SEPEKAN TERAKHIR
  Rabu, 22 November 2017   -HARI INI-
  Selasa, 21 November 2017
  Senin, 20 November 2017
  Minggu, 19 November 2017
  Sabtu, 18 November 2017
  Jumat, 17 November 2017
  Kamis, 16 November 2017
POKOK RENUNGAN
Apakah kita bertekad memaksakan kemauan kita sendiri atau memutuskan untuk menyatakan diri dengan-Nya dalam hal kepedulian terhadap orang lain melalui doa-doa kita?
DITULIS OLEH
Sdr. Hendy Agus Wibowo
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Doa Bagi Orang Lain
Doa Bagi Orang Lain
Rabu, 22 November 2017
Doa Bagi Orang Lain
Ibrani 10:19

Waspadalah terhadap pemikiran bahwa doa berarti membawa simpati dan kepedulian pribadi kita ke dalam hadirat Allah lalu menuntut supaya Dia melakukan apapun yang kita minta. Kemampuan kita menghampiri Allah bergantung sepenuhnya Kepada Yesus Kristus karena Dia yang telah menanggung dosa demi menggantikan kita. “Oleh darah Yesus kita sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus.”

Kedegilan secara rohani adalah halangan paling utama terhadap doa, karena didasarkan pada “rasa” simpatik akan hal-hal yang kita lihat di dalam diri kita dan orang lain yang menurut kita tidak membutuhkan penebusan. Kita mempunyai gagasan bahwa ada hal-hal baik dan mulia di dalam diri kita yang tidak memerlukan karya penebusan salib Kristus. Seringkali kita merasa siap dengan gagasan kita sendiri dan doa kita hanya menjadi pemujaan terhadap rasa simpatik kita sendiri. Kita berdoa, namun kita tidak menyelaraskan diri kita dengan minat dan kepedulian Allah terhadap orang lain. Ketika kita menyadari bahwa Tuhan Yesus Kristus menanggung dosa ini berarti terjadi perubahan menyeluruh terhadap semua simpati dan minat kita....selengkapnya »
Seorang tukang kebun mencoba mengadakan penelitian sederhana. Ia menanam dua tanaman yang sama pada lahan yang sama. Tanaman pertama disirami secara rutin tiap pagi dan sore, sedangkan tanaman kedua disirami dua hari sekali. Ketika tanaman itu bertumbuh cukup besar, tiba waktunya untuk menguji kekuatan akar tanaman tersebut. Perbedaannya cukup mencolok; dibutuhkan waktu kurang dari dua menit untuk mencabut akar dari tanaman pertama. Tanaman kedua, dibutuhkan waktu lebih lama, yaitu empat menit untuk bisa mencabutnya! Mengapa hal itu bisa terjadi? Tanaman pertama dimanjakan dengan air yang ia dapat dengan mudah, sehingga akarnya tidak berusaha mencari air ke tanah yang lebih dalam. Tanaman kedua karena mendapat air yang lebih sedikit, maka mau tidak mau akarnya mencari ke sumber air, sehingga didapati akarnya jauh lebih kuat karena masuk lebih dalam ke tanah. Saudara-saudara, cara TUHAN mendidik kita tak jauh beda dengan ilustrasi tersebut. Bayangkanlah, jika TUHAN memanjakan kita dengan mengabulkan semua doa yang kita minta, atau tidak pernah mengijinkan penderitaan dan masalah hidup. Maka hal tersebut membuat kita menjadi orang yang lemah, akar iman kita tidak kuat. Ketika permasalahan terjadi, dengan mudahnya kehidupan kita akan tumbang. TUHAN sangat mengasihi kita, itu sebabnya DIA selalu mendewasakan dan melatih akar iman kita. Tuhan mengijinkan penderitaan, masalah, tekanan hidup atau keadaan yang tidak menyenangkan, dengan harapan bahwa akar iman kita terus mencari Sumber yang sejati.
Dalam ayat ini, kelegaan sering diartikan kelepasan dari berbagai persoalan hidup dan terpenuhinya kebutuhan jasmani. Kelegaan atau perhentian sejati pada dasarnya akan dialami bila kita tidak dipenuhi pikiran kuatir. Biasanya kekuatiran berkaitan dengan kebutuhan jasmani, harta kekayaan dan berbagai fasilitas duniawi yang diharapkan dapat melengkapi dan membahagiakan hidup. Kebutuhan jasmani sebetulnya menjadi fokus utama orang yang tidak mengenal Tuhan. Akibatnya orang akan terus bergerak mencari sesuatu yang dianggap dapat memberi kelegaan. Ibarat kapal yang terus berlayar mencari pelabuhan, padahal bagi orang percaya, hanya ada satu pelabuhan yang memberi kelegaan, yaitu Tuhan Yesus. Mereka dikatakan sebagai orang yang letih lesu dan berbeban berat karena banyaknya keinginan yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Banyak orang yang datang kepada Tuhan hanya sekedar memperoleh jalan keluar atas problem kebutuhan jasmani. Sebetulnya orang percaya dipanggil untuk mengalami perhentian di dalam Tuhan, artinya merasa cukup pada saat dirinya menerima anugerah keselamatan. Keselamatan di dalam Tuhan Yesus bertujuan supaya kita bisa dikembalikan kepada rancangan semula Bapa dan dipersiapkan masuk Kerajaan-Nya [Ibrani 11:16]. Kelegaan dan ketenangan jiwa sejati akan dialami bila: 1. Pikiran tidak dipenuhi keinginan pribadi yang tidak sesuai dengan pikiran/kehendak Tuhan [Yakobus 1:14-15]. 2. Kita memahami dan mempraktekkan Kebenaran Injil yang murni [Yesaya 32:17, Yohanes 8:31-32]. 3. Memiliki rasa cukup, tidak berkeinginan memiliki fasilitas duniawi untuk mendapatkan nilai diri, prestise, ketenaran [1 Timotius 6:6-8]. 4. Memiliki karakter mulia melalui proses pemuridan. Mustahil mengalami kelegaan dan ketenangan jiwa bila kita egois, iri hati, suka marah-marah, penuh curiga, pendendam.
Di dalam kehidupan, mulai dari keluarga, lingkungan masyarakat, dan dunia pendidikan tentu memiliki sebuah peraturan. Adanya sebuah peraturan bukan untuk dilanggar atau diabaikan, tetapi bertujuan untuk mendisiplin semua yang termasuk bagian di dalamnya. Misalnya, ketika saya berada di bangku Sekolah Dasar, orangtua selalu memberikan peraturan jam belajar dari jam 6 sampai jam 8. Peraturan tersebut dibuat supaya anak-anaknya memiliki waktu khusus mempersiapkan pelajaran hari berikutnya. Kemudian ketika saya berada di perkuliahan, kampus memberikan peraturan jam belajar dari jam 7 sampai jam 10 malam. Namun, peraturan itu tidak dilaksanakan sepenuhnya. Peraturan tersebut dilakukan hanya sekedar formalitas. Keluar dari kamar membawa buku, namun tidak belajar. Tetapi di akhir semester, hampir semua mahasiswa menaati peraturan tersebut untuk mengejar membuat tugas akhir dan sebagainya. Sebagai orang percaya, Tuhan juga menetapkan sebuah peraturan yang tertulis dalam Alkitab. Salah satunya tertulis dalam kitab Mazmur 119. Dalam ayat ini menekankan tentang ketaatan dan kesetiaan untuk terus mengikuti kehendak Tuhan. Ketaatan untuk hidup dalam terang firman Tuhan dan mencari Tuhan dengan segenap hati. Pemazmur memberikan pernyataan yang harus dilakukan dengan iman sebagai dasar kehidupan. Karena dengan iman yang teguh, pemazmur dapat melewati kehidupan kerohaniannya dan melaksanakan setiap peraturan dan ketetapan Tuhan. Tujuannya adalah melakukan sesuai apa yang Tuhan firmankan, menjalani hidup tepat seperti yang tertulis di dalamnya. Walaupun mungkin tidak sempurna, tetapi harus tetap berusaha untuk melakukannya. Jemaat yang terkasih, dalam hidup kekristenan kita memanglah banyak aturan, tetapi setiap aturan tersebut bukan untuk membebani kehidupan kita, tetapi membangun hidup kita menjadi pribadi yang bertanggung jawab, menghargai kesempatan menikmati kehidupan dengan baik dan benar. Tuhan memberikan ketetapan bagi kita untuk membuat kita semakin mendekat dengan-Nya, Sang Pemberi Hidup. Oleh sebab itu, mari dengan sekuat tenaga kita berusaha untuk melakukan dan mengejar mahkota kehidupan dengan belajar dan terus belajar menjalankan setiap ketetapan firman Tuhan.
Nabi Yesaya mendapatkan panggilan pelayanan ketika berada dalam situasi bangsa yang tidak kondusif. Ada ancaman dari bangsa-bangsa yang mau menyerang kerajaan Israel Selatan atau Yehuda. Keadaan tersebut mengakibatkan stabilitas bangsa menjadi kacau. Namun bukan hanya hal itu yang menjadi keresahan seorang Yesaya, keadaan yang jauh lebih mengancam adalah kondisi kehidupan umat Israel yang sudah tidak lagi mempunyai hubungan dengan Tuhan, serta tidak mengindahkan apa yang menjadi perintah Tuhan dalam hidup mereka. Memang setiap perayaan ibadah, umat Israel selalu mengadakannya, mereka memberikan korban bakaran dan persembahan, namun hati mereka tidak tertuju kepada Tuhan. Hati mereka keras tidak mau mendengar suara firman Tuhan. Mereka memberontak dan melawan sesuai dengan keinginan hatinya. Tetapi Yesaya tetap menyampaikan pesan Tuhan dan memberikan seruan pertobatan bagi mereka yang mau tinggal dalam rumah Tuhan, menghampiri Tuhan dengan hati yang penuh rasa syukur. Di dalam pasal 2:1-5, Yesaya menunjukkan bahwa Rumah Tuhan akan berdiri tegak dan menjulang tinggi. Hal ini menggambarkan bahwa Rumah Tuhan menjadi tempat kediaman dan kehadiran Tuhan akan dinyatakan kepada bangsa-bangsa. Rumah Tuhan akan menjadi tempat yang paling baik untuk para umat datang dan menyembah Tuhan. Karena dari Rumah Tuhan akan muncul pengajaran-pengajaran yang benar. Rumah Tuhan menjadi pusat firman Tuhan yang mengajar tentang jalan-jalan Tuhan. Sehingga yang diam dan tinggal dalamnya akan menempuhnya dengan sukacita. Rumah Tuhan juga menjadi tempat di mana keadilan akan ditegakkan, sebab Tuhan adalah Allah yang Maha Adil. Ia sanggup memberikan keadilan bagi umat yang percaya kepada-Nya. Ia sanggup melepaskan beban yang begitu berat dan memberikan kelepasan. Sungguh indah ketika hati dan perbuatan itu sejalan dengan firman Tuhan. Hati dan tindakan yang tertuju kepada Tuhan. Jemaat yang terkasih, bukankah hidup kita juga adalah Rumah Tuhan? Mari kita pancarkan pengajaran tentang kebenaran dan keadilan dari dalam kehidupan kita. Semakin kita sering bersekutu dengan Tuhan dalam pertemuan-pertemuan ibadah, semakin kita diperkaya dengan pengajaran akan kebenaran sehingga hidup kita menunjukkan kehadiran Tuhan. Dengan kehadiran-Nya berarti hidup kita menjadi tempat untuk memperjuangkan kebenaran dan keadilan.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Kehidupan Yang Berbuah
05 November '17
Pendidikan Rohani, pentingkah?
10 November '17
Kuasai Diri
01 November '17
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang