SEPEKAN TERAKHIR
  Senin, 23 April 2018   -HARI INI-
  Minggu, 22 April 2018
  Sabtu, 21 April 2018
  Jumat, 20 April 2018
  Kamis, 19 April 2018
  Rabu, 18 April 2018
  Selasa, 17 April 2018
POKOK RENUNGAN
Apapun yang engkau alami, datanglah kepada Tuhan Yesus
DITULIS OLEH
Sdr. Dwi Winarno
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Datang Kepada Yesus
Datang Kepada Yesus
Sabtu, 13 Januari 2018
Datang Kepada Yesus
Yohanes 2 : 1-11

Pada pertengahan bulan Desember 2017, di rumah nenek saya ada acara keluarga besar. Mulai dari keluarga tertua sampai yang termuda berkumpul di sana, bahkan mengundang tetangga-tetangga dan saudara. Acara tersebut sudah direncanakan dan dibicarakan bersama. Sehingga membutuhkan persiapan yang cukup supaya acara berjalan lancar. Mereka membagi tugas, para ibu dan wanita bagian dapur, yaitu mulai dari belanja sampai masak-memasak. Bagian para bapak dan pria mempersiapkan tempat. Ada yang mengecat rumah, ada yang memasang lampu tambahan untuk penerangan dan sebagainya. Semua sudah dipersiapkan sesuai dengan rencana. Namun, terjadi keterlambatan saat penyajian makanan, karena orang yang membantu membagikan makanan jumlahnya sedikit. Di saat seperti itu, mungkin ada perasaan tidak enak [sedikit panik] dengan para tamu yang hadir karena harus menunggu cukup lama. Tetapi semua dapat di atasi. Para tamu masih sabar menanti karena pada saat itu juga sedang hujan turun. Sehingga mereka tidak terburu-buru meninggalkan acara tersebut.

Hal yang hampir sama juga pernah dialami ketika ada perkawinan di Kana. Saat itu keluarga mempelai kehabisan anggur untuk disajikan kepada para tamu. Sehingga muncul kepanikan dan perasaan tidak nyaman ketika mendengar masalah tersebut. Karena ...selengkapnya »
Sejenak kita tinggalkan Sambey, Pdt. Itong dan Mbah Wanidy dengan segala pikiran yang berkecamuk di kepala mereka. Marilah kita arahkan pandangan mata kita nun jauh di sana. Pada sosok Benay yang berada di Iraq, negeri Saddam Husein yang kaya minyak namun sekaligus kaya konflik. Ya, Benay masih hidup dan sangat rindu untuk dapat segera pulang ke tanah air. Ia sudah kangen dengan nasi goreng babat, lunpia Semarang, dan tentu saja nasi bungkus dan racikan kopi khas angkringan Mbah Wanidy. Ia sangat rindu pula pada Sambey, sahabat karibnya. Bayangan canda tawa dan keakraban di antara mereka terukir indah di langit-langit angannya. Dan itu semua membuat waktu penantian seperti ini terasa begitu lama dan sangat menyiksa batin Benay. Namun di sela-sela dera kerinduan itu, ada nuansa kepuasan yang tak terlukiskan dalam nurani Benay. “Sudah selesai”, kata Benay. Kalimat singkatnya itu merangkumkan semua jerih lelah dan pengorbanan yang telah ia persembahkan dalam misi kemanusiaan yang penuh risiko. Ya, Benay sungguh bersyukur diberi kesempatan untuk mencicipi pengalaman-pengalaman yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Melalui pengalaman-pengalaman itu hidupnya makin diperkaya dan kian merasakan campur tangan Tuhan sungguh nyata. Jemaat yang terkasih. Sama seperti Benay yang telah setia dan berhasil menyelesaikan misinya, demikian juga dengan Yesus Kristus. Hidupnya sungguh-sungguh dibaktikan-Nya untuk menggenapi seluruh kehendak Bapa. Yaitu kehendak untuk menanggung dosa seisi dunia, supaya manusia yang berdosa mendapatkan anugerah keselamatan oleh iman kepada-Nya.Saat-saat penghinaan, penyiksaan dan penyaliban yang begitu menyakitkan, menjadi saat-saat yang lama bagi Yesus. Namun Dia begitu sabar menanggungnya dan menjalaninya dengan setia. Hingga saat pamungkas yang dinanti-nanti tiba. Dengan tergantung di kayu salib, Yesus berkata, “Sudah selesai.” Dia menundukkan kepala lalu menyerahkan nyawa-Nya. Dengan perkataan itu Yesus maksudkan untuk menyatakan bahwa: pertama, misi penyelamatan-Nya untuk menggenapi kehendak Bapa sudah rampung; kedua, jangan ada lagi praktek-praktek ketidakadilan dengan mengorbankan orang-orang lemah, miskin dan tak berdaya untuk menanggung/menutupi kesalahan para penguasa yang tak bernurani. Jemaat yang dikasihi Tuhan. Beberapa hari menjelang peringatan Jumat Agung dan Paskah ini, marilah kita bersyukur buat anugerah keselamatan yang sudah kita terima. Sekaligus kita mengingat bahwa keselamatan itu harganya sangat mahal, yaitu seharga darah Kristus yang suci dan dengan demikian harganya tak terkira. Marilah kita menghargai-Nya dengan hidup benar dan adil di hadapan Tuhan dan bagi semua orang. Janganlah kita hidup menikmati gelimang dosa lagi. Dan jauhilah sikap dan tindakan yang mencari aman dengan mengabaikan dan mengkambing-hitamkan orang-orang kecil “yang tak berdosa”. Selamat bersyukur. Terpujilah Tuhan!
Saya pernah membaca cerita sebuah kisah nyata mengenai seorang wanita yang sedang hamil. Ia adalah salah seorang aktifis yg menentang adanya aborsi. Ternyata ia sendiri dihadapkan pada keadaan yg mengharuskan dirinya mengaborsi kandungannya, sebab bayinya didiagonsa memiliki ketahanan tubuh yang rapuh, jika anak itu dilahirkan, umurnya hanya 2 hari saja. Dan bukan hanya itu saja, ada resiko yang akan mengakibatkan kematian si ibu kalau dia melahirkan anak tsb. Dokter menyarankan ia untuk mengugurkan kandungannya. Ia merasa terjepit diantara keadaan bahwa ia adalah seorang penentang aborsi sementara nyawanya terancam kalau ia tidak mengaborsi anak tsb. Namun ia berdoa dan ia mengambil suatu keputusan bahwa ia akan melahirkan anaknya. Ia berkata bahwa anak itu layak untuk hidup walaupun hidupnya hanya sebentar. Suaminya pasrah dan menerima keputusan tsb. Akhirnya ketika bayi itu lahir, ibunya meninggal. Pengorbanan si ibu ternyata tidak sia-sia, anak itu ternyata bertahan hidup selama 2 minggu dan ketika anak bayi itu meninggal, ia mendonorkan ginjal dan jantungnya untuk 2 nyawa bayi lain yang terancam meninggal. Ibu itu mengorbankan dirinya, agar bayi tersebut bisa menghidupkan nyawa bayi-bayi lain. Dari cerita peristiwa di atas, demikian juga pengorbanan Yesus di kayu salib, merupakan bentuk nyata pengorbanan Bapa di Surga untuk keselamatan orang percaya. Yesus harus menderita, di salibkan, mati dan bangkit merupakan pengorban yang tak ternilai harganya. Itu semua Allah lakukan agar kita yang seharusnya di hukum maut oleh dosa, tetapi di selamatkan melalui percaya kita kepada pengorbanan Yesus di kayu salib [Roma 6:23]. Kalau Allah sendiri melalui Yesus rela berkorban untuk kita, lalu apa yang menjadi balasan kita ? Apakah yang dapat kita korbankan sebagai bentuk trimakasih kita pada Allah ? Maka ketika kita dihadapkan kepada pengorbanan, berdoalah kepada Tuhan, apakah yang menjadi kehendakNya, seperti ketika Abraham harus mengorbankan anak tercintanya, Ishak. Ketika Abraham pasrah kepada Tuhan dan ia mengorbankan anaknya, Allah memberikan berkat berlimpah-limpah dan berkali-kali lipat kepadanya. Jika Allah melakukan hal yang sama kepada Abraham, maka Ia-pun pasti akan melakukan hal yang sama kepada kita anak-anakNya juga. Karena dalam suatu pengorbanan yg harus kita pilih, Tuhan memiliki rencanaNya sendiri, hanya tinggal maukah kita menjalaninya, maukah kita mengorbankan harta kita, perasaan kita, bahkan nyawa kita sekalipun? Untuk sesuatu yang lebih besar, untuk kemulyaan Tuhan. Marilah kita mulai memikirkan dan minta petunjuk Tuhan, apakah yang dapat kita korbankan untuk menghasilkan dampak yang lebih besar bagi kebaikan dan kemulyaan Allah.
Berdoa adalah kegiatan terpenting dalam kehidupan Gereja. Doa dikatakan sebagai nafas orang beriman, artinya adalah bahwa berdoa merupakan bagian terpenting yang tidak dapat ditinggalkan. Seperti manusia pada umumnya bernafas adalah bukti bahwa manusia itu hidup, demikian juga dengan berdoa maka Gereja akan tampak sebagai Gereja yang hidup. Di dalam doa maka terungkap bahwa orang percaya mengakui kebesaran dan kedaulatan Allah. Seperti dalam doa Tuhan Yesus yang selalu berserah diri kepada kedaulatan Bapa, “...tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” [Mat. 26:39]. Pertanyaanya adalah bagaimana supaya doa-doa kita menjadi doa yang berkualitas seperti doa Tuhan Yesus? Supaya doa-doa kita menjadi doa yang berkualitas, maka berdoalah setiap waktu di dalam Roh, dan berdoa yang tidak ada putus-putusnya untuk segala orang Kudus [Ef.6:18]. Kata “di dalam Roh” [en pneumatikos] bukan menunjuk pada “glosolali” atau bahasa lidah, tetapi bermakna berdoa yang ada dalam pimpinan kuasa Roh Kudus. Berdoa yang berkualitas adalah berdoa yang berserah penuh dalam pimpinan kuasa Roh, sehingga doa-doa kita tidak berorientasi pada doa-doa kedagingan yaitu ungkapan-ungkapan yang berkutat pada permohonan untuk diri sendiri. Doa yang ada dalam pimpinan Roh Kudus akan membawa kita semua pada penyembahan kepada Allah dan kita akan masuk dalam keintiman dengan Bapa, masuk dalam hadirat Allah. Dalam doa seperti itulah kita akan dipimpin oleh Roh untuk berkata “kehendakMulah yang jadi bukan kehendakku”. Di dalam doa yang berkualitas itu [dipimpin Roh] maka doa-doa syafaat selalu mendapat porsi yang baik [berdoa untuk segala orang kudus atau berdoa untuk pekabaran Injil]. Baiklah saudara-saudara, kita semua akan terus berdoa dalam pimpinan Roh Kudus. Bagaimana supaya kita bisa berdoa dalam pimpinan Roh Kudus? Mintalah Roh Kudus membimbing saudara ketika berdoa. Sebenarnya apa yang bisa kita berikan kepada Tuhan? Semuanya adalah milik Tuhan, Dia tidak butuh apa-apa dari kita. Tetapi Tuhan senang apabila anak-anak-Nya dekat dengan-Nya, dekat dengan Bapa, ya melalui doa. Bapa senang kalau anak-anak-Nya pada nurut, mengikuti kehendak-Nya dan untuk menjadi anak-anak penurut Bapa maka mereka harus selalu menghampiri dan mendekat, ya melalui doa. Lalu bagaimana dengan permohonan doa-doa pribadi? Jangan kuatir, kalau kita dekat dengan Bapa, maka Bapa mengetahui segala apa kebutuhanmu, tanpa kita meminta-minta Bapa kita yang bertanggungjawab penuh atas hidup kita. Amin.
Berita tentang kebangkitan orang mati pada waktu itu menarik perhatian masyarakat daerah Balas Klomprik karena salah seorang bapak warga Kristen di desa itu mengalami kebangkitan dari kematian saat ibadah tutup peti dilaksanakan. Tentu saja peristiwa tersebut membuat sedikit kegaduhan antara percaya dan tidak percaya bahwa kebangkitan dari kematian yang sudah berlangsung lebih dari 12 jam menjadi kenyataan. Bapak yang baru saja dibangkitkan dari kematian mulai bercerita kepada warga jemaat maupun masyarakat yang hadir saat itu tentang hal apa saja yang dialaminya saat mengalami peristiwa kematian yang dialaminya. Bapak itu hidup kembali, sembuh total dari penyakitnya dan mulai banyak bersaksi tentang Kristus. Hingga meninggal dunia 18 tahun kemudian. Namun dari sisa waktu hidupnya sudah banyak orang berdosa diperkenalkan kepada Tuhan Yesus dan Kerajaan Surga. Demikian pula dengan nats bacaan hari ini. Para murid Tuhan Yesus tidak mempercayai berita tentang kebangkitan Guru-Nya dari kematian yang telah disampaikan oleh beberapa orang kepada mereka [ayat 11, 13]. Hal ini terjadi karena mereka masih berkabung dan menangisi nasib Tuhan Yesus sebagai Guru-Nya yang mati tersalib [ayat 10]. Akhirnya Tuhan Yesus sendiri yang hadir menampakkan diri kepada kesebelas murid-Nya setelah kesaksian orang yang diutus untuk memberitakan kabar tentang kebangkitan diri-Nya tidak mereka percayai [ayat 14]. Pertama, Tuhan Yesus menegur dengan keras ketidak percayaan dalam diri murid-Nya yang tidak mau mendengarkan dan mempercayai berita tentang kematian dan kebangkitan-Nya yang beberapa kali sudah disampaikan sebelum peristiwa penyaliban-Nya [ayat 14]. Ketidak percayaan merupakan hal yang sangat menghambat diri mereka untuk dapat mempercayai Tuhan Yesus secara penuh. Jadi jangan menganggap sepeleh terhadap ketidak percayaan yang seringkali muncul dalam diri dan hati kita. Suatu saat ketidak percayaan itu akan membunuh iman kita untuk percaya sepenuhnya kepada pribadi dan karya Tuhan Yesus. Kedua, Tuhan Yesus mengutus mereka untuk bersaksi tentang berita Injil [ayat 15-20]. Tugas utama mereka adalah mengusir setan, menyembuhkan orang sakit, membuat mujizat dan memberitakan injil inilah tugas utama seorang saksi Kristus di dunia ini. Apabila kita melakukan dengan setia keempat tugas tersebut janji Tuhan Yesus adalah Dia akan turut bekerja untuk meneguhkan kesaksian kita [ayat 20]. Di sekitar kita masih banyak jiwa-jiwa berdosa yang belum mendengar berita Injil maka menjadi tugas dan tanggungjawab kita saat ini untuk melangkah memenangkan mereka. Tugas kita hanya bersaksi dan berdoa selanjutnya Allah yang akan bekerja dalam hidup mereka.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Sahabat
19 April '18
Memuliakan Tuhan
04 April '18
Persembahan Yang Terbaik
22 April '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang