SEPEKAN TERAKHIR
  Kamis, 18 Januari 2018   -HARI INI-
  Rabu, 17 Januari 2018
  Selasa, 16 Januari 2018
  Senin, 15 Januari 2018
  Minggu, 14 Januari 2018
  Sabtu, 13 Januari 2018
  Jumat, 12 Januari 2018
POKOK RENUNGAN
Hendaklah semangat Natal yang diteladankan Yesus Kristus mewarnai dan kita hidupi dalam keseharian kita.
DITULIS OLEH
Pdt. Andreas Budianto
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Bukan Efek Soda
Bukan Efek Soda
Kamis, 28 Desember 2017
Bukan Efek Soda
Yesaya 52:13–53:12

Pernahkah kita memperhatikan minuman bersoda ketika dibuka dan kemudian dituangkan ke sebuah gelas? Ketika sebuah botol atau kaleng minuman bersoda dibuka akan menimbulkan suara mendesis. Suara tersebut berasal dari tekanan gas karbon dioksida yang keluar dari dalam botol atau kaleng. Ada dorongan gas yang kuat keluar sehingga menimbulkan bunyi. Kemudian ketika dituang ke dalam gelas, maka akan ada busa yang mengembang dengan cepat ke atas tetapi sesaat kemudian hilang. Beberapa orang mengatakannya sebagai efek soda.

Kelahiran Tuhan Yesus ke dunia menyiratkan semangat Natal itu sendiri. Dari renungan-renungan warta yang telah kita baca selama bulan Desember ini dan dari ayat nats hari ini tentang nubuatan seorang hamba Tuhan yang menderita, kita bisa mendaftarkan semangat Natal yang bisa terus kita hidupi setiap hari, dan bukan hanya sekedar ketika menyambut Natal di bulan Desember. Semangat itu antara lain: semangat kesederhanaan, semangat kepedulian kepada sesama, semangat cinta kasih dan hidup damai dengan sesama, semangat mengabdikan hidup dan kerelaan berkorban bagi Tuhan, dan masih banyak lagi yang bisa kita ...selengkapnya »
Dalam sebuah film, drama, atau teater tentunya terdapat peran utama dan pemeran pendukung. Bahkan juga ada yang bekerja di balik layar untuk membantu menyukseskannya. Setiap peran dan bagian tentu bekerja sesuai dengan fungsinya supaya berjalan dengan lancar. Pemeran pendukung harus mendukung cerita supaya tokoh utama semakin nyata dan kelihatan kiprahnya. Demikian dengan yang bekerja di balik layar pasti mempersiapkan segala sesuatu sesuai dengan kebutuhan per bagian. Sehingga setiap peran menjalankan bagiannya supaya berjalan baik. Dan semuanya itu tentu selalu tertuju kepada sang tokoh utama sebagai pemegang peran yang penting. Dalam Yohanes 1:1-18 adalah Sang Firman yang menjadi manusia. Ia datang sebagai manusia untuk menyelamatkan manusia berdosa. Ia yang adalah Allah merelakan diri-Nya dan mengambil rupa menjadi hamba supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya mendapatkan terang yang ajaib. Sang Firman datang sebagai Terang untuk membawa manusia yang hidup di dalam kegelapan. Ketika Terang itu datang ke dunia, maka Terang itu akan bercahaya dan kegelapan tidak akan menang melawannya. Sang Firman tersebut menjadi tokoh utama di dalam dunia ini. Oleh sebab itu, Yohanes Pembaptis diutus untuk mendahului-Nya sebagai penunjuk jalan dan mempersiapkan akan kedatangan Sang Tokoh Utama. Selain mempersiapkan kedatangan Sang Firman, Yohanes Pembaptis juga memberikan kesaksian tentang Terang itu supaya nyatalah Terang itu sampai ke seluruh bumi. Jemaat terkasih, di akhir tahun ini mari kita menunjukkan identitas kehidupan kita sebagai anak-anak Allah. Kita memang bukan pemeran utama, tetapi kita adalah pendukung dari pemeran utama tersebut. Oleh karena itu, mari kita memberikan kesaksian tentang Sang Tokoh Utama atau Sang Firman itu kepada semua orang. Sehingga Sang Tokoh Utama menjadi semakin besar dan mahsyur ke seluruh bumi. Banyak orang yang hidup di dalam kegelapan akan menerima Terang dari Sang Firman.
Kunci keberhasilan di tahun ini Yosua 1:8 Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung. Baru dua minggu kita menjalani tahun 2018. Apakah anda masih ingat resolusi atau rencana atau goal yang anda buat di akhir tahun kemarin? Apakah anda ingin berhasil mewujudkan rencana dan goal itu di tahun ini? Bagaimana supaya usaha dan perjalanan kita di tahun ini berhasil? Firman di atas meneguhkan Yosua ketika akan memasuki Tanah Kanaan. Di hadapannya ada tantangan-tantangan yang besar. Dia harus menyeberangi sungai Yordan, menghadapi orang-orang yang waktu itu menduduki Kanaan dengan kota-kotanya yang kuat [seperti kota Yerikho dengan temboknya yang tebal], juga harus menghadapi orang-orang yang bertubuh raksasa. Apakah dia bisa berhasil mengalahkan semua tantangan itu? Pasti ada perasaan kuatir dan takut menghadapi tantangan yang berat itu. Tetapi Firman Tuhan memberinya kekuatan untuk tidak kuatir dan takut. Firman Tuhan mengingatkan dia akan pentingnya memperkatakan dan merenungkan Firman Tuhan. Firman itu sangat tepat buat kita juga di awal tahun ini. Di hadapan kita ada tantangan-tantangan yang harus kita hadapi. Tuhan tidak ingin kita menyerah menghadapi tantangan apapun. Bukankah Dia adalah Tuhan yang menyertai kita dan yang membuat perjalanan kita berhasil? Namun Dia meminta kita untuk bertindak hati-hati sesuai dengan Firman-Nya. Inilah yang akan menjadi faktor penentu keberhasilan kita. Tuhan sudah menunjukkan caranya agar kita berhasil, yaitu dengan memperkatakan dan merenungkan Firman Tuhan. Penting sekali bagi kita untuk mengucapkan Firman itu di mulut kita. Apa yang kita ucapkan itu berkuasa. Dengan mengucapkan Firman itu berarti kita mengaminkan dan mengikuti kebenaran dari Firman itu. ’Tetapi firman ini sangat dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu, untuk dilakukan.’ [Ulangan 30:14] Marilah membiasakan diri untuk memperkatakan Firman Tuhan. Dengan kita memperkatakan Firman Tuhan, kita sedang mempersiapkan jalan menuju keberhasilan. Tuhan memberkati kita. Pdt. Goenawan Susanto
Dengan perasaan antara yakin dan ragu, Mbah Wanidy memberanikan diri mengayunkan kakinya selangkah demi selangkah menghampiri orang yang tampak seperti Benay itu. Namun ketika jarak makin dekat, Mbah Wanidy memperlambat langkahnya. Kini keraguan lebih menguasainya. Tampak dipenglihatannya bahwa Benay lebih tua dari usia semestinya. Mbah Wanidy bertanya-tanya dalam benaknya mengapa begitu cepat Benay menjadi tua? Apakah ini karena pengaruh tekanan berat selama melayani di Iraq? Atau karena terpapar radiasi bom biologi? Tak bersedia ditaklukkan oleh keraguannya, Mbah Wanidy memantapkan langkahnya untuk menjumpai Benay-tua itu. Kini ia bertemu muka dengan muka. Tapi sesuatu yang tak diduganya terjadi. Tubuh renta Mbah Wanidy tiba-tiba bergetar hebat. Keringat dingin keluar membasahi wajahnya. Mulutnya terkatup tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Sorot mata dari Benay-tua menusuk tajam tanpa berkedip. Mbah Wanidy sangat ketakutan. Ia merasa bahwa orang bertubuh gempal yang ada di hadapannya adalah seorang preman pelabuhan, bukan Benay yang ia sangka. Jemaat yang terkasih, perasaan antara yakin dan ragu seperti yang dialami oleh Mbah Wanidy pernah dialami pula oleh Yohanes Pembaptis. Dari dalam kondisi menderita karena sedang dipenjara, Yohanes Pembaptis digelayuti keraguan apakah Yesus itu sungguh Kristus [Mesias]. Tidak mau ditaklukkan oleh keraguannya, ia menyuruh murid-muridnya untuk menjumpai dan bertanya secara langsung pada Yesus. Yesus tidak memberikan jawaban secara langsung, “ya” atau “tidak”. Dia memilih untuk menyampaikan bukti mujizat-mujizat yang telah dilakukan-Nya dan kabar baik yang diberitakan-Nya bagi orang miskin. Dengan demikian, Yesus memberi ruang pergumulan dalam diri Yohanes Pembaptis dan murid-muridnya untuk memutuskan sendiri apakah Dia adalah mesias atau tidak bagi mereka. Jemaat yang dikasihi Tuhan, berbagai penderitaan hidup yang kita alami dapat “melotot tajam” menantang iman kita. Bukankah beberapa orang di antara kita sering bertanya mengapa mengalami musibah atau masalah yang berat? Padahal sudah setia beribadah? Sudah aktif melayani Tuhan? Dalam kondisi seperti itu kita menjadi gemetar dan keraguan iman kita alami. Ini adalah hal yang wajar dalam hidup setiap orang percaya. Justru di sinilah iman kita sedang diasah dan dipertajam oleh penderitaan hidup kita. Oleh sebab itu Tuhan menghendaki kita untuk tidak kecewa dan menolak Dia. Namun sebaliknya, semakin mengarahkan diri untuk belajar berserah, bersyukur dan mengarahkan hidup pada kehendak-Nya. Berani menyangkal diri dan memikul salib. Selamat untuk tidak kecewa pada Tuhan!
Sungguh memalukan ketika kita pun harus diberitahu untuk datang kepada Yesus! Pikirkan hal-hal yang menyebabkan kita tidak datang kepada-Nya. “Marilah kepadaKu...” Dalam tiap dimensi di mana kita tidak tulus, kita akan mempersoalkan atau menghindari persoalan daripada datang kepada-Nya. Selama kita masih memiliki sedikit saja rasa tidak hormat secara rohani, itu akan terungkap dalam kenyataan bahwa kita mengharapkan Allah meminta kita untuk melakukan sesuatu yang sangat besar. Padahal yang Allah katakan kepada kita hanyalah, “ Marilah kepadaKu....” “Marilah kepadaKu..” ketika mendengar perkataan tersebut kita akan mengetahui bahwa sesuatu harus terjadi dalam diri kita sebelum kita dapat datang. Roh Kudus akan menunjukkan apa yang harus kita lakukan, ini mencakup segala halangan yang mencegah kita untuk datang kepada Yesus. Dan kita tidak akan pernah bisa berjalan lebih jauh sebelum kita mempersilahkan Roh Kudus untuk melakukannya karena tanpa Roh Kudus kita tidak dapat datang kepada Yesus. Seperti induk ayam yang selalu membuka sayapnya bagi anak-anaknya untuk melindungi, menaungi, memberikan kehangatan dan kasihnya. Demikian juga halnya Tuhan kita yang tak terkalahkan, tak tertaklukan, tak kenal lelah yang dengan penuh kasih selalu berkata, “Marilah kepadaKu...” Karena kerinduan-Nya untuk selalu ingin merengkuh kita untuk itu “datanglah kepada-Nya”, maka kita mengalami sukacita, ketenangan, kedamaian, kelegaan.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Apakah Dia Benay ?[2]
22 Desember '17
Menghayati Anugerahnya
26 Desember '17
Menyiapkan Lahan Hati
09 Januari '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang