menolong diri sendiri.” Memasuki tahun yang baru ini, mari kita membuka lembaran baru dengan bekerjasama membangun gereja dan tempat di mana kita berkomunitas. Kita yang kuat wajib menanggung yang lemah dan yang lemah menghargai yang kuat tanpa kritikan dan sebagainya. Kita maju bersama untuk melakukan amanat Tuhan di tahun yang baru ini dan berkembang dalam komunitas sehat yang dan saling menguatkan dalam iman. Bukan menjatuhkan ataupun mencari kesalahan. Namun kita bergandengan tangan untuk bersama-sama dewasa dan bertumbuh ke arah Kristus dengan mengalami kuasa, kebenaran dan kasih Kristus dalam kita berjemaat. Kiranya di tahun yang baru ini kita melihat kehidupan yang semakin luar biasa dari jemaat, keluarga, dan komunitas kita. Selamat menebarkan kebaikan dan saling bertumbuh dalam kebenaran-Nya. Selagi kita dipercaya untuk melangkah di hari-hari kita, mari kita saling membangun dan saling menguatkan sebagai tubuh Kristus dan membangun gereja Tuhan yang dipercayakan kepada kita untuk tumbuh bersama dalam komunitas kerajaan Allah.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Siap Sedia Selalu !
13 Januari '17
Menjadi dan Menjadikan Murid Kristus
08 Januari '17
Persiapan Maksimal
27 Desember '16
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang