SEPEKAN TERAKHIR
  Selasa, 17 September 2019   -HARI INI-
  Senin, 16 September 2019
  Minggu, 15 September 2019
  Sabtu, 14 September 2019
  Jumat, 13 September 2019
  Kamis, 12 September 2019
  Rabu, 11 September 2019
POKOK RENUNGAN
Lebih baik tetangga yang dekat dari pada saudara yang jauh. [Amsal 27:10 c ]
DITULIS OLEH
Ibu Lydia N. Haryanto
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
  Rela
  Kuasa
Home  »  Renungan  »  Tetanggaku, Sahabatku
Tetanggaku, Sahabatku
Selasa, 17 September 2019
Tetanggaku, Sahabatku
2 Raja Raja 4:1-7

Saat kita berkunjung ke rumah seorang teman atau famili karena ada suatu keperluan penting ternyata rumahnya terkunci, sepi. Apa yang kita lakukan ? Mungkin kita akan menghubungi yang bersangkutan lewat HP atau kalau kebetulan ada tetangganya yang berada di luar kita akan bertanya atau titip pesan. Itu adalah sesuatu yang biasa bagi kita masyarakat “timur” termasuk Indonesia. Namun pernahkah kita mendapat jawaban yang tidak kita duga mengingat yang bersangkutan adalah orang yang ramah dan “aktif” dalam kegiatan di gereja : “Maaf kami tidak tahu, “beliau” tidak pernah bertegur sapa dengan kami, tidak pernah bergaul dengan kami tetangganya”.

Sangat berbeda keadaannya dengan seorang janda nabi di jaman Nabi Elisa yang kebingungan saat penagih hutang datang akan mengambil dua orang anaknya untuk dijadikan budak. Dia mengadukan masalahnya tersebut kepada Nabi Elisa. [ayat 1]. Apa solusi yang diberikan Nabi Elisa kepadanya ? Elisa menanyakan apa yang dimiliki oleh sang Ibu Janda dan jawabannya sangat memprihatinkan, hanya punya sebuah buli-buli berisi minyak yang pasti tidak akan cukup untuk membayar hutang. [ayat 2]. Kemudian Nabi menyuruh si Ibu Janda untuk meminta bejana-bejana kosong dari semua tetangganya dalam jumlah yang tidak sedikit [ayat 3]. Bi...selengkapnya »
Kehidupan doa merupakan hal yang baik dan penting bagi orang percaya. Di saat mengalami kesulitan hidup yang datang bertubi-tubi maka orang percaya akan merespon setiap masalah dengan berdoa meminta kekuatan dan pertolongan Tuhan. Orang yang takut akan Tuhan selalu memiliki respon vertikal kepada Tuhan ketika menghadapi segala sesuatu. Orang yang percaya kepada Tuhan akan selalu melihat ke arah Dia dan bergantung penuh pada-Nya dan menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya sumber pengharapan dalam hidup. Segala sesuatu di dunia ini adalah berasal dari Tuhan. Tuhan yang menciptakan segala sesuatu. Kita harus menyadari bahwa semua yang ada di bumi ini dipelihara oleh-Nya dan ditopang oleh Firman-Nya yang penuh kuasa [ Ibrani 1:3]. Maka dalam berdoa haruslah kita memahami bahwa seluruh dunia ditopang oleh Dia, sehingga ketika kita di dalam kesulitan dan pencobaan, kita tidak akan menyerah dan putus asa dalam berdoa karena kita tahu bahwa Ia sendiri yang selalu menopang ciptaan-Nya dan menjaganya. Selanjutnya kita tidak akan putus asa dalam berdoa ketika kita berdoa sambil mengingat kembali siapa Allah. Allah kita adalah Allah maha perkasa serta tidak ada yang sanggup melawan kehendak-Nya. Maka pada saat kita berdoa, kekuatan dari Allah akan membangkitkan kita dari kekawatiran dan ketakutan kita. Ini adalah kekuatan sejati dalam mengikut Tuhan. Selanjutnya adalah ketika kita berdoa marilah kita tidak berfokus hanya kepada diri kita sendiri. Marilah kita belajar ketika berdoa juga memiliki tujuan bagi pekerjaan-pekerjaan Tuhan memuliakan nama-Nya. Berdoalah juga supaya supaya Tuhan memakai hidup kita untuk menyatakan kehendak-Nya kepada orang sekitar kita. [Kisah Para Rasul 4:23-31] Marilah kita sebagai anak-anak-Nya memiliki kehidupan doa yang benar. Karena ketika hal itu kita lakukan dengan kesungguhan hati maka kehidupan iman kita juga akan semakin kuat berakar kepada Kristus, sehingga apapun masalah yang kita hadapi tidak membuat kita putus pengharapan namun, semakin percaya teguh kepada Allah kita.
Dalam acara TV tentang kompetisi bakat dan talenta sering kita mendengar pernyataan artis kristen menjadi pemenang, bahwa Tuhan Yesus membuat dia menang. Pernyataan ini tidak salah, tapi dampaknya bisa kontra produktif, yaitu bila yang menang bukan artis kristen, bisa diartikan bahwa Tuhan Yesus kalah dari kuasa lain. Dalam liturgi kebaktian sering kita mendengar pernyataan pemimpin pujian secara langsung atau melalui lagu dinyanyikan, bahwa Tuhan kita paling hebat, maha besar, maha pemenang, hal ini tentunya juga tidak salah. Biasanya pernyataannya selalu dikaitkan dengan kemampuan Tuhan membuat mujizat, kemampuan menolong umat-Nya dalam pemenuhan kebutuhan jasmani. Hal ini diinspirasi oleh riwayat bangsa Yahudi dalam Perjanjian Lama [PL], yang focus hidupnya memang kebutuhan jasmani, keamanan, kemakmuran. Memang mujizat tidak bisa dipisahkan dari umat PL. Mujizat-mujizat tersebut adalah bentuk pemeliharaan Tuhan bagi bangsa Yahudi yang akan menurunkan Juru Selamat, suatu rancangan agung dari Allah Bapa [Yohanes 4:22]. Jadi sudah terbukti bahwa Allah yang kita sembah memang maha kuasa. Berbeda dengan umat PL, umat pilihan Perjanjian Baru [PB] dituntut oleh Tuhan suatu standar moral yang lebih tinggi, bersifat batiniah. Standar moral umat PL adalah Hukum Taurat, sedangkan standar moral umat PB adalah [kehendak] Tuhan sendiri, yaitu Kebenaran Injil yang diajarkan oleh Tuhan Yesus, merupakan penyempurnaan hukum Taurat [Matius 5:17]. Fokus hidup umat PB bukanlah kebutuhan jasmani, karena hal kebutuhan jasmani Bapa sudah tahu bahwa kita memerlukan semua itu [Matius 6:32]. Dalam ayat bacaan tersebut, jelas bahwa wujud perbuatan besar, kehebatan Tuhan adalah memanggil manusia berdosa keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib [Kisah Rasul 26:18]. Oleh belas kasihan Tuhan kita diberi Anugerah Keselamatan begitu mahal harganya, yang bertujuan mengembalikan kita kepada rancangan semula Bapa. Rancangan agung Bapa bukan sekedar menjadikan kita orang baik berstandar hukum. Tetapi menjadi sempurna seperti Tuhan Yesus, perbuatan baik yang berstandar moral Allah, hal ini yang dikehendaki oleh Bapa. Jadi kebesaran dan kehebatan Tuhan adalah perbuatan-Nya yang memanggil dan mengubah manusia berdosa menjadi anak-anak-Nya, mengenakan kodrat ilahi, sekarakter dengan Tuhan Yesus. Inilah mujizat terbesar sepanjang zaman.
Hamba kebenaran Roma 6:18-19 18 Kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran. 19 Aku mengatakan hal ini secara manusia karena kelemahan kamu. Sebab sama seperti kamu telah menyerahkan anggota-anggota tubuhmu menjadi hamba kecemaran dan kedurhakaan yang membawa kamu kepada kedurhakaan, demikian hal kamu sekarang harus menyerahkan anggota-anggota tubuhmu menjadi hamba kebenaran yang membawa kamu kepada pengudusan. Sejak disahkannya Deklarasi Hak Asasi Manusia pada tahun 1948, maka setiap orang di atas muka bumi ini harus dihargai hak-haknya, termasuk hak kebebasan atau kemerdekaan. Setiap orang mempunyai kebebasan untuk berpikir, mengeluarkan pendapat, berekspresi dan menganut serta menjalankan sebuah agama atau kepercayaan, tanpa ada yang boleh menghambat atau menghalanginya. Namun tidak semua orang mengerti arti dan menggunakan hak kebebasan itu dengan benar. Banyak orang justru menyalah gunakan kebebasan itu untuk merugikan dan melanggar hak orang lain yang harusnya juga dihormati. Sebagai contoh yang sering terjadi di negara kita, orang-orang sebenarnya bebas menganut dan menjalankkan keyakinan atau ajaran agamanya, tetapi seringkali justru dalam tindakannya merugikan penganut agama lain, misalnya: menyinggung perasaan penganut agama lain, menghalangi orang lain membangun tempat ibadah, dan lain-lain. Firman Tuhan mengajar kepada kita untuk menggunakan kebebasan yang sudah diberikan kepada kita untuk melayani kebenaran. Dahulu kita adalah hamba dosa, teapi sekarang setelah kita dimerdekakan oleh Kristus, kita adalah hamba kebenaran. Jadi kita dimerdekakan bukan untuk berbuat semau kita, tetapi untuk mengabdi kepada kebenaran. Kesadaran bahwa kita adalah orang yang memiliki kebebasan harus kita letakkan di bawah panggilan sebagai hamba kebenaran. Jika kita menggunakan kebebasan kita untuk kesenangan dan kepentingan diri kita saja, maka kebebasan kita bisa menjadi sandungan bagi orang lain. Untuk didoakan: Situasi di tengah bangsa dan negara kita agar terjaga keamanan dan kesatuannya. Pdt. Goenawan Susanto
Angkatlah mukamu dan lihatlah sekelilingmu Yesaya 60:4 Angkatlah mukamu dan lihatlah ke sekeliling, mereka semua datang berhimpun kepadamu; anak-anakmu laki-laki datang dari jauh, dan anak-anakmu perempuan digendong. Ada seorang laki-laki bernama Ditt. Dia hidup di daerah Punjab India dan berasal dari salah satu kasta yang paling rendah. Pada suatu hari dia mendengar tentang Yesus Kristus, Allah yang menjelma menjadi manusia, yang datang ke dunia untuk menyelamatkan orang-orang berdosa. Dia senang mendengar berita itu dan berharap menerima keselamatan dari Yesus. Dia mencoba belajar tentang Kekristenan dari seorang Kristen yang ada di daerah yang dekat tempat tinggalnya, sebelum dia mengunjungi seorang pendeta. Lalu dia berjalan sejauh 40 kilometer untuk menemui seorang pendeta untuk minta dibaptiskan. Pendeta itu mengajukan beberapa pertanyaan untuk menguji pengetahuannya tentang iman Kristen dan dia bisa menjawabnya. Lalu pendeta itu membaptis Ditt. Kemudian pendeta itu menawarkan Ditt untuk tinggal bersamanya karena kalau pulang ke kampungnya dia akan ditolak oleh orang-orang di kampungnya. Tetapi Ditt menolak tawaran itu dan berkata bahwa dia punya keluarga besar yang dia sayangi dan tidak mau meninggalkan mereka demi menjadi orang Kristen. Ditt pulang ke rumahnya, di mana dia tinggal bersama keluarga besarnya yang berjumlah 60 orang. Keluarganya marah karena Ditt telah menjadi orang Kristen. Mereka selalu mengolok-olok dia dan tidak mau makan bersama dia. Bahkan istrinya tidak mau memasak untuk dia. Tuan tanah di desanya juga tidak mau memberinya pekerjaan. Tapi Ditt tetap bersikap baik kepada istrinya dan keluarganya. Dia berkata kepada majikannya bahwa dia akan bekerja dengan sebaik-baiknya untuknya. Dia mengambil sikap bahwa dengan imannya yang baru itu dia akan memberi manfaat kepada orang-orang di sekitarnya. Orang-orang bertanya kepadanya apakah yang dia dapat dengan menjadi orang Kristen? Uang, pekerjaan, atau apa? Dia menjawab bahwa dia tidak mendapat apa-apa, masih mengerjakan pekerjaannya semula, juga masih tinggal di rumahnya yang lama. Dia berkata bahwa dia telah mengenal Tuhan yang benar, yang mengasihi dan memperlakukan semua manusia dengan kasih yang sama, tidak peduli dari kasta apapun. Perlahan-lahan dia dapat meyakinkan orang-orang di kampungnya. Mula-mula isterinya, kemudian saudara-saudaranya, dan orang-orang di kampungnya. Sampai akhirnya banyak orang di kampungnya yang menerima Kristus. Saudara, kita seringkali tidak mengetahui bagaimana Roh Kudus bekerja dalam hidup orang-orang di luar Kekristenan. Dia bisa menggerakkan orang-orang untuk datang kepada Kristus. Kita hanyalah alat-Nya, asal mau dipakai oleh-Nya. Pdt. Goenawan Susanto
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Berjaga-Jaga Dalam Menjalani Kemerdekaan
21 Agustus '19
Disiplin
14 September '19
Tuaian Banyak Tapi Pekerja Sedikit2
08 September '19
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang