SEPEKAN TERAKHIR
  Senin, 18 Juni 2018   -HARI INI-
  Minggu, 17 Juni 2018
  Sabtu, 16 Juni 2018
  Jumat, 15 Juni 2018
  Kamis, 14 Juni 2018
  Rabu, 13 Juni 2018
  Selasa, 12 Juni 2018
POKOK RENUNGAN
Pikiran kita menentukan siapa kita, ketika kita memikirkan yang buruk maka tindakan kitapun akan buruk dan begitu sebaliknya. Marilah kita memulai hidup dengan pikiran yang benar dan mulia
DITULIS OLEH
Pdm. Benaya D. Cahyono
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
  Ketul
Home  »  Renungan  »  Cara Pandang Yang Baru
Cara Pandang Yang Baru
Jumat, 12 Januari 2018
Cara Pandang Yang Baru
Filipi 4 : 8

Alkisah, ada seorang penebang kayu. Suatu hari dia kehilangan kapaknya, sehingga dia tidak bisa bekerja. Dia mencurigai tetangganya yang mencuri kapaknya. Pagi itu ketika sang tetangga berangkat & menutupi peralatan kerjanya dengan kain, rasanya kapaknya pasti disembunyikan disana, apalagi tetangga ini senyumnya terasa tidak tulus. Pasti dia pencurinya. Besoknya, tetangganya bahkan terasa jadi ramah berlebihan karena biasanya jarang menyapa, kali ini menyempatkan berbasa-basi. Apalagi dilihat hasil tebangan kayunya dua hari ini banyak sekali, pasti dia menebang menggunakan kapak curiannya. Semakin dipikir semakin yakin.
Pada hari ketiga baru disadari ternyata kapaknya tersimpan di laci dapur. Istrinya yg sedang keluar kota menyimpankan disana. Senang benar hatinya karena kapaknya dapat ditemukan kembali.

Dia amati lagi tetangganya yang lewat, dan dia merasa tetangga ini tidak berkelakuan seperti pencuri & senyumnya juga tulus-tulus saja. Bahkan percakapannya terasa sang...selengkapnya »
Saat Santo dan Samat diutus mewakili perusahannya pergi ke Jakarta. Mereka berdua berasal dari Probolinggo, sehingga bagi mereka wilayah Jakarta sangat asing Mereka diutus untuk mengikuti meeting dengan customer dari luar negeri di sebuah tempat di pinggiran Kota Jakarta. Karena tempatnya terlalu asing bagi mereka, maka hanya dengan peta google map di Hp mereka untuk dapat menemukan tempat tersebut. Peristiwa di atas mengingatkan kita tentang dua orang pribadi yang berbeda latar belakangnya. Namun keduanya merelakan dirinya dipimpin oleh Roh Kudus dalam perjalanan hidupnya. Sehingga apa yang menjadi kehendak dan tujuan Allah akhirnya dapat tergenapi dalam kehidupan mereka berdua. Tokoh pertama adalah KORNELIUS orang bukan Yahudi namun hidup takut akan Allah, suka berkorban melalui sedekah dan suka berdoa. Tokoh berikutnya Rasul PETRUS yang baru saja mengalami kepenuhan Roh Kudus dan sedang menjalankan tugas misi sebagai saksi Kristus. Keduanya dipertemukan secara unik oleh pimpinan Roh Kudus melalui ketaatan kepada pernyataan Allah yang mereka terima. Kornelius ditemui oleh seorang Malaikat Allah, sedangan Rasul Petrus mendapatkan penglihatan langsung dari Allah. Ketika keduanya taat melakukan apa yang menjadi petunjuk Allah melalui pimpinan Roh Kudus maka rencana dan kehendak Allah dalam kehidupan kedua orang tersebut tergenapi. Yaitu Kornelius dan seluruh keluarganya diselamatkan dan dibaptis didalam nama Tuhan Yesus serta mengalami kepenuhan Roh Kudus [ayat 44-48]. Rasul Petrus berhasil menjadi saksi Kristus yang efektif dengan memberi kesaksian tentang karya dan pribadi Kristus kepada Kornelius [ayat 34-43]. Bagaimana pimpinan Roh Kudus dapat dialami oleh mereka berdua dan bagaimana juga pengalaman yang sama dapat dialami dalam kehidupan kita saat ini? Ternyata nas ini memberikan kepada kita tiga rahasia yaitu [1] Kita harus hidup takut akan Allah. [2] Kita harus hidup didalam doa menjalin hubungan yang intim dengan Allah setiap hari. [3] Kita harus rela berkorban untuk mentaati apa yang Allah kehendaki untuk kita lakukan [ayat 2-8;10-24]. Inilah tiga syarat yang harus ada di dalam diri apabila setiap hari ingin dipimpin oleh Roh Kudus agar hidup kita selaras dengan kehendak Allah. Doa sepuluh hari Pentakosta telah kita lalui bersama. Banyak diantara kita yang mengalami kepenuhan Roh Kudus. Hendaknya momentum pengalaman seperti ini jangan sampai berhenti begitu saja. Langkah selanjutnya agar Roh Kudus bisa bekerja maksimal dalam hidup sehingga mampu menjadi saksi Kristus adalah hidup dipimpin oleh Roh Kudus yang menuntun setiap langkah kita sebagai saksi Kristus seperti Kornelius dan Petus.
Setiap mahluk hidup membutuhkan rasa aman agar sehat secara psikologis. Oleh sebab itu mereka diperlengkapi dengan kemampuan untuk melindungi diri. Contoh, keong memiliki cangkang untuk melindungi badannya yang lemah. Kura-kura memiliki tempurung yang kuat untuk menyembunyikan bagian tubuhnya. Bunglon mempunyai kemampuan ‘berkamuflase’ untuk melindungi dirinya. Manusia dengan akal budinya, mengembangkan diri dan ilmunya untuk melindungi diri. Pakaian dirancang untuk melindungi dari cuaca. Rumah dibangun untuk melindungi dari cuaca, serangan binatang buas, dan sebagainya. Intinya, setiap mahluk hidup, khususnya manusia, butuh terlindungi sehingga merasa aman. Untuk mencapai keluarga yang sehat secara psikologis membutuhkan rasa aman. Jika kita berkaca dari keluarga Yusuf dan Maria, kita bisa melihat situasi sulit yang harus dihadapi yang mengancam rasa aman keluarga tersebut. Kehamilan Maria yang di luar nalar manusia, usaha pembunuhan oleh Herodes, menyingkir ke Mesir sebagai orang asing, kembali ke tanah Israel tetapi tetap ada ancaman merupakan situasi yang bisa merenggut rasa aman keluarga mereka. Tetapi mereka sanggup menghadapi bahkan melewati ‘ancaman’ yang bisa merusak rasa aman keluarga mereka. Hal tersebut disebabkan: 1. Ketaatan Maria dan ketulusan hati Yusuf. Ketaatan dan ketulusan hati merupakan perpaduan yang sanggup meredam setiap situasi yang berpotensi menghilangkan rasa aman. Ketaatan Maria menerima sebuah situasi yang tidak mudah telah memberinya keikhlasan dan kelapangan hati untuk mengandung bayi Yesus. Ketulusan hati Yusuf menerima kondisi Maria yang telah hamil meredakan gejolak hatinya yang semula berniat memutus pertunangannya dengan Maria. Dan karena ketulusan hatinya, Yusuf bersedia menikahi, melindungi, dan bertanggung jawab sepenuhnya kepada Maria dan bayi Yesus. Sikap-sikap tersebut telah membangun rasa aman dalam keluarga mereka. 2. Campur tangan Ilahi. Terciptanya rasa aman dalam keluarga mereka tidak lepas dari campur tangan Allah. Beberapa kali Allah mengutus malaikatnya untuk menyampaikan pesan-pesan penting kepada Maria dan Yusuf. Maria dan Yusuf mengerti rencana illahi bagi manusia berkat penjelasan malaikat. Bayi Yesus selamat dari usaha pembunuhan Herodes juga karena campur tangan Allah. Campur tangan Allah tersebut telah meredam gejolak batin Maria – Yusuf dan membawa keselamatan bayi Yesus. Setiap keluarga tentu tidak luput dari kondisi yang bisa merusak rasa aman. Perbedaan pendapat dan kebiasaan, konflik antar anggota keluarga, masalah keuangan, sakit penyakit, bisnis yang macet, dan sebagainya berpotensi merenggut rasa aman. Hadapilah semua itu dengan ketaatan dan ketulusan hati, serta selalu harapkan campur tangan Allah.
Suatu saat, di perempatan jalan Gajahmada Kampung kali, saya melihat seorang anak perempuan kecil, penjual koran, menawarkan koran pada seorang pengendara motor, tapi tidak mau membeli koran. Anak kecil penjual koran terus menawarkan. Kemudian pengendara motor mengeluarkan uang dari dompet dan ia memberikan sebagai sedekah saja. Anak kecil tersebut menolak lalu meninggalkan motor tersebut, saya amati, ternyata dia menangis tersedu-sedu, dia merasa dianggap sebagai “pengemis”. Saya merasa bersimpati dan kagum pada gadis kecil penjual koran tersebut. Beberapa waktu kemudian saya sengaja lewat di jalan yang sama, penjual koran yang sama melihat saya dan menawari koran. Saya buka jendela dan saya tanya harga koran berapa? Dia menjawab Rp 2000,-. Lalu saya mengambil uang Rp 5000,- dan memberikan padanya: “Dik kembaliannya buat adik ya”. Si anak kecil tersebut tidak mau menerima, dan tetap bersikukuh minta Rp 2000,- saja. Saya hanya bisa menghela nafas panjang. Kita memang harus mendidik generasi penerus bangsa ini bukan bermental peminta-minta. “Kerja adalah sebuah kehormatan’. Suatu pantangan bagi anak kita, generasi penerus memiliki “mental pengemis”. Kerja bukanlah masalah uang semata, namun lebih mendalam mempunyai sesuatu arti bagi hidup kita. Kadang mata kita menjadi ’hijau’ melihat uang, sampai akhirnya melupakan apa arti pentingnya kebanggaan profesi yang kita miliki.Bukan masalah tinggi rendah atau besar kecilnya suatu profesi, namun yang lebih penting adalah etos kerja, dalam arti penghargaan terhadap apa yang kita kerjakan. Sekecil apapun yang kita kerjakan, sejauh itu memberikan rasa bangga di dalam diri, maka itu akan memberikan arti besar.
Tugas generasi kita Mazmur 78:6-7 supaya dikenal oleh angkatan yang kemudian, supaya anak-anak, yang akan lahir kelak, bangun dan menceritakannya kepada anak-anak mereka, supaya mereka menaruh kepercayaan kepada Allah dan tidak melupakan perbuatan-perbuatan Allah, tetapi memegang perintah-perintah-Nya; Saya pernah menemukan sebuah posting di medsos yang mengatakan bahwa kita yang lahir di tahun 1960-70-80an, adalah generasi yang paling beruntung. Karena kitalah generasi yg mengalami loncatan teknologi yang begitu mengejutkan di abad ini, dengan kondisi usia prima. Kitalah generasi dengan masa kecil bertubuh lebih sehat dari anak masa kini, karena lompat tali, loncat tinggi, petak umpet, gobak sodor, main kelereng, karetan adalah permainan yang tiap hari akrab dengan kita. Sekaligus saat ini mata dan jari kita tetap lincah memainkan berbagai game di gadget. Kitalah generasi terakhir yang pernah menikmati lancarnya jalan raya tanpa macet dimana-mana walaupun jalan belum diaspal. Juga bersepeda onthel / motor menikmati segarnya angin jalan raya tanpa helm di kepala. Kitalah generasi terakhir yang pernah menikmati jalan kaki berkilo meter tanpa perlu berpikir ada penculik yg membayangi kita. Kitalah generasi terakhir yang pernah begitu mengharapkan datangnya Pak Pos menyampaikan surat dari sahabat dan kekasih, namun dilain sisi kita juga bisa menikmati email bahkan membuat blog pribadi kita. Sebenarnya ada yang lebih lagi. Kita yang lahir di tahun-tahun 50-80an adalah generasi yang sangat beruntung secara rohani, karena kita mengalami masa-masa kebangunan rohani. Kita sempat menikmati KKR-KKR yang memberikan semangat rohani. Ada banyak bermunculan persekutuan-persekutuan doa yang membawa semangat pembaharuan bagi gereja-gereja yang saat itu mengalami kesuaman. Sebagian dari kita yang pernah menjadi pelajar atau mahasiswa pasti pernah diajak untuk bergabung dalam persekutuan doa di sekolah-sekolah atau kampus-kampus. Kita juga sempat menikmati kegerakan pujian dan penyembahan, dengan munculnya lagu-lagu pujian baru yang membawa semangat baru pula. Ada banyak orang yang mengalami pertobatan dan pembaharuan iman melalui kegerakan-kegerakan rohani itu. Dan hasilnya adalah orang-orang Kristen generasi sekarang ini. Pernahkah kita bertanya: Lalu apa? Apakah maksud Tuhan untuk generasi kita ini? Tuhan punya maksud untuk generasi kita, yaitu agar kita menjadi generasi yang mengenal Dia dengan benar. Agar kita mengenal Dia sebagai Allah yang dahsyat dan penuh kasih karunia. Namun bukan hanya sampai di situ saja. Kita punya tugas generasi, yaitu untuk menyampaikan pengenalan akan Allah itu kepada generasi selanjutnya. Agar generasi di bawah kita nantinya juga percaya kepada Allah dan mentaati perintah-perintah-Nya. Pdt. Goenawan Susanto
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Merindukan dan Meminta Roh Kudus
01 Juni '18
Pribadi Roh Kudus
23 Mei '18
Sang Waktu
12 Juni '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang