SEPEKAN TERAKHIR
  Rabu, 26 Juli 2017   -HARI INI-
  Selasa, 25 Juli 2017
  Senin, 24 Juli 2017
  Minggu, 23 Juli 2017
  Sabtu, 22 Juli 2017
  Jumat, 21 Juli 2017
  Kamis, 20 Juli 2017
POKOK RENUNGAN
Seperti kita tidak ingin sembarangan dihakimi orang lain, hendaklah kita pun tidak sesuka hati menghakimi orang lain.
DITULIS OLEH
Ibu Evylia H. Goenawan
Ibu Gembala
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Main Hakim Sendiri
Main Hakim Sendiri
Rabu, 26 Juli 2017
Main Hakim Sendiri
Matius 7:1- 5

Mendengar istilah ’main hakim sendiri’ kerap menggiring kita kepada gambaran yang seram-seram. Penjambret dikeroyok massa, pelaku tabrak lari digebuki sampai babak belur ... itulah yang biasanya terlintas di benak kita. Namun sebetulnya dalam kehidupan sehari-hari kita pun tak asing dengan praktik ’main hakim sendiri’, yaitu saat kita tanpa dasar dan bukti yang kuat menjatuhkan penghakiman atas orang lain.

’Sudah dengar belum? Pengacara tenar itu biasa ’menyewakan’ putrinya demi menjaring banyak klien kelas kakap!’
’Ooo, begitu ya? Pantas saja kariernya cepat melesat. Benar-benar tak disangka, ternyata dia setega itu mengorbankan putri sendiri!’

Bukankah cuplikan percakapan itu sangat akrab dengan keseharian kita? Topiknya bisa beragam, mulai dari selebriti, pejabat, tetangga sekampung, sampai dengan teman segereja. Obrolan demi obrolan mengalir bagai gayung bersambut, tanpa sadar bahwa kita sudah menghakimi orang berdasarkan gunjingan tak jelas.
...selengkapnya »
Kahlil Gibran [1883-1931], filsuf pendidikan Libanon yang kemudian menetap di Amerika Serikat mengibaratkan orangtua sebagai busur, anak sebagai anak panah dan Tuhan sebagai Sang Pemanah. Gibran menulis : Anakmu sebenarnya bukan milikmu. Mereka adalah anak Sang Hidup yang mendambakan hidup mereka sendiri. Mereka memang datang melalui kamu, tetapi mereka bukan milikmu. Engkau bisa memberi kasih sayang, tapi engkau tidak bisa memberikan pendirianmu, sebab mereka memiliki pendirian sendiri. Engkau dapat memberikan tempat pijak bagi raganya, tapi tidak untuk jiwanya sebab jiwa mereka ada di masa depan yang tidak bisa engkau capai sekalipun dalam mimpi. Engkau boleh berusaha mengikuti alam mereka tapi jangan harap mereka dapat mengikuti alammu, sebab hidup tidaklah surut ke belakang, tidak pula tertambat di masa lalu. Engkau adalah busur dari mana bagai anak panah, kehidupan anakmu melesat ke masa depan. Sang Pemanah mahatahu sasaran bidikan keabadian. Dia merentangmu dengan kekuasaan-Nya, hingga anak panah itu melesat jauh serta cepat. Meliuklah dengan sukacita dalam rentangan tangan Sang Pemanah, sebab Dia mengasihi anak panah yang melesat laksana kilat, Sebagaimana pula dikasihi-Nya busur yang mantap. Ketika pendidikan anak beranjak ke jenjang SMA/SMK atau kuliah di perguruan tinggi banyak orangtua memilih, memutuskan jurusan apa yang anak-anak ambil. Tiap orangtua ingin memberikan pendidikan yang terbaik demi masa depan anaknya. Banyak orangtua terlalu posesif [bersikap memiliki] dan protektif [bersikap melindungi] sehingga cenderung mengekang dan menguasai anak. Tidak bolehkah orangtua mengarahkan pendidikan demi masa depan anak? Tentu saja boleh itu tugas orangtua. Tapi ada tugas yang lebih penting, yaitu orangtua harus tahu rencana Tuhan atas hidup anak-anak dan membimbing mereka untuk percaya penuh pada rencana-Nya dalam hidup mereka. Mazmur 139:16 mengatakan bahwa hari-hari kita sudah tertulis dalam kitab-Nya sebelum hari-hari itu ada. Mazmur 127:4 mengibaratkan anak-anak seperti anak panah di tangan pahlawan. Sang pahlawan pasti melesatkan anak panah tepat pada sasaran.
“Wauw....seger....”, ucap salah seorang pengunjung rumah makan saat meneguk minuman yang menarik perhatian para pengunjung lain termasuk saya karena diucapkan cukup keras. Ternyata yang diminumnya es kelapa muda. Sambil menunggu pesanan yang belum disajikan, pikiran saya melayang jauh ke masa lampau, kehidupan masa kecil saya. Di kebun ada beberapa pohon kelapa. Saat nenek membuat sapu lidi, kami para cucu belajar buat ketupat dari daun kelapa yang masih muda. Nenek juga bercerita semua bagian dari pohon kelapa bisa digunakan. Memang benar. Sebatang pohon kelapa memiliki banyak manfaat karena semua unsur pada pohon kelapa dapat digunakan untuk keperluan manusia. Mulai dari pucuk sampai akar dapat dipergunakan untuk berbagai kebutuhan. Seperti halnya pohon kelapa, begitu juga hidup kita. Betapa indahnya jika setiap aspek dalam kehidupan kita bisa bermanfaat, meskipun mungkin kemampuan kita hanya bisa memberikan “akar”. Jangan rendah diri karena saat sang pohon masih hidup, akar sangat diperlukan untuk suplai makanan ke seluruh bagian pohon sama seperti akar pohon-pohon yang lain. Tetapi saat pohon kelapa di”panen”, akarnya pun dapat dimanfaatkan untuk bahan kerajinan tangan sebagai alat penghias rumah dan untuk benda yang bernilai seni. Tidak usah iri hati kepada mereka yang dapat mempersembahkan “ketupat, sapu lidi, es kelapa muda, minyak goreng, dsb”. Apapun diri kita, dengan pertolongan dari Tuhan, dapat bermanfaat dan memberi dampak yang baik bagi “sesama”. Alkitab menyatakan agar kita mengasihi ’sesama’ seperti diri kita sendiri [Matius 22:39]. Sesama kita tidak hanya orang yang tinggal atau bekerja di dekat kita, tetapi setiap orang yang kita temui dalam perjalanan hidup kita, terutama mereka yang membutuhkan pertolongan. Bersikap sopan dan peduli kepada sesama adalah prinsip rohani yang selayaknya dimiliki oleh setiap anak Tuhan. Mengapa? Karena berlaku sopan dan peduli merupakan wujud nyata dari “keramahan” sesuai dengan apa yang Firman Tuhan katakan dan tentu saja membuat nyaman suasana di mana kita berada. [Efesus 4:32]. Amin.
Anak-anak di mata Tuhan Matius 19:13-15 Lalu orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, supaya Ia meletakkan tangan-Nya atas mereka dan mendoakan mereka; akan tetapi murid-murid-Nya memarahi orang-orang itu. Tetapi Yesus berkata: ’Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga.’ Lalu Ia meletakkan tangan-Nya atas mereka dan kemudian Ia berangkat dari situ. Hari ini merupakan Hari Anak Nasional. Pemerintah telah menetapkan bahwa setiap tanggal 23 Juli merupakan peringatan Hari Anak Nasional. Dalam nas bacaan di atas kita melihat sikap Yesus terhadap anak-anak. Yesus begitu menghargai anak-anak. Yesus senang jika ada anak-anak datang kepada-Nya. Tetapi justru murid-murid-Nya menjadi penghalang bagi anak-anak itu untuk datang kepada Tuhan Yesus. Mengapa anak-anak begitu berharga di mata Tuhan? 1. Mereka adalah orang-orang yang layak untuk memiliki Kerajaan Allah. Hati mereka masih murni, pikiran mereka masih polos, hati mereka tidak bercabang. Mereka percaya penuh kepada orang tuanya. 2. Mereka adalah generasi penerus yang akan melanjutkan kehidupan di dunia ini. Masa depan bangsa dan dunia ini ada di tangan mereka. Harapan agar dunia ini menjadi lebih baik ada di tangan mereka. Jika Tuhan begitu menghargai anak-anak, bagaimana sikap kita? 1. Kadang-kadang kita kurang menghargai anak-anak, bahkan terkadang kita menelantarkan mereka. Kita kurang memberikan perhatian yang cukup buat mereka. Kita lebih mementingkan pekerjaan, kesibukan, hobi, atau gadget kita. Padahal anak berhak untuk mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari kita sebagai orang tuanya. Ketika Tuhan berkata: ’Jangan menghalangi mereka’ artinya jangan merampas hak mereka. 2. Terkadang kita juga menjadi penghalang bagi anak-anak, sehingga anak-anak itu tidak bisa datang kepada Tuhan. Bagaimana bisa kita menjadi penghalang bagi anak-anak? Jika kita memberikan suatu contoh perbuatan yang tidak baik, kita menjadi batu sandungan bagi anak-anak, berarti kita menjadi penghalang bagi anak-anak. Anak-anak bukannya mengenal Tuhan melalui kita, tapi mengenal kejahatan melalui kita. Marilah pada hari ini kita mengingat bahwa Tuhan begitu menghargai anak-anak. Karena itu janganlah kita mengabaikan atau menyepelekan anak-anak. Pdt. Goenawan Susanto
Zaman sekarang ini sulit menemukan orang yang benar-benar memiliki kesetiaan yang murni terhadap pimpinannya, misalnya saja dalam sebuah perusahaan besar. Banyak karyawan tampaknya begitu rajin dan setia dalam pekerjaannya, tetapi bisa saja kesetiaannya itu hanya tampak pada luarnya saja supaya tetap dipakai di perusahaan tersebut. Bahkan banyak yang mencari muka kepada atasan dengan cara menunjukkan kesetiaan dan loyalitas yang tinggi supaya cepat naik pangkat atau segera dapat dipromosikan menjadi pimpinan. Kesetiaan seperti itu tidak murni karena berujung pada untuk kepentingan diri sendiri sehingga tidak jarang pula yang menghalalkan segala cara. Tuhan menghendaki supaya kita semua memiliki kesetiaan kepada Tuhan dengan murni atau tulus. Kesetiaan itu harus diwujudkan dalam tindakan nyata bukan saja di dalam pelayanan gerejawi, tetapi juga dalam aspek kehidupan yang luas. Kita harus melakukan segala sesuatu seperti kita melakukan untuk Tuhan. Daud misalnya, dia adalah sosok yang memiliki kesetiaan yang murni kepada Allah. Dan kesetiaannya kepada Allah bisa kita perhatikan misalnya ketika Daud memboyong tabut perjanjian dari Baale-Yehuda menuju ke Yerusalem [ayat 2]. Di dalam tabut Allah diletakkan loh-loh batu, tongkat Harun dan manna. Benda-benda tersebut tampaknya tidak ada istimewanya, tetapi di balik simbol itu ada sebuah sejarah yang dahsyat, yaitu bagaimana Allah-Yahweh memberikan pimpinan kepada bangsa Israel ketika mereka keluar dari perbudakan Mesir menuju tanah perjanjian, Kanaan. Upaya memboyong tabut perjanjian yang dilakukan Daud merupakan bentuk usaha membangun kesetiaan dan kedekatannya kepada Allah. Daud melakukan itu dengan mengerahkan seluruh kekuatannya. Artinya, Daud mengajak seluruh rakyat dan tentaranya untuk membangun kesetiaan kepada Allah. Saudara kekasih, kesetiaan kepada Tuhan harus kita wujudkan dalam bentuk tindakan nyata, sekalipun dalam situasi yang tidak menguntungkan bagi kita. Dalam apapun keadaannya, kita tetap setia. Dalam berkelimpahan, kekurangan, dalam ancaman, kesulitan bahkan penderitaan sekalipun kita tetap setia kepada Tuhan. Tidak ada situasi sesulit apapun yang mampu menghalangi kita untuk membangun kesetiaan kepada Tuhan karena Tuhan terlebih dulu setia kepada kita, umat-Nya. Sejak semula Tuhan menentukan kita menjadi anak-anak-Nya untuk menerima kasih karunia dan keselamatan. Itulah kesetiaan Tuhan kepada kita [bnd. Efesus 1:3-14].
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Kuasa Untuk Menjadi Saksi Kristus
04 Juli '17
Tuhanlah Sumber Sukacita
13 Juli '17
Menyadari Kapasitas Diri
07 Juli '17
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang