SEPEKAN TERAKHIR
  Senin, 23 April 2018   -HARI INI-
  Minggu, 22 April 2018
  Sabtu, 21 April 2018
  Jumat, 20 April 2018
  Kamis, 19 April 2018
  Rabu, 18 April 2018
  Selasa, 17 April 2018
POKOK RENUNGAN
Penerang yang sejati adalah kehidupan yang terpancar dari hati yang mengasihi Kristus.
DITULIS OLEH
Sdr. Dwi Winarno
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Bersinar Dan Berdampak
Bersinar Dan Berdampak
Sabtu, 09 Desember 2017
Bersinar Dan Berdampak
Markus 4:21-23

Sebuah lilin kecil sangat berguna ketika listrik padam. Sebuah senter sangat membantu untuk menerangi jalan yang akan dilalui. Kedua benda ini sangat diperlukan oleh manusia ketika malam hari mengalami pemadaman lampu dan masalah-masalah yang berkaitan dengan listrik. Keberadaan benda tersebut membantu untuk menerangi ruangan sehingga manusia masih bisa melakukan aktivitas. Jikalau dalam kondisi pemadaman listrik dan tidak dijumpai benda-benda tersebut, maka segala aktivitas akan terganggu. Mungkin saja benda tersebut dianggap remeh dan juga tidak terlalu penting, namun justru benda-benda tersebut menjadi penyelamat ketika tiba-tiba terjadi hal-hal yang tidak diinginkan berkenaan dengan listrik.

Dalam sebuah perumpaan tentang pelita dikatakan bahwa orang yang membawa pelita tidak akan menaruh di bawah tempat tidur maupun tempat yang tersembunyi. Melainkan akan meletakkannya di atas kaki dian supaya terang terpancar ke semua ruangan. Sehingga pelita yang menyala tersebut akan memberikan pengaruh yang besar pada ruangan yang terkena sinarnya. Pelita menyingkapkan semua yang tersembunyi. Jika gelap datang, maka pelita akan menyala dan memberikan penerangan. Jikalau tidak ada pelita yang menyala, maka segala sesuatu yang tersembunyi tidak kelihatan. Maka pelita harus ...selengkapnya »
Persembahan yang terbaik Markus 12:41-44 Maka dipanggil-Nya murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: ’Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya.’ [ayat 43-44] Di mata manusia persembahan janda miskin itu tidak terlalu bernilai karena jumlah nominal yang kecil. Tetapi di hadapan Tuhan persembahannya bernilai tinggi. Yesus memberikan penghargaan kepada janda tersebut. Bagi Yesus persembahan janda itu lebih besar daripada persembahan orang-orang lain yang lebih banyak jumlah nominalnya. Apakah yang hendak diajarkan Yesus melalui peristiwa ini? Pertama, Tuhan menghargai pengorbanan yang dilakukan dengan kerelaan. Janda itu berkorban dengan segala yang dia punya. Hanya dua peser saja yang dia punya untuk menyambung kehidupannya pada hari itu. Setelah uang itu dipersembahkan dia tidak punya sesuatu lagi, bahkan untuk makannya pada hari itu. Tapi janda itu memberikan dengan kerelaan hatinya. Dia tidak mempunyai motif apapun di dalam memberi, kecuali hanya memberi yang terbaik kepada Allah yang layak menerima segalanya dari hidupnya. Kedua, Tuhan melihat iman dari janda itu. Setelah janda itu memberikan segala yang dia punya, bagaimana dia menyambung kehidupannya? Segala nafkahnya sudah dia persembahkan, lalu bagaimana dengan kehidupannya sendiri? Di sini kita melihat ada iman yang luar biasa dari janda yang miskin itu. Janda itu percaya bahwa Allah yang adalah Bapanya akan memelihara hidupnya. Dia menyerahkan hidupnya sepenuhnya kepada Allah yang dia yakini sebagai Gembalanya yang baik. Karena kepercayaannya itulah dia berani mempersembahkan apa yang dia butuhkan untuk kehidupannya sendiri. Ketiga, Tuhan melihat penyerahan hidup dari janda tersebut. Meskipun dia miskin tapi dia tidak terbelenggu oleh kekuatiran akan apa yang akan dia makan. Dia tidak kuatir tentang apa yang akan dia makan hari itu dan besoknya. Dia hanya percaya bahwa kehidupannya setiap hari ada di tangan Tuhan. Melalui cara memberi persembahan akan terlihat apa yang ada di dalam hati kita, apakah kita orang yang percaya penuh kepada Tuhan? Apakah kita orang yang mencintai Tuhan dengan sepenuh hati kita? Kiranya Tuhan menolong kita, sehingga kita bertumbuh dalam iman dan kasih kita kepada Tuhan. Amin. Pdt. Goenawan Susanto
Tahukah anda bahwa dalam proses pembuatan film The Passion Of The Christ telah membuat beberapa pemainnya mengalami perubahan untuk hidup lebih bersungguh-sungguh di dalam Yesus. Dalam kisah kesaksian yang banyak beredar, tercatat sang aktor utama, Jim Caviezel, mengalami perubahan yang luar biasa dalam hidupnya. Dia berubah dari yang semula hanya menjadi pengikut Yesus “yang biasa-biasa” saja, berubah menjadi orang yang setia, tekun dan mau melayani Yesus dengan segenap hati, pasca pembuatan film tersebut. Perubahan yang dialami Jim Caviezel terjadi saat dia mengalami betapa sulitnya memerankan adegan penyaliban. Mulai dari harus dimake-up selama 8 jam tanpa boleh bergerak dan tetap berdiri. Tulang bahu yang bergeser akibat tidak kuat memanggul salib yang dibuat menyerupai aslinya. Terkena sabetan cambuk karena sang penyambuk meleset dari sasaran. Mengalami Hypotermia [penyakit yang dapat mengakibatkan kematian, yang disebabkan oleh kedinginan yang akut], karena harus menjalani pengambilan gambar di tempat yang dingin tanpa memakai baju. Serta yang paling parah adalah hampir mati karena terkena sambaran petir, saat memerankan peristiwa penyaliban. Jim Caviezel, memahami bagaimana beratnya penderitaan yang harus dialami Yesus untuk menyelamatkan manusia dari belenggu dosa melalui peristiwa penyaliban. Satu lagi yang lebih luar biasa adalah kisah pertobatan salah seorang aktor yang memerankan sebagai prajurit Romawi yang mencambuki Yesus dalam adegan film tersebut. Sang aktor ini, yang semula pemeluk agama lain yang tidak percaya sama sekali Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat, berubah menjadi seorang pengikut Yesus yang sejati. Perubahan drastis yang dialami oleh para aktor ini tidak terjadi secara kebetulan. Hal ini diawali dengan adanya respon iman kepada Yesus, sebagai pribadi yang mau berkorban bagi manusia. Para aktor ini disadarkan, bahwa Tuhan telah berkorban secara luar biasa untuk manusia yang berdosa. Pengorbanan-Nya bagi manusia tidak dapat dinilai harganya. Kita dapat membuka hati dan pikiran kita untuk beriman kepada Allah sebagaimana Dia telah menyatakan diri melalui Putra-Nya, Yesus Kristus. Dosa kita dapat diampuni berkat kematian-Nya di atas kayu salib. Hal ini tidak hanya memberi kita jaminan akan kekekalan yang penuh berkat, tetapi juga membuat kehidupan kita kini dan di sini memiliki arti dan pengharapan yang tidak terukur. Peristiwa kematian dan kebangkitan Yesus bukanlah peristiwa biasa. Yesus yang sebagai “aktor utama” dalam peristiwa tersebut, memberi dampak positif bagi umat manusia. Inilah yang disebut sebagai Jesus Effect. Kematian dan kebangkitan Yesus membawa perubahan yang membawa kita keluar dari kegelapan menuju pada terang Kristus. Yohanes 8:12 berkata : ’Akulah terang dunia; siapa saja yang mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang kehidupan.’ Dengan peristiwa kematian dan kebangkitan-Nya , biarlah kita tetap tinggal di dalam iman percaya kita pada Yesus, dan memberi dampak yang positif bagi lingkungan. Sebab Yesus pun datang untuk kita, dan membawa perubahan bagi manusia.
Cerita ini saya dengar dari teman yang melihat sebuah kejadian yang cukup menyentuhnya sehingga ia berusaha menceritakan kenyataan hidup yang ada disekitar kita. Seorang pedagang telur ayam negeri seperti biasa menjajakan daganganya dengan harapan dagangannya laku dan bisa mencukupi kehidupan keluarganya yang memang dalam kondisi pas-pasan. Seperti biasanya dilapaknya ia menjajakan telur ayam dengan harapan pembeli atau pelanggan menghampirinnya. Lama ia menanti akhirnya ada seorang pembeli yang dilihat dari penampilannya orang berada, dan terjadilah penawaran Pembeli : berapa harga telurnya per Kg ? Pedagang : Rp 15.000 [ lima belas ribu ] bu Pembeli : Rp 42.500 [ empat puluh dua limaratus ] ya 3 Kg Pedagang : seharusnya ndak boleh bu tetapi karena memaksa dan supaya ada pembelinya baiklah bu dengan sedih ia menjualnya Dalam hari yang sama orang yang membeli telur tersebut bertemu dengan teman-temannya dengan bersenda gurau mereka melangkah ke rumah makan yang cukup ok. Ia memesan makanan yang enak dan ketika mereka memakannya tersisa banyak makanan karena bagi mereka itu sudah biasa. Ketika pelayan restoran datang memberikan tagihan sejumlah Rp 450.000, ia [ pembeli telur ] mengeluarkan uang sebanyak Rp 500.000 jumlah seratus ribuan lima dan dengan mengucapkan kembaliannya buat kamu saja [ Rp 50.000 ], memang pemandangan itu sudah biasa. Dan dari kejadian tersebut teman saya teringat akan kejadian dengan penjual telur tadi yang begitu membutuhkan uang yang tidak terlalu banyak tetapi sipembeli membeli dengan sesuka hatinya dan jika ia melihat kejadian tersebut teman saya membayangkan betapa sakit hatinya pedagang telur tadi jika ia melihat kejadian di restoran, orang yang membeli telur begitu baik banget dengan pelayan restoran yang sesungguhnya hidupnya lebih baik Sering kali kita berbicara menjadi berkat dan berbuat baik, namun terkadang dalam tindakan kita justru kita melakukan perbuatan baik yang terbalik. Orang yang mungkin tidak seharusnya kita beri justru kita memberikan berlebihan dan orang yang membutuhkan terkadang kita memberikan dengan sisa atau barang yang paling buruk. Dan hal itu kita lakukan sebagai perbuatan baik. Kita berharap memberi yang terbaik untuk Tuhan dan itu bisa kita lakukan dengan memperhatikan mereka yang Tuhan taruh dalam hati kita.
Saat seseorang melontarkan ide yang dianggapnya “cemerlang” dengan antusias, penuh semangat membara bisa saja tiba-tiba menjadi lunglai, lesu. Mengapa ??? Karena ternyata tidak ada yang mendukung ide cemerlangnya itu bahkan tidak sedikit yang mencelanya. Semangatnya seolah bersayap, terbang meninggalkan dirinya, mulutnya terkunci tak sanggup lagi mengeluarkan kata-kata sanggahan. Peristiwa semacam ini sering terjadi bahkan mungkin kita sendiri pernah mengalaminya. Lain halnya dengan Bartimeus, si pengemis buta anak Timeus yang selalu duduk di pinggir jalan mengharap berkat dari orang-orang yang lewat. Walau buta dia tipe orang yang pantang menyerah, selalu semangat. Suatu hari Yesus keluar dari Yerikho bersama-sama para murid dan orang banyak yang berbondong-bondong yang tentu saja membuat suasana menjadi sangat ramai dan menarik perhatian Bartimeus. Ketika Bartimeus mendengar bahwa yang lewat itu adalah Yesus dari Nazaret, serta merta dia berteriak, berseru kepada Yesus untuk mengasihaninya [ayat 47]. Banyak orang merasa tidak nyaman dengan teriakannya itu dan menegurnya supaya diam. Namun larangan itu tidak membuatnya putus asa !! Bartimeus tetap semangat, dia berseru semakin keras untuk minta belas kasihan Yesus [ayat 48]. Yesus menghentikan langkah-Nya, meminta mereka memanggil Bartimeus [ayat 49]. Dengan segera dia berdiri, pergi menjumpai Yesus dan ketika Yesus menanyakan apa yang diinginkannya, tanpa ragu Bartimeus menjawab dia ingin dapat melihat. [ayat 50,51]. Di akhir kisah ini kita tahu Yesus membuat Bartimeus “si buta” dapat melihat kembali karena imannya kepada Yesus dari Nazaret yang diakuinya sebagai “Rabuni/Guru” dan ditinggalkannyalah pekerjaannya sebagai pengemis, mengikuti perjalanan Yesus [ayat 52]. Bagaimana dengan kita? Dalam perjalanan hidup kita, baik di keluarga, pekerjaan bahkan mungkin dalam pelayanan begitu banyak tantangan seakan merintangi bahkan kadang “menjegal” yang membuat kita putus asa, kehilangan semangat. Mari kita belajar dari Bartimeus “si buta” yang selalu semangat dan menghargai sang Rabuni yang memberinya kesempatan untuk dapat melihat dengan cara mengikuti-Nya ke mana sang Guru pergi. Semangat !!!! Amin.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Cintailah Gerejamu
15 April '18
Melakukan Yang Terbaik
23 Maret '18
Habis Gelap Terbitlah Terang
21 April '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang