SEPEKAN TERAKHIR
  Rabu, 20 November 2019   -HARI INI-
  Selasa, 19 November 2019
  Senin, 18 November 2019
  Minggu, 17 November 2019
  Sabtu, 16 November 2019
  Jumat, 15 November 2019
  Kamis, 14 November 2019
POKOK RENUNGAN
Kasih itu bukan berasal dari dunia. Penerapannya harus dengan ukuran Tuhan.
DITULIS OLEH
Pdt. Em. Laij Andreany
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
  SOS
Home  »  Renungan  »  Topeng Penampilan
Topeng Penampilan
Rabu, 20 November 2019
Topeng Penampilan
Yakobus 2:1-13

Anak Manusia datang bukan untuk dilayani melainkan untuk.melayani [Mat 20;28]. Banyak orang Kristen berusaha mempraktikkan hidup seperti yang Tuhan Yesus teladankan dalam hidup ini. Melayani, ya... melayani! Jadi pelayan Tuhan dalam kehidupan sehari hari maupun dalam hidup berjemaat. Pertanyaannya, melayani yang seperti apa? Jadi pelayan yang bagaimana?

Dunia cenderung mengukur manusia berdasarkan penampilan. Jika seseorang berpenampilan baik, ia dianggap orang baik. Namun penampilan dapat mengecoh, tidak sedikit orang yang menipu dengan bertopeng penampilan keren. Orang sering menyebutnya sebagai ’penjahat berdasi’. Dengan demikian, tidaklah cukup menilai seseorang berdasarkan penampilannya saja.

Dalam pelayanan Kristen, kita juga masih banyak memakai ukuran duniawi. Ada yang digolongkan sebagai kaum elite, kalangan atas yang mendapatkan prioritas khusus dalam pelayanan.

Yakobus mengingatkan kita, orang percaya untuk menjauhi sikap itu. Sikap hati yang membeda...selengkapnya »
Dalam buku “The Purpose Driven Life”, Pastor Rick Warren menuliskan bahwa kita diciptakan untuk menjalankan Misi Allah. Hal ini tentunya berkaitan dengan bersaksi dan menjadi saksi. Bersaksi berarti kita menceritakan Injil kepada orang yang belum percaya, dan menjadi saksi itu menceritakan pengalaman pribadi kita dengan Tuhan. Mengapa kita perlu bersaksi dan menjadi saksi? Karena ada potensi ilahi [God’s factor] yang sering kita sebut X-Factor dalam Yesus. Inilah yang menjadikan orang-orang Kristen special dengan factor unggulan /andalan/keberuntungan. Apa sajakah Faktor keunggulan itu sehingga kita mampu bersaksi dan menjadi saksi ? Pertama, Perkenanan Tuhan atau God’s Favor ~ Mazmur 44:4b “…. Melainkan tangan kanan-Mu dan lengan-Mu,dan cahaya Wajah-Mu, sebab Engkau berkenan kepada mereka”. Tangan Tuhan melambangkan penyertaan-Nya yang sempurna, Lengan Tuhan itulah memberikan anugerah; Kedua, Pagar Anugerah Tuhan seperti Perisai, Mazmur 5:13 “Sebab Engkaulah yang memberkati orang benar ya Tuhan; Engkau memagari dia dengan anugerah-Mu seperti perisai” Sebagai umat pilihan Allah, maka orang percaya itu sudah keluar dari kegelapan kepada terang-Nya ajaib. Makin banyak ketaatan kita kepada Tuhan, makin besar dan melimpah anugerah yang memagari kita dari panah api si jahat dan lingkungan kita. Ketiga, Tangan Allah yang Terbuka dan Ramah atau Gracious Hand God. Nehemia 2:8 “…. karena tangan Allahku yang murah melindungi aku .” Situasi-kondisi yang dihadapi Nehemia saat itu harus menjalankan dua fungsi “building and battling” yakni membangun dan memerangi musuh. Kondisinya Bait Allah dan tembok Yerusalem runtuh, mendengar situasi bangsanya, hatinya hancur dalam keprihatinan, lalu berpuasa dan berdoa mohon campur tangan Allah. Semua material pilihan yang dibutuhkan disediakan Allah melalui raja Artahsasta. Hal inipun berlaku bagi setiap anak Tuhan, percayakanlah dirimu kepada Allah. Saat kita tidak berdaya maka selalu ada the Open Hands [tangan Allah yang berkuasa itu terbuka bagi kita].
Hidup yang menghasilkan buah Yohanes 15:16 Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu. Setiap orang mempunyai pertanyaan yang harus dijawabnya sendiri: ’Untuk apa saya dilahirkan di dunia ini? Untuk apa aku hidup di dunia ini?’ Saudara dilahirkan di dunia bukan karena kebetulan. Saudara dilahirkan di dunia untuk suatu tujuan yang ditetapkan oleh Tuhan sendiri. Seperti pohon yang menghasilkan buah, demikianlah tujuan hidup orang Kristen. Orang yang hidupnya berbuah adalah orang yang berhasil, bukan menurut penilaian dunia, tapi berhasil menurut pandangan Tuhan. Pohon menghasilkan buah bukan untuk dinikmati oleh dirinya sendiri. Makhluk hidup lainnyalah yang menikmati buah tersebut, terutama manusia. Demikian juga yang merasakan buah dari kehidupan kita adalah orang lain di sekitar kita. Kita tidak bisa berkata tentang diri kita sendiri bahwa kita sudah menghasilkan buah yang banyak. Yang bisa berkata bahwa hidup kita sudah menghasilkan buah adalah orang lain di sekitar kita. Apakah orang lain diberkati dengan keberadaan kita? Persoalannya adalah kapan hidup kita menghasilkan buah? Ada pohon yang berbuah hanya pada musimnya saja. Misal: pohon durian di Jawa hanya berbuah sekitar bulan Desember saja. Kalau kita cari buah durian di bulan Juni kita tidak akan menemukannya. Tapi Tuhan ingin kita berbuah tanpa mengenal musim. Perhatikan kata-kata Tuhan Yesus di atas: ’..... supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap.’ Tuhan ingin buah kita tetap, bukan musiman. Bacalah juga Yeremia 17:8 Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.’ Hidup kita harus memuliakan Tuhan dan membawa kemajuan Injil, dalam segala keadaan. Bukan hanya dalam keadaan senang dan kelimpahan, tapi juga dalam kesusahan dan kesulitan, kita harus tetap bisa menghasilkan buah. Tuhan memberkati. Pdt. Goenawan Susanto
Bapak Sariman baru dibaptis menjadi orang Kristen disalah satu gereja tidak jauh dari rumahnya. Saat ibadah Minggu dia mendengarkan kotbah bahwa setiap orang Kristen itu diberi kuasa oleh Allah untuk menjadi saksiNya dalam pemberitaan Injil. Beberapa minggu kemudian pak Sariman bertemu dengan sahabatnya kebetulan pada waktu itu dia sedang sakit batuk cukup parah. Lalu pak Sariman memberanikan diri untuk mendoakan sahabatnya tadi. Ternyata sahabatnya sangat berterima kasih kalau didoakan. Setelah doa selesai besuk harinya pak Sariman mendengar kalau sahabatnya tadi sudah sembuh dari sakit batuknya dan mulai aktif bekerja kembali. Dia mengucap syukur dan bersukacita karena telah mengalami dan menyaksikan sendiri bagaimana kuasa Allah dinyatakan melalui doanya yang sederhana. Nats bacaan kita hari ini berbicara tentang Tuhan Yesus yang memilih dan memanggil 12 orang murid. Mereka diberi kuasa dan diutus untuk pergi memberitakan bahwa Kerajaan Surga sudah dekat. Kuasa yang diberikan Tuhan Yesus kepada mereka adalah kuasa menyembuhkan penyakit dan berbagai macam kelemahan tubuh, kuasa membangkitkan orang mati, kuasa mengusir Setan/Roh Jahat, kuasa mentahirkan orang sakit kusta. Dengan dibekali kuasa tersebut mereka diutus untuk melakukan tugasnya yaitu pemberitaan Injil bahwa Kerajaan Surga sudah dekat. Target orang yang harus mendengarkan beritanya sudah jelas yaitu kepada domba-domba terhilang dari bangsa Israel. Setelah mereka pergi melaksanakan tugasnya, harus kembali untuk melaporkan hasilnya kepada Tuhan Yesus. Dari sini kita belajar bahwa pemberitaan Injil sepenuhnya merupakan pekerjaan Allah dan hanya bisa dikerjakan apabila bergantung sepenuhnya kepada kuasa Allah. Di luar hal itu kita tidak akan pernah berhasil sebagai saksi Kristus dan utusan Kristus di dunia ini untuk melanjutkan pekerjaan-Nya yang belum selesai di dunia ini. Sebagai orang Kristen yang hidup di zaman milenial kita juga menerima kuasa yang sama untuk menjadi saksi Kristus dan pemberita Injil Kerajaan Allah. Dalam menjalankan tugas tersebut, kuasa Allah akan senantiasa menyertai kita. Inilah kesempatan yang masih tersedia dan terbuka bagi pemberitaan Injil sebelum Tuhan Yesus datang kembali kedua kalinya. Kitalah yang menjadi saksi bukan orang lain. Kuasa Allah menyertai kita untuk melakukan perkara-perkara ajaib saat menjalankan tugasnya sebagai saksi Kristus. Pertanyaannya, bersediakah kita menjadi utusan dan saksi Kristus di zaman ini ? Ladangnya sudah dipersiapkan Allah. Yaitu orang terdekat di sekitar kita yang masih terhilang dari hadapan Allah. Tinggal kita mau atau tidak semua tergantung diri kita sendiri. Kalau kita mau mengalami pengalaman hidup dasyat bersama Tuhan Yesus maka lakukan tugas kita sebagai saksi Kristus dan pemberita Injil Kerajaan Allah.
Awan kelabu yang menggantung pekat sudah menghiasi langit sore itu. Namun itu tak menyurutkan tekad masyarakat Semarang untuk mengikuti Kebaktian Kebangunan Rohani akbar yang diadakan di sebuah stadion. Lapangan rumput sudah berubah menjadi lapangan koran. Nyaris tiap orangmembekali diri dengan lembaran koran sebagai alas duduk. Lalu dengan kesabaran tingkat malaikat mereka menanti-nanti acara yang tak kunjung dimulai. Ketika akhirnya pemimpin pujian mulai melontarkansapa, serta-merta mereka menyambutdengan super antusias. Beragam pengunjung tumpah ruah di sana. Yang sudah percaya kepada Kristus maupun yang sekedar ingin tahu; pengikut Kristus puluhan tahun maupun yang telah berbalik meninggalkan Dia; yang sehat maupun yang sakit; yang penuh semangat maupun yang sedang remuk oleh beban hidup. Semua berkumpul menjadi satu di atas lautan koran. Satu demi satu puji-pujian dikumandangkan. Ketika tiba saatnya Firman Tuhan yang dinanti-nantikan disampaikan, banyak yang berharap mendengar sebuah kotbah yang dahsyat. Kotbah yang sepadan dengan nama besar si pembicara. Nyatanya, memang hampir tiap kalimat yang meluncur dari bibir si pengkotbah disambut dengan gegap-gempita oleh khalayak ramai, namun dari sekian banyak kalimat yang diucapkan sore itu hanya ada satu pesan yang terus diulang-ulang: Yesus mengasihi Saudara. Disamping masyarakat awam, sebagian yang hadir sore itu adalah para tamu undangan yang merupakan kolega sang pengkotbah. Sebagian lagi adalah aktivis gereja. Sebagian lainnya adalah mereka yang telah mengikuti kebaktian dan ibadah hampir sepanjang hidupnya. Dan tanpa terelakkan, sejumlah orang beranggapan bahwa kotbah petang itu tidak cukup memuaskan apalagi “mengenyangkan”. Mereka berpikir semestinya kotbah itu dipersiapkan dengan lebih dahsyat lagi agar bisa memuaskan “dahaga” mereka. Di tengah riak-riak ketidak puasan itu sebenarnya ada yang terluput dari perhatian mereka. Sesungguhnya saat itu mereka sedang LUPA. Lupa bahwa yang hadir di situ bukan cuma mereka. Bukan cuma orang-orang yang sudah bertumbuh imannya. Ada banyak orang yang baru pertama kali mendengar kabar tentang Kristus. Ada banyak orang yang begitu haus untuk mendengar kalimat “Yesus mengasihi Saudara”. Ada orang-orang yang dulu sempat berbalik meninggalkan Tuhan menjadi luluh hatinya dengan kalimat sederhana yang diulang-ulang itu. Mereka yang mengeluh tidak puas itu lupa bahwa ... bagi Tuhan, mereka bukanlah anak tunggal. Ketika mereka bersungut-sungut sebenarnya mereka berlaku persis seperti anak sulung yang hanya memikirkan diri sendirisaat Bapa menyambut si bungsu yang terhilang. Jangan lupa bahwa ada “adik bungsu” yang juga perlu diperhatikan dan dipenuhi kebutuhannya. Hendaklah jemaat Tuhan berlaku sebagai sebuah keluarga yang tidak melulu memikirkan kepentingan diri sendiri. Ketika suatu saat sebuah ibadah tidak berjalan seperti yang kita inginkan, jangan buru-buru merasa gusar. Bisa jadi ibadah itu tengah ditujukan untuk merangkul mereka yang terhilang. Sebagai anak yang telah banyak menikmati berkat bersama Bapa, ikutlah bergembira. Seperti Bapa memberi perhatian besar kepada anak yang terhilang, demikian hendaknya kita menaruh belas kasihan dan perhatian untuk kepentingan saudara-saudara kita yang terhilang.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Teladan Pelayanan Tuhan Yesus
29 Oktober '19
Ceritakanlah
31 Oktober '19
Beritakan, Nyatakan Kebaikan Tuhan
02 November '19
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang