SEPEKAN TERAKHIR
  Senin, 27 Februari 2017   -HARI INI-
  Minggu, 26 Februari 2017
  Sabtu, 25 Februari 2017
  Jumat, 24 Februari 2017
  Kamis, 23 Februari 2017
  Rabu, 22 Februari 2017
  Selasa, 21 Februari 2017
POKOK RENUNGAN
Apa sebenarnya yang ingin kita raih dan cari di bumi ini?
DITULIS OLEH
Pdt. Andreas Budianto
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Apa Yang Kita Cari ?
Apa Yang Kita Cari ?
Senin, 27 Februari 2017
Apa Yang Kita Cari ?
Ibrani 11:8-10, 17-19

Seringkali orang percaya salah fokus dalam melihat kehidupan para bapa leluhur umat Israel, yaitu Abraham, Ishak, dan Yakub. Orang percaya ingin diberkati seperti halnya para bapa leluhur tersebut. Bahkan mereka ingin memperoleh berkat Abraham, Ishak, dan Yakub. Cita-cita tersebut semakin terpupuk subur dengan pengajaran-pengajaran yang lebih menekankan berkat dan berkat saja. Semangatnya ketika belajar tentang kehidupan para bapa leluhur lebih pada yang materi daripada yang rohani. Yang ingin ditemukan adalah bagaimana kiat-kiat untuk memperoleh berkat bapa-bapa leluhur. Akhirnya apa? Yang rohani, misalnya: ketaatan, kesetiaan, hidup takut akan Allah, dan sebagainya hanya menjadi sarana atau jalan untuk meraih keberhasilan secara materi. Tentunya jika seperti itu sudah salah k...selengkapnya »
Sebagai orangtua, saya pernah menyarankan kepada anak perempuan saya untuk tidak melewati desa Meteseh tepatnya di tanjakan panjang jalan Sigar Bencah menuju kampus Undip wilayah Tembalang Semarang. Mengapa? Karena selain jalannya yang tidak rata karena daerah tanah gerak, daerah itu pada waktu-waktu tertentu juga sepi dan rawan kejahatan. Sehingga saya menganjurkan untuk melewati jalan lain yang ramai dan datar, dengan demikian saya mengantisipasi hal-hal yang tidak saya inginkan. Saya menganjurkan untuk memilih jalan yang terbaik. Berbicara soal MEMILIH pastilah dilatarbelakangi dengan pertimbangan “ini dan itu”. Mana yang terbaik, menyenangkan, memuaskan atau mungkin mana yang lebih menguntungkan. Demikian juga dengan orang-orang Ibrani [Yahudi] yang sudah percaya Yesus, yang oleh penulis surat Ibrani disebut sebagai saudara-saudara yang kudus dan yang menerima panggilan sorgawi [ay. 1]. Mereka menghadapi situasi tertentu untuk memilih tetap percaya Yesus atau kembali kepada Yudaisme yang mengagumi Musa sebagai tokohnya. Penulis surat Ibrani memperjelas bahwa Yesus lebih besar dari Musa karena Yesus adalah Allah sebagai pencipta [ay. 3, 4], sedangkan Musa hanyalah pelayan-Nya [ay. 5]. Orang-orang Kristen Ibrani [Yahudi] harus kembali dan tetap yakin percaya kepada Yesus yang telah memberi jaminan keselamatan sorgawi. Saudara, melalui surat Ibrani Allah juga berbicara kepada gereja saat ini. Berbicara kepada banyak orang kristen yang sedang bergumul karena masih ada keraguan percaya Yesus. Atau berbicara juga kepada kita saat ini, ketika kita tetap rajin ke gereja tetapi rasa-rasanya tidak ada gairah dan selama ini tetap saja ada perasaan takut dan kuatir akan segala sesuatu yang menindih kita. Kita mencoba melarikan diri dari hadapan Yesus, mencari pertolongan lain. Apabila Saudara saat ini sedang menghadapi keadaan yang demikian, maka cobalah sekali lagi untuk datang kepada Yesus. Tetapi kali ini Saudara harus datang dengan keyakinan teguh bahwa Yesus adalah Allah yang berkuasa mengubahkan segala sesuatu. Hanya saja Saudara harus yakin dan fokus pada YESUS KRISTUS, jangan coba-coba membagi dengan keyakinan di luar Yesus. Niscaya kita akan menemukan Tuhan dan yang siap untuk memuaskan roh dan jiwa kita.
Anugerah keselamatan adalah usaha Allah Bapa untuk memulihkan manusia berdosa kepada rancangan Allah semula, yaitu menjadi serupa dengan Diri-Nya [to be like Him], karena manusia telah kehilangan kemuliaan Allah [Roma 3:23]. Anugerah keselamatan disediakan untuk semua manusia tanpa kecuali. Namun tidak semua orang mengalami keselamatan, karena tidak memenuhi persyaratannya, yaitu percaya dan menerima anugerah tersebut [Yohanes 1:12; 3:16]. Demikian juga untuk hal-hal lain, semuanya bersyarat dan tidak terjadi secara otomatis dan mistik. Ada hukum “tabur-tuai” [Galatia 6:7], contoh: 1. Janji perlindungan Tuhan hanya berlaku bagi mereka yang mengasihi dan hatinya melekat kepada Tuhan [Mazmur 91:14-16]. 2. Janji penyertaan Tuhan Yesus berlaku bagi mereka yang pergi untuk menjadikan orang orang menjadi murid-Nya [Matius 28:19-20]. 3. Janji penggarapan Bapa terhadap karakter kita hanya berlaku bagi orang yang mengasihi-Nya [Roma 8:28]. Mereka yang menghormati Tuhan, serius masuk dalam proses keselamatan, selalu membela dan ikut menyelesaikan pekerjaan-Nya [Filipi 2:12; Yohanes 4:34]. 4. Untuk bisa mengerti kehendak Bapa, apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna harus mengalami pembaharuan pikiran. 5. Contoh lain: Kemerdekaan dari berbagai belenggu/ikatan [Yohanes 8:31-32], syarat hidup berbuah [Yohanes 15:4], terlepas dari penghukuman harus ada di dalam Kristus dan tidak hidup/berjalan menurut daging, tetapi menurut Roh [Roma 8:1]. Syarat untuk menerima pengampunan [Matius 6:14; 1 Yohanes 1:9]. Jadi secara prinsip, hidup dalam Tuhan dan bertumbuh dewasa secara rohani tidak cukup hanya mengharapkan Tuhan yang melakukan bagian-Nya, tapi kita juga harus ikut bertanggung jawab melakukan bagian kita.
Kata “murid = disciple [bhs. Inggris]”. Dari kata ini lahir kata discipline atau disiplin dalam bahasa Indonesia. Seorang disciple [murid] yang baik mempunyai tingkat discipline [disiplin] yang tinggi. Dengan disiplin yang tinggi dia membangun ketaatan dalam dirinya. Renungan kita hari hari ini adalah di atas landasan apa seorang murid Kristus membangun ketaatannya dengan disiplin yang tinggi? Ketaatan dapat berlandaskan atas kepatuhan terhadap suatu idealisme. Ketaatan dapat juga berlandaskan atas kepatuhan terhadap pemimpin yang bersifat diktator. Seringkali terjadi dan kita saksikan, walaupun idealisme keliru, kepatuhan tetap dilakukan. Kepatuhan/ketaatan seperti itu membawa kesengsaraan. Dalam sebuah pemerintahan hal tersebut membawa kepuasan dan kenikmatan hidup bagi para pemimpinnya tapi membawa penderitaan bagi rakyatnya. Alkitab mengajarkan landasan ketaatan yang tidak sama dengan yang diajarkan manusia. Berdasarkan Firman-Nya, landasan ketaatan adalah KASIH, bukan suatu idealisme, bukan juga seorang pemimpin yang diktator. Landasan ketaatan adalah nilai hidup yang luhur, yaitu KASIH. Mengasihi berarti menaati. Yesus mengasihi Bapa dan Bapa mengasihi Yesus. Berlandaskan kasih, Yesus melakukan segala sesuatu yang diperintahkan Bapa kepada-Nya [Yohanes 5:20; 14:31]. Itu sebabnya kita yang mengasihi Yesus wajib menaati semua perintah-Nya seperti yang Yesus teladankan dalam hidup kemanusiaan-Nya, Yesus taat pada perintah Bapa. Rasul Paulus menyaksikan bahwa kasih Kristus yang menguasai hidup-Nya [2 Korintus 5:14]. Berlandaskan pada kasih, Rasul Paulus melaksanakan Firman-Nya dengan penuh ketaatan. Sekalipun harus menghadapi kesulitan, aniaya, penderitaan, ancaman maut, Rasul Paulus tetap mengasihi Tuhan [Roma 8:38-39]. Rasul Paulus juga tetap menaati perintah dan hukum-hukum-Nya. Mengasihi Tuhan berarti menaati Firman-Nya. Bagaimana dengan kita?
Mengalami Tuhan 4 Yesaya 6:1-8 Dalam tahun matinya raja Uzia aku melihat Tuhan duduk di atas takhta yang tinggi dan menjulang, dan ujung jubah-Nya memenuhi Bait Suci. [ayat 1] Ada lima orang buta yang bersama-sama pergi ke kebun binatang untuk mengetahui seperti apakah binatang yang disebut gajah itu. Lalu sampailah mereka di tempat di mana gajah berada dan minta diizinkan untuk memegang gajah itu. Orang yang pertama memegang belalai gajah, lalu berkata: ’O ternyata gajah itu hewan yang berbadan panjang mirip seperti ular.’ Orang yang ke dua memegang telinga gajah dan berkata: ’Kamu salah. Menurutku gajah itu tidak memanjang, tapi lebar. Seperti kipas yang besar.’ Orang yang ke tiga memegang kaki gajah, serta berkata: ’Kalian itu bagaimana? Gajah itu berbentuk seperti tiang yang tegak.’ Orang yang ke empat memegang badan gajah dan berkata: ’O..... kalian semua salah. Jelas nih gajah itu datar, seperti tembok.’ Orang yang ke lima memegang ekor gajah, seraya berkata: ’Kalian semua ngawur. Ini lho gajah itu kecil dan panjang seperti tali.’ Sama seperti kelima orang buta itu berpendapat tentang gajah, masing-masing orang bisa punya pendapat yang berbeda-beda tentang Tuhan, sesuai dengan sudut pandang mereka masing-masing. Namun Tuhan yang sebenarnya bukanlah Tuhan menurut pengertian manusia. Kita tak mungkin mengenal Tuhan sebagaimana Dia adanya, kecuali Dia yang menyatakan diri-Nya sendiri kepada kita. Yesaya mengalami Tuhan dan melihat Tuhan sebagai mana Dia ada. Tuhan yang mulia yang duduk di atas tahta-Nya. Bukan Yesaya yang berimajinasi tentang Tuhan. Tapi Tuhan berkenan menyatakan diri-Nya kepada Yesaya. Pengalaman Yesaya ini bisa menjadi tolok ukur tentang mengalami Tuhan. Yaitu: 1. Orang yang mengalami Tuhan akan semakin mengenal Tuhan dalam kekudusan-Nya. Tuhan adalah kudus. Mengenal Tuhan adalah mengenal Dia dalam kemuliaan dan kekudusan-Nya. 2. Orang yang mengalami Tuhan akan semakin menyadari keberadaannya. Setelah melihat Tuhan, Yesaya sadar akan keadaan diri dan bangsanya yang berdosa. Dan ada kerinduan dalam hatinya untuk disucikan dari dosa tersebut. Maka orang yang mengalami Tuhan hidupnya akan semakin dikuduskan. 3. Orang yang mengalami Tuhan akan semakin mengerti panggilannya. Orang yang mengalami Tuhan akan mendengar suara Tuhan dan mengerti apa kehendak Tuhan yang harus dilakukan olehnya. Demikianlah ciri-ciri orang yang mengalami Tuhan dan mengenal Tuhan sebagaimana Dia ada. Semoga kita semakin mengenal Tuhan dengan benar melalui pengalaman yang sesungguhnya dengan Dia. Pdt. Goenawan Susanto
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Tersingkirkan Menjadi Terperhatikan
14 Februari '17
Teratur
24 Februari '17
Mulut Yang Membawa Berkat !
21 Februari '17
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang