SEPEKAN TERAKHIR
  Kamis, 18 Januari 2018   -HARI INI-
  Rabu, 17 Januari 2018
  Selasa, 16 Januari 2018
  Senin, 15 Januari 2018
  Minggu, 14 Januari 2018
  Sabtu, 13 Januari 2018
  Jumat, 12 Januari 2018
POKOK RENUNGAN
Apapun yang engkau alami, datanglah kepada Tuhan Yesus
DITULIS OLEH
Sdr. Dwi Winarno
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Datang Kepada Yesus
Datang Kepada Yesus
Sabtu, 13 Januari 2018
Datang Kepada Yesus
Yohanes 2 : 1-11

Pada pertengahan bulan Desember 2017, di rumah nenek saya ada acara keluarga besar. Mulai dari keluarga tertua sampai yang termuda berkumpul di sana, bahkan mengundang tetangga-tetangga dan saudara. Acara tersebut sudah direncanakan dan dibicarakan bersama. Sehingga membutuhkan persiapan yang cukup supaya acara berjalan lancar. Mereka membagi tugas, para ibu dan wanita bagian dapur, yaitu mulai dari belanja sampai masak-memasak. Bagian para bapak dan pria mempersiapkan tempat. Ada yang mengecat rumah, ada yang memasang lampu tambahan untuk penerangan dan sebagainya. Semua sudah dipersiapkan sesuai dengan rencana. Namun, terjadi keterlambatan saat penyajian makanan, karena orang yang membantu membagikan makanan jumlahnya sedikit. Di saat seperti itu, mungkin ada perasaan tidak enak [sedikit panik] dengan para tamu yang hadir karena harus menunggu cukup lama. Tetapi semua dapat di atasi. Para tamu masih sabar menanti karena pada saat itu juga sedang hujan turun. Sehingga mereka tidak terburu-buru meninggalkan acara tersebut.

Hal yang hampir sama juga pernah dialami ketika ada perkawinan di Kana. Saat itu keluarga mempelai kehabisan anggur untuk disajikan kepada para tamu. Sehingga muncul kepanikan dan perasaan tidak nyaman ketika mendengar masalah tersebut. Karena ...selengkapnya »
Alkisah, ada seorang penebang kayu. Suatu hari dia kehilangan kapaknya, sehingga dia tidak bisa bekerja. Dia mencurigai tetangganya yang mencuri kapaknya. Pagi itu ketika sang tetangga berangkat & menutupi peralatan kerjanya dengan kain, rasanya kapaknya pasti disembunyikan disana, apalagi tetangga ini senyumnya terasa tidak tulus. Pasti dia pencurinya. Besoknya, tetangganya bahkan terasa jadi ramah berlebihan karena biasanya jarang menyapa, kali ini menyempatkan berbasa-basi. Apalagi dilihat hasil tebangan kayunya dua hari ini banyak sekali, pasti dia menebang menggunakan kapak curiannya. Semakin dipikir semakin yakin. Pada hari ketiga baru disadari ternyata kapaknya tersimpan di laci dapur. Istrinya yg sedang keluar kota menyimpankan disana. Senang benar hatinya karena kapaknya dapat ditemukan kembali. Dia amati lagi tetangganya yang lewat, dan dia merasa tetangga ini tidak berkelakuan seperti pencuri & senyumnya juga tulus-tulus saja. Bahkan percakapannya terasa sangat wajar dan jujur. Dia heran kenapa kemarin dia melihat tetangganya seperti pencuri? Persepsi membentuk kenyataan, pikiran kita membentuk sudut pandang kita. Apa yang kita yakini akan semakin terlihat oleh kita sebagai kenyataan. Sebagai contoh, apapun yang dilakukan orang yang kita cintai adalah baik dan benar. Anak nakal dianggap lucu, kekasih pelit dianggap berhemat, orang cerewet dibilang perhatian, keras kepala dibilang berprinsip & makanan tidak enak dibilang bergizi. Hidup tidak pernah & tidak ada yang adil, tidak ada benar salah, kita ciptakan sudut pandang kita sendiri. Kita menemukan apa yang kita ingin temukan. Apa yang terlihat bukan kenyataan, kenyataan adalah siapa kita & bagaimana kita memandang semuanya itu. Pandangan kita berubah mengikuti perubahan jaman & keadaan. Firman Tuhan mengajarkan kepada kita orang percaya untuk memiliki pikiran yang benar dan objektif terhadap apapun. Terlebih ditahun yang baru kita jalani ini marilah kita melihat dan mengerjakan sesuatu dengan cara pandang yang benar dan mulia agar tidak terjadi kemunduran. Ada kehidupan yang lebih baik dan senantiasa melihat kejadian hidup dan orang lain dengan pengertian yang benar.
Memasuki tahun 2018 Matius 28:20b Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman. Hari ini kita ada di hari terakhir tahun 2017. Sebentar lagi kita akan memasuki tahun 2018. Tahun 2018 adalah tahun yang penuh dengan tanda tanya, tahun yang sangat sulit untuk diprediksi. Karena pada tahun 2018 akan dilaksanakan Pilkada serentak di 171 daerah, yaitu 17 provinsi, 39 kota, dan 115 kabupaten. Dan di Jawa Tengah sendiri akan dilaksanakan pemilihan gubernur. Khususnya Kota Semarang sebagai ibukota Jawa Tengah tentu akan merasakan hangatnya suhu politik sebagai efek pilkada. Suasana menjelang Pemilihan presiden 2019 juga pasti sudah terasa di tahun 2018. Partai-partai pengusung calon RI1 akan saling berlomba mempopulerkan calonnya masing-masing. Kita berdoa agar tidak terjadi benturan-benturan yang mengakibatkan kegaduhan dan goncangan situasi negeri kita. Hal-hal yang tidak kita inginkan kiranya tidak terjadi. Kita percaya kepada Allah Sang Penguasa jagad raya ini, yang telah menebus dan mengangkat kita sebagai anak-anak-Nya. Kita memohon perlindungan-Nya atas bangsa kita. Kita meyakini bahwa Dia mengasihi bangsa kita, dan menginginkan kebaikan bagi bangsa dan negara kita. Karena itu marilah kita tiada henti berdoa untuk bangsa dan negara kita, untuk kepemimpinan bangsa kita dan daerah kita, agar Tuhan memberikan pemimpin-pemimpin yang terbaik bagi bangsa kita dan daerah kita. Saya juga mengajak marilah kita berdoa bagi kemajuan pekerjaan Tuhan di negeri kita dan bagi kemajuan gereja kita. Rencana-rencana yang sudah kita buat, akan terus kita upayakan agar terlaksana dengan baik dan goal-goal yang sudah kita tetapkan kita terus upayakan agar tercapai. Jangan ada kata menyerah. Tuhan Yesus sebagai Kepala Gereja berjanji menyertai kita sampai kepada akhir zaman. Pada tahun 2018 ini gereja kita menetapkan tema: LAKUKAN YANG TERBAIK BAGI KESELAMATAN JIWA-JIWA. Selagi masih ada kesempatan, marilah kita mengerjakan tugas dari Tuhan Yesus untuk menyelamatkan jiwa-jiwa yang terhilang. Tuhan mau memakai kita sebagai alat-Nya untuk menjangkau jiwa-jiwa. Kiranya Tuhan memberkati kita semua dan memakai kita bagi Kerajaan-Nya. Pdt. Goenawan Susanto
Bulan pertama di tahun yang baru, orang menyambutnya dengan ucapan, ’Happy New Year!’ Dengan amunisi semangat yang masih menjulang tinggi, tersemat harapan bahwa tahun yang baru akan disarati oleh segala yang membawa kebaikan, kebahagiaan dan keberhasilan. Tidak sulit bagi kita untuk tersenyum lebar dan bersikap optimis menyambut tahun yang baru apabila kondisi fisik, psikis atau ekonomi kita relatif stabil. Namun pada kenyataannya hidup ini tidak sesederhana itu. Bagi sebagian orang, langkah awal menyambut tahun baru tidak seideal yang diharapkan. Ada yang mengawali langkah di tahun baru dengan masalah keluarga yang bagai benang kusut. Ada yang mengawali tahun dengan deraan penyakit yang belum juga sembuh. Ada yang memulai tahun dengan lilitan utang yang tak kunjung berkurang. Ada yang terjerat perkara-perkara rumit yang masih gelap juntrungnya. Lalu bagaimana bisa menatap bulan-bulan ke depan dengan optimis? Masih berlakukah ’Happy New Year’ dalam situasi begini? Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, melainkan orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa [Markus 2:17]. Kristus hadir di hidup kita justru karena kita ini manusia yang rentan. Mudah jatuh dalam dosa. Mudah terjerat masalah. Mudah sakit. Mudah putus asa. Justru karena itulah kita memerlukan Yesus Kristus sang Penyelamat, Raja Damai. Dia tahu kita tak mungkin bertahan tanpa kehadiran-Nya, karena itulah Ia rela merendahkan diri-Nya sedemikian rupa dan datang kepada kita. Berbahagialah setiap manusia yang menanggapi panggilan-Nya sebab dengan demikian jiwanya akan mendapat ketenangan, ’Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.’[Matius 11:28]
Ungkapan ini tepat sekali dikenakan pada Tuhan Yesus. Dia peduli kepada manusia yang telah jatuh dalam dosa dan kehilangan kemuliaan Allah. Manusia yang terhilang tanpa pengharapan ditemukan kembali oleh Penciptanya, untuk mewarisi Kerajaan-Nya. Kita sebagai umat tebusan-Nya harus menjadikan ungkapan ini tidak sekedar slogan saja, tetapi suatu tema kehidupan yang di praktikkan. Tuhan Yesus datang bukan untuk dilayani tetapi untuk melayani, bukan untuk dipedulikan tapi mempedulikan [Matius 20:27-28]. Sesungguhnya untuk mengaplikasikan ungkapan ini secara benar, diperlukan pertaruhan yang sangat mahal, yaitu segenap hidup kita. Kepedulian terhadap sesama harus lahir dari kerelaan memberi diri, dan hanya kita sendiri yang bisa menggairahkannya sesuai dengan kehendak bebas yang sudah Tuhan karuniakan. Dalam kisah orang Samaria yang baik hati, kepedulian yang dimiliki oleh orang Samaria lahir dari kesadaran diri yang murni/tulus, suatu kepedulian tanpa pamrih [Lukas 10:30-37]. Imam dan Lewi dalam kisah tersebut tentuya sudah memahami tentang kepedulian terhadap sesama, tetapi mereka tidak memiliki hati untuk orang lain. Kepedulian terhadap sesama adalah respon kita terhadap keselamatan yang Tuhan anugerahkan kepada kita, kesadaran untuk membalas kebaikan Tuhan. Bila kita sudah ditebus dengan harga yang begitu mahal dan dilepaskan dari api kekal, seharusnya sudah cukup mendorong kita untuk membalas kebaikan Tuhan. Namun bila kita mempunyai pola pikir bahwa hidup untuk mencari keuntungan dan kesenangan duniawi, pasti tidak akan mengerti hal kepedulian ini. 1. Tuhan Yesus telah memberi teladan kepedulian ini [Lukas 9:11], dengan ciri-ciri: Kepedulian dilandasi oleh kasih, bukan upah. Seperti yang diperagakan oleh rasul Paulus ketika dia berkata, “Upahku adalah kalau aku boleh melayani tanpa upah” [1 Korintus 9:18]. 2. Semua bentuk kepedulian harus mengarah kepada keselamatan dalam Tuhan Yesus. Bukan sekedar untuk membantu memenuhi kebutuhan jasmani, bukan untuk kepentingan sesuatu atau seseorang. Bukan sekedar membuat jemaat menjadi anggota gereja yang rajin datang ke gereja, tetapi benar-benar bisa mengubah mereka menjadi sempurna seperti Bapa, berkepribadian Anak Allah yang layak menjadi mempelai Tuhan yang tak bercacat di hadapan Tuhan.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Tuhan Tidak Mencibir
04 Januari '18
Damai Dalam Badai
16 Januari '18
Kristus Datang Memberi Hidup Dan Pengharapan
24 Desember '17
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang