SEPEKAN TERAKHIR
  Minggu, 24 September 2017   -HARI INI-
  Sabtu, 23 September 2017
  Jumat, 22 September 2017
  Kamis, 21 September 2017
  Rabu, 20 September 2017
  Selasa, 19 September 2017
  Senin, 18 September 2017
POKOK RENUNGAN
aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus. [ayat 13b-14]
DITULIS OLEH
Pdt. Goenawan Susanto
Gembala Jemaat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hidup Mengarah Pada Tujuan
Hidup Mengarah Pada Tujuan
Minggu, 24 September 2017
Hidup Mengarah Pada Tujuan
Filipi 3:10-19
Hidup mengarah pada tujuan

Filipi 3:10-19
aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus. [ayat 13b-14]

Suatu saat saya melihat seorang lansia duduk di kursi roda di depan rumahnya, sedang disuapi. Saya tidak tahu berapa usianya, tetapi kondisi kesehatannya kelihatan tidak bagus. Saya merasa kasihan melihatnya. Lalu dalam hati saya ada suara: ’Besok juga kamu akan seperti itu.’
Ya benar, setiap manusia pasti akan menjadi tua, kemudian pergi meninggalkan dunia ini.

Hidup kita seperti menulis buku. Setiap hari kita menulisi halaman-halaman yang masih kosong. Yang sudah ditulisi tidak bisa diubah. Itulah masa lalu kita. Halaman yang masih kosong, yang belum ditulisi adalah masa depan kita. Kita bisa memikirkan dengan baik apa yang akan kita tuliskan, supaya kita tidak menyesal nanti. Karena itu tulisilah hala...selengkapnya »
Sering kita mendengar pernyataan tentang anugerah keselamatan yang kurang tepat, umpama: “Yang penting percaya kepada Tuhan Yesus, semuanya akan beres, dan kalau mati masuk surga.” Percaya Yesus tidak cukup sekedar mengakui secara pikiran akan riwayat/sejarah Tuhan Yesus di bumi ini: lahir, mati disalib, bangkit dan naik ke surga. Pemahaman iman seperti ini tidak membuat orang percaya bertumbuh dewasa rohani. Iman berasal dari kata “pistis” dalam bahasa Yunani [bahasa asli Alkitab Perjanjian Baru] yang berarti penyerahan diri secara total dan penurutan kepada pribadi yang dipercayai. Jadi percaya membawa tanggung jawab untuk masuk proses penyerahan dan penurutan kepada Tuhan Yesus. Dalam ayat bacaan kita diingatkan untuk masuk proses/perlombaan dengan Tuhan Yesus sebagai teladannya. Kita perlu memahami bahwa satu-satunya agenda Bapa dalam karya keselamatan dalam Tuhan Yesus adalah untuk memberikan kepada manusia [yang sudah jatuh dalam dosa] hak istimewa dan kesempatan untuk menjadi anak Allah [Yohanes 1:12]. Menjadi anak Allah berarti harus sempurna seperti Bapa,’like father like son’ [Matius 5:48]. Bapa sudah menyediakan fasilitas keselamatan berupa penebusan salib, Roh Kudus, kebenaran Injil [yang diajarkan dan diteladankan oleh Tuhan Yesus], dan penggarapan Bapa melalui peristiwa hidup sehari-hari. Kita harus memanfaatkan semua fasilitas tersebut agar mengalami perubahan pola pikir sesuai dengan yang diinginkan oleh Bapa [Roma 12:2; Filipi 2:5]. Kita harus terus melakukan refleksi diri untuk menilai apakah kita sudah bertanggung jawab terhadap anugerah keselamatan dan tidak menyia-nyiakannya [Ibrani 2:1-3]. Untuk itu kita harus terus masuk proses perlombaan iman ini dengan serius dan tekun, tidak menyia-nyiakan waktu dan kesempatan yang masih dikaruniakan oleh Tuhan. Sementara itu terus waspada terhadap tipu daya Iblis yang membawa kita toleran terhadap beban [percintaan dunia] dan dosa [semua yang meleset dari kehendak Tuhan], yang merintangi proses menjadi anak Allah/mengenakan kodrat ilahi yang sedang kita jalani [ayat 1].
Kisah ini saya alami saat sedang berpergian ke Muntilan Magelang pada saat libur lebaran. Tujuan kami adalah bermain ke rumah teman yang ada di sebuah desa lereng gunung Merapi. Seharian kami sekeluarga bermain dan pukul 17.30 kami pamit pulang ke Semarang. Teman kami menyarankan lebih baik pulang lewat Ketep tembus Kopeng sebab selain lebih dekat, juga kemungkinan jalan raya Yogja Magelang macet. Usul itu saya pandang baik meskipun saya belum pernah lewat jalur itu. Dan saya pun mengemudi sambil memperhatikan arah sesuai petunjuk teman saya. Namun ternyata ada jembatan yang rusak dan harus mengambil arah memutar. Karena bingung saya hanya mengikuti petunjuk jalan ke arah Ketep. Namun di persimpangan jalan, saya mengambil jalur yang salah dan akibatnya kami tersesat. Yang seharusnya sampai Salatiga, saya malah keluar di Boyolali dengan kondisi jalan yang mengerikan dan rusak. Semua itu membuat jantung berdegup kencang karena penuh kebingungan dan kekuatiran. Apalagi bensin juga akan habis dan tidak ada orang yang menjualnya. Jemaat yang dikasihi Tuhan, firman Tuhan adalah petunjuk yang benar yang menuntun hidup kita. Ketika kita mengikuti firman Tuhan, Alkitab mengatakan bahwa kita akan berbahagia sebab kita akan menemukan banyak pengajaran dan pertolongan Tuhan. Namun jika kita membuat jalur sendiri, sesungguhnya kita sedang dibawa kepada penderitaan sebab kita tidak akan pernah tahu apa yang ada di depan kita. Dan itu yang seringkali kita lakukan, berjalan berdasarkan insting kita bukan apa yang Tuhan katakan. Kita sering menganggap tahu akan jalan hidup kita dan senang mereka-reka sehingga tidak heran jika kita selalu masuk di dalam kondisi yang menakutkan dan mengenaskan. Tapi jika kita mengikuti jalan Tuhan [mengikuti petunjuk Firman Tuhan], memang sepertinya menakutkan, namun kita akan menemukan kepastian dan pengajaran dari Tuhan sendiri sebab Tuhan sudah ada sebelum kita melangkah. Janganlah kita gemar membuat jalan sendiri tetapi mari kita mengikuti petunjuk Allah yang telah dituliskan dalam firman-Nya, dan itu semua pasti benar adanya. Oleh sebab itu tetap arahkan hati dan pikiran kita kepada firman-Nya yang memberikan kepastian dan tidak menyesatkan.
Allah menyampaikan pesan mengenai kelahiran Sang Juruselamat, yaitu Yesus Kristus kepada para gembala-gembala domba di padang pada waktu itu. Dan dari gembala-gembala inilah berita paling baik dan paling mengherankan yang pernah didengar diberitakan kepada orang-orang banyak. Berita ini yang ditunggu-tunggu karena Mesias yang dinantikan telah datang ke dunia sebagai Juruselamat. Mari kita melihat bagaimana para gembala meresponi dan menanggapi berita yang mereka dengar dari malaikat itu. Pertama, mereka segera pergi ke Betlehem untuk melihat sendiri. ‘Maka mereka cepat-cepat berangkat’ [ayat 16], dan mendapatkan apa yang mereka cari. Reaksi mereka bukan hal percaya atau tidak percaya, melainkan ingin tahu, tanpa prasangka. Hal ini yang patut untuk kita ikuti, yaitu memiliki kepercayaan yang penuh kepada Tuhan tanpa berprasangka buruk terhadap Tuhan, serta ketika kita sungguh-sungguh mencari Tuhan pasti kita akan mendapati-Nya. Kedua, setelah para gembala melihat Yesus, mereka tidak berdiam diri saja. Namun mereka memberitahukan apa yang mereka lihat dan dengar. Mereka tidak menyimpan berita baik itu hanya untuk diri sendiri, mereka ingin semua orang mengetahuinya. Hal ini juga seharusnya dapat mendorong kita untuk juga mengabarkan Injil kepada semua orang dan menceritakan tentang kasih Yesus kepada banyak orang. Menjadi saksi di manapun kita berada sehingga orang yang belum mengenal Yesus dapat melihat keberadaan-Nya melalui hidup kita. Ketiga, kemudian para gembala kembali sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala yang telah mereka dengar dan lihat [ayat 20]. Ada sukacita yang teramat besar yang mereka alami setelah perjumpaan dengan Yesus. Dan pastilah kehidupan mereka diubahkan menjadi lebih baik. Pengalaman perjumpaan dengan Yesus haruslah menjadikan pengalaman yang mengubahkan kita. Hidup kita haruslah memiliki semangat yang baru di dalam mengikuti Tuhan. Bersemangat menjalani setiap tantangan kehidupan dan bersemangat dalam melayani Tuhan.
Sebuah lembaga penitipan anak atau taman penitipan anak menjadi tempat favorit bagi orangtua yang memiliki jam kerja yang sangat tinggi untuk menitipkan anak-anaknya. Suatu saat pengasuh dan penjaga sebuah tempat penitipan anak bercerita tentang berbagai macam karakter anak yang dititipkan yang umumnya balita hingga usia tujuh tahunan. Ada seorang anak yang memiliki karakter yang kurang baik. Anak tersebut memiliki perbendaharaan kata yang sangat tidak pantas untuk diucapkan. Anak tersebut fasih sekali menyebut teman-temannya dengan nama-nama binatang, bahkan kata-kata kotor yang lainnya. Pengasuhnya mulai penasaran dari mana kosakata tersebut ia dapatkan. Selidik punya selidik ternyata anak tersebut sering mendengar perkataan itu keluar dari orangtuanya yang mungkin tanpa disadari ketika mereka mengucapkan perkataan itu bukan saja hanya didengar tapi juga direkam oleh si anak. Roma 12:2 berkata bahwa jangan kita menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubah oleh pembaharuan budimu, sehingga kita dapat membedakan kehendak Allah. Ayat ini menunjukkan bahwa setiap orang punya kesempatan untuk mengalami perubahan dalam kehidupannya. Dalam keseluruhan perikop ini berjudul persembahan yang benar, artinya adalah setiap aspek kehidupan kita menjadi sebuah persembahan yang kita tujukan kepada Tuhan karena atas dasar kasih karunia yang Tuhan berikan dalam hidup kita. Bagaimana hidup kita menjadi persembahan yang benar untuk Tuhan kalau kita belum bisa menguasai lidah dan bibir kita untuk berkata-kata dengan baik dan benar kepada sesama kita? Contoh di atas memberikan gambaran bahwa sebelum anaknya berubah, orangtuanya harus terlebih dahulu berubah. Perubahan itu dimulai dari diri sendiri. Ketika masing-masing pribadi mempunyai kesadaran untuk berubah ke arah yang benar maka akan ada dampak yang mempengaruhi sekitarnya. Perubahan pribadi demi pribadi karena pembaharuan budi kita, sehingga mampu membedakan yang baik, yang berkenan, dan yang sempurna di hadapan Allah. Saudara yang terkasih, perubahan terjadi tidak seketika, melainkan proses yang didasarkan pada komitmen. Sebelum kita belajar mengubahkan orang lain menjadi benar dan baik, maka perubahan itu harus dimulai dari diri kita sendiri. Pada akhirnya kalau hidup kita sudah diubahkan ke arah Kristus, maka akan banyak buah-buah yang keluar dan dapat mempengaruhi satu dengan yang lain sehingga membawa perubahan yang nyata bagi banyak orang.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Manusia Yang Berpengharapan
22 September '17
Jangan Pernah Menyerah
18 September '17
Masih Ada Tuhan
24 Agustus '17
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang