SEPEKAN TERAKHIR
  Senin, 21 Januari 2019   -HARI INI-
  Minggu, 20 Januari 2019
  Sabtu, 19 Januari 2019
  Jumat, 18 Januari 2019
  Kamis, 17 Januari 2019
  Rabu, 16 Januari 2019
  Selasa, 15 Januari 2019
POKOK RENUNGAN
Lidah merupakan anggota tubuh yang sulit dikendalikan,namun dengan kekuatan dari Roh Kudus kita dapat mempergunakan lidah kita untuk kemuliaan Tuhan. Amin
DITULIS OLEH
Bp. Hendy Agus Wibowo
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Perkataan Yang Menjadi Berkat
Perkataan Yang Menjadi Berkat
Senin, 21 Januari 2019
Perkataan Yang Menjadi Berkat
Efesus 4:29

Merupakan karunia yang besar kalau seseorang dapat menjadi motivator, pembicara seminar-seminar, pengkotbah, pengajar, guru-guru, konselor, pendek kata siapa saja dapat berkata-kata dengan baik sehingga menjadi bermanfaat bagi sesama. Dibandingkan dengan saudara-saudara kita yang kurang mampu berkata dengan baik, seperti gagap, kurang mampu berkata-kata dengan baik.

Bacaan kita mengatakan:’Jangan ada perkataan kotor keluar dari mulutmu” Yang dimaksud dengan perkataan kotor di sini berarti busuk, tidak senonoh, jahat, janganlah itu ada dalam benak kita. Perkataan kotor yang dimaksud diantaranya: Pertama, Fitnah dan gosip, fitnah berarti mengatakan sesuatu atau berita yang tidak benar/bohong yang tujuannya untuk menjatuhkan atau mencemarkan nama baik seseorang. Kalau istilah sekarang’hoaks’. Gosip memiliki arti menceritakan hal hal negatif tentang orang lain,yang semuanya itu bisa saja mendatangkan sakit hati orang lain dan pada akhirnya menjadi batu sandungan bukan berkat bagi sesama. Kedua, Cemooh atau hinaan, seringkali hal ini bisa muncul dari mulut kita sehingga dapat menyakiti yang mendengarnya, ada orang merasa itu sesuatu yang wajar, kalau ditegur alasannya ’saya kan cuma bercanda’.Hati hati dengan apa yang kita anggap sebagai canda, bisa jadi be...selengkapnya »
Namanya Mika, sederhana dalam segala keadaan dan penampilannya. Mika lahir di pinggiran jauh dari Yerusalem. Di usia dewasa Mika hidup di bawah pemerintahan Yoas, Ahas dan Hizkia, yaitu kerajaan Yehuda dan Israel [utara]. Situasi negara dan masyarakat saat itu dipimpin oleh pemimpin-pemimpin yang tidak takut akan Tuhan, bahkan keagamaan menjadi lembaga yang elit komersil. Dibidang ekonomi mengalami kemajuan yang cukup berarti demikian juga “keamanan” dan politik luar negeri sungguh sangat menjanjikan. Secara kasat mata keadaan Yehuda dan Israel sudah cukup mumpuni tetapi sebenarnya yang terjadi saat itu adalah kehancuran yang luar biasa. Semua kemegahan, kemewahan, kesuksesan bukan atas berkah Tuhan. Semua itu didapat karena raja-raja dan pemerintahan membangun hubungan khusus, kerjasama, dengan bangsa kafir yang tidak menyembah Allah yaitu Asyur. Di Istana dan dekat sekitar Rumah Allah bertengger berhala-berhala yang menjijikan di mata Tuhan dan itu disembah dan dipadukan dengan iman kepada Allah Yahweh. Sementara para imam yang seharusnya berfungsi sebagai perantara umat dengan Allah hidup ikut korup bersama dengan sekitarnya. Mereka melupakan para janda dan yatim piatu hanya mementingkan perutnya sendiri, dan yang mendapatkan pelayanan rohani adalah para golongan orang kaya yang bisa memberi sesuatu kepadanya. Hukum bisa disuap dan nabi-nabi palsu dengan leluasanya mengibarkan kiprah yang menyesatkan banyak orang. Dalam situasi seperti ini Mikha, nabi Tuhan, tampil mengkritik habis sistem pemerintahan yang ada dan kembali mengikrarkan bahwa damai sejahtera yang sejati itu akan muncul memimpin. Bukan tampil di Yerusalem kota besar yang sudah terkontaminasi dosa, bukan juga di Samaria kota besar yang menjadi pusat penyembahan berhala. Tetapi Allah akan hadir di kota kecil pinggiran bahkan lebih tepat di desa yaitu Betlehem, yang jauh dari Yerusalem dan Samaria yang penuh dengan gemerlapan pada jamannya [Mikha 5:1]. Ini merupakan nubuatan dan benar-benar terpenuhi ketika Yesus dilahirkan di Betlehem sekitar kurang lebih tujuh ratus tahun kemudian [Matius 1:22,23]. Perayaan natal merupakan peringatan hadirnya Sang Juruselamat di dunia ini, tetapi di dalamnya mengingatkan kembali bahwa damai sejahtera itu hanya ada dalam TUHAN tidak ada di tempat lain. Bukan seberapa banyak kita punya harta, kedudukan, koneksi, dsb. Selamat merayakan Natal Tuhan Yesus memberkati.
Jens Lehmann, seorang penjaga gawang legendaris Jerman, merupakan sosok yang jago daam menghalau tendangan pinalti. Lehmann juga memiliki rekor yang cukup memuaskan saat mengamankan gawangnya di babak adu pinalti. Padahal, jika berbicara tentang pinati, tidak mudah bagi para kiper untuk dapat menghalau tendangan 12 pas ini. Bahkan, seorang kiper akan mengalami beban mental dan psikologis yang sangat besar saat menghadapi babak adu pinalti. Media massa olah raga Internasional menyebutkan bahwa ada dua kunci sukses Lehmann menjadi sangat piawai dalam menahan tendangan pinalti lawan. Pertama karena kesiapan mental, dan yang kedua adalah note book yang selalu dibawanya baik saat latihan maupun saat pertandingan. Note book tersebut berisi data lengkap tentang pemain lawan dan kebiasaan mereka dalam menendang pinalti. Data tersebut menjadi acuan Lehmann untuk menghalau tendangan pinalti. Hal ini menjadikannya tidak gentar dalam menghadapi pinalti lawan. Yosua pernah mengalami kegalauan diri, saat didaulat untuk menggantikan Musa [yang wafat] mengawal dan memimpin umat Israel masuk tanah Kanaan. Kegalauan dan kegelisahan dalam pribadi Yosua ini menjadi hal yang wajar, mengingat Yosua menggantikan posisi Musa yang notabene adalah seorang pemimpin besar yang cerdas dan berkharisma. Namun, sebagai seorang pemimpin dan sebagai bagian dari bangsa Israel, keraguan dan kegelisahan bukan hal yang semestinya harus terjadi. Tuhan yang disembah oleh Abraham, Ishak dan Yakub, adalah Tuhan yang sama yang disembah oleh Yosua. Dia adalah Tuhan yang selalu bersama dan membela umatNya. Oleh karena itulah Tuhan meyakinkan Yosua untuk teguh dan yakin kepada penyertaan Tuhan bagi dirinya. Tuhan berpesan kepada Yosua, “Kuatkan dan teguhkanlah hatimu ...”. Di dalam satu perikop yang tercatat dalam Yosua 1:1-18, menyebut dan mengulang hal ini sampai empat kali [ay.6, 7, 9 dan 18]. Artinya pesan Tuhan kepada Yosua, untuk “Kuatkan dan teguhkanlah hatimu ...” merupakan pesan kunci yang penting untuk dikerjakan. Keyakinan terhadap Tuhan harus dilandasi dengan hidup taat terhadap Firman Tuhan. Firman adalah “data” akurat dan lengkap yang diberikan Tuhan bagi umatNya. Pada saat Firman ditaati dan dilakukan, maka Firman itu akan membawa keberhasilan dan keberuntungan. Bagaimana dengan kita? Pada saat sedang mengalami kegelisahan dan kekuatiran apa yang akan kita lakukan? Jauh dari Tuhan? Menyalahkan Tuhan? Undur diri dari gereja? Ataukah justru kita tetap kuat dan teguh bersama dengan Tuhan, serta berpegang pada FirmanNya? Pilihan ada pada diri masing-masing secara pribadi.
Tahun 2019: Pergi dan Hasilkan Buah Yohanes 15:16 Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu. Bagi sebagian besar rakyat Indonesia tahun 2019 merupakan tahun perhelatan politik nasional yaitu dengan diselenggarakannya Pemilihan Presiden dan Pemilihan anggota Legislatif. Tetapi khususnya bagi kita sebagai gereja Tuhan, apa yang akan kita kerjakan di tahun 2019? Untuk tahun 2019 Gereja kita mengambil Tema: ’Pergi dan hasilkan buah’ [Yohanes 15:16]. Kata ’Pergi’ mempunyai makna: tinggalkan zona nyaman, beranjak dari rutinitas. Manusia cenderung hanya memperhatikan dan mengurusi dirinya sendiri. Jika tidak melakukan dengan sengaja, keluar dari rutinitas mengurusi diri sendiri, maka kita tidak akan melakukan sesuatu yang berbeda. Tuhan ingin kita melakukan sesuatu yang berbeda pada tahun 2019 ini. Kata ’Hasilkan buah’ berbicara tentang: Apa yang kita hasilkan dari hidup kita. Pohon ditanam untuk menghasilkan buah. Bagi pohon itu sendiri, buah mempunyai fungsi regeneratif, yaitu sarana pelipatgandaan, untuk menghasilkan pohon-pohon yang baru, seperti kalau manusia menghasilkan keturunan. Kita harus menghasilkan buah, berarti kita harus memenangkan jiwa bagi Kristus. Di sampiing itu, buah punya makna memberi manfaat atau menjadi berkat. Buah yang dihasilkan oleh sebatang pohon memberi manfaat bagi makhluk-makhluk yang lain. Buah itu tidak pernah dinikmati oleh pohonnya sendiri, tapi dinikmati oleh makhluk-makhluk di sekitarnya: hewan maupun manusia. Hidup kita harus menjadi berkat bagi orang-orang di sekitar kita. Selamat memasuki tahun 2019. Tuhan memberkati. Pdt. Goenawan Susanto
Pohon Ara tanaman di Asia Barat Daya, Israel, Siria & Mesir, terkenal karena umurnya yang sangat panjang. Mampu beradaptasi dengan berbagai jenis tanah, bahkan tumbuh baik di tanah yang berbatu-batu. Tingginya dapat mencapai sekitar 9 meter, diameter batang sekitar 0,6 meter dan memiliki cabang-cabang yang melebar. Daun-daunnya besar dengan lebar sekitar 20 cm sehingga bisa untuk berteduh. Buah ara bisa dinikmati dalam bentuk segar maupun dikeringkan. Pohon ara mulai berbuah setelah 3 tahun, makin lama makin banyak buahnya dan pada tahun ke 8 sudah masuk fase stabil dalam menghasilkan buah. Masa produktif pohon ara 30-35 tahun.wow !!! Orang benar seperti pohon korma yang ditanam di bait Tuhan dan akan bertunas di pelataran Allah kita. Orang benar akan terus bertumbuh imannya seperti pohon korma walaupun berada dalam keadaan krisis seperti hidup di padang pasir. Pada masa tuapun mereka masih berbuah, menjadi gemuk dan segar. Untuk memberitakan bahwa Tuhan itu benar, bahwa Ia gunung batu dan tidak ada kecurangan pada-Nya. Tetap menjadi berkat sampai masa tua dan tetap segar dan semangat memberitakan kebaikan Tuhan dan perlindungan-Nya. Sebagai umat pilihan Tuhan, kita harus hidup seperti pohon ara atau pohon korma yang bisa hidup di berbagai lingkungan dan tetap tegar menghadapi terpaan badai kehidupan. Tetap menghasilkan buah, perbuatan baik bagi semua orang dalam segala keadaan dan sepanjang umur kita. Seperti pohon ara tidak mengenal pensiun atau cuti menghasilkan buah, kita juga demikian dalam membagikan kasih Kristus. Ingatlah panggilan kita sebagai murid Kristus adalah memberitakan Kabar Baik kepada mereka yang sedang letih lesu dan putus asa. Marilah kita tidak pernah jemu untuk menghasilkan buah.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Apakah Engkau Mengasihi-Ku
13 Januari '19
Iman Yang Berbuah
12 Januari '19
Ucapan Syukur1
31 Desember '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang