SEPEKAN TERAKHIR
  Senin, 18 Juni 2018   -HARI INI-
  Minggu, 17 Juni 2018
  Sabtu, 16 Juni 2018
  Jumat, 15 Juni 2018
  Kamis, 14 Juni 2018
  Rabu, 13 Juni 2018
  Selasa, 12 Juni 2018
POKOK RENUNGAN
“Marilah kita menghayati kasih Allah yang besar dengan menunjukkan gaya hidup yang berubah, ceria tanpa beban, penuh pengampunan dan cintakasih kepada sesama manusia.”
DITULIS OLEH
Pdt. Nathanael Rabono
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Demonstrasi Kasih Allah
Demonstrasi Kasih Allah
Senin, 08 Januari 2018
Demonstrasi Kasih Allah
Yohanes 3:16
Suatu saat ada seorang penjual ember berjalan berkeliling keluar masuk gang di perkampungan sambil menawarkan barang dagangannya. Bahkan si penjual ember itu kadang berhenti sejenak kemudian “mendemonstrasikan” ember, barang dagangannya itu dengan membanting-bantingkannya di tanah bahkan membentur-benturkan satu ember dengan ember lainnya. Penjual ember itu melakukan semua untuk membuktikan bahwa barang dagangannya itu merupakan produk kualitas unggul. Selain itu sebagai bukti bahwa ember yang tidak mudah pecah, sehingga harapannya adalah supaya banyak orang membeli ember, barang dagangannya itu.

Berbicara demonstrasi adalah soal memastikan, meyakinkan sesuatu kepada orang banyak. Demikian juga dengan Allah, bahwa Dia menyatakan anugerahNya, sesuatu yang sangat dibutuhkan oleh manusia berdosa. Kebutuhan manusia berdosa yang utama bukanlah kehormatan, kekayaan, kejayaan, dsb., tetapi hanyalah pembebasan atau kemerdekaan dari belenggu dosa. Allah mengerti kebutuhan manusia yang utama, yaitu keselamatan dan kemenangan sehingga hidup ini terasa lepas dan bergairah dengan sukacita penuh dengan shalom, damai sejahtera. Oleh sebab itu tindakan Allah untuk manusia berdosa adalah menyatakan kasih-Nya yang besar, yaitu Allah “mendemonstrasikan” kasih-Nya yang besar itu...selengkapnya »
Curahan Roh Kudus dalam diri Petrus, tidak hanya membangkitkan keberanian untuk menyampaikan Firman Tuhan saja, tapi juga melembutkan hati Petrus. Terbukti ketika Petrus melihat seorang peminta-minta yang lumpuh, hatinya tergerak oleh belas kasihan. Keinginan nya untuk memberi sesuatu kepada peminta-minta itu begitu kuat, meskipun dia tidak memiliki sesuatu yang berharga untuk diberikan kepada peminta-minta itu. Tapi itu tidak menyurutkan Petrus untuk tetap “memberi”, karena Petrus tahu bahwa dia memiliki sesuatu yang lebih besar dari sekedar emas dan perak, yaitu Yesus. Dan nyata, kuasa Yesus mampu memenuhi kebutuhan peminta-minta yang lumpuh itu, sehingga dia bisa sembuh dari kelumpuhannya, bisa berjalan, dan sudah tentu, itulah pemberian terbesar yang diterima oleh peminta-minta itu. Dalam kehidupan kita sehari-hari, seringkali kita juga mengalami situasi seperti itu, berjumpa dengan teman, kerabat, atau kenalan kita yang membutuhkan sesuatu. Dan seringkali pula kita berfikir, apa yang bisa saya berikan buat mereka? Mungkin kita tidak memiliki cukup harta untuk bisa membantu orang lain, tapi janganlah itu membuat kita urung untuk memberi. Seperti Petrus mengatakan “… apa yang kupunyai,kuberikan kepadamu : Demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu……”. Kitapun bisa memberikan kasih Yesus Kristus kepada yang membutuhkan. Mungkin tindakan kita tidak bisa membuat orang lumpuh menjadi sembuh dari kelumpuhannya, tapi ada banyak hal yang bisa Tuhan kerjakan bagi orang-orang yang kita bawa kepada Nya. Apa yang kita miliki? Belas kasih, perhatian, telinga untuk mendengar, hati yang terbeban untuk berdoa, tenaga untuk membantu, pikiran untuk mengeluarkan ide-ide, kata-kata untuk menghibur dan menguatkan. Banyak sekali yang kita miliki, ketika Kasih Yesus dan kuasa Roh Kudus itu memenuhi hati kita, dan itulah yang dibutuhkan oleh mereka yang sakit, yang sedang dirundung duka, yang tengah terpuruk, yang dalam masalah berat. Jangan tahan, berikan apa yang bisa kita berikan kepada mereka yang membutuhkan. Tuhan Yesus yang akan bekerja lebih jauh dan memberi hasil buat apa yang kita berikan bagi orang lain. Dan pada akhirnya nama Tuhan Yesus yang akan dipermuliakan melalui perbuatan kita.
Sang waktu berlalu tak pernah menunggu.... Tenang, tepat terus melaju..... Tertinggal kita akan termangu...... Alam semesta seolah membisu..... Demikian perasaan seseorang yang kehilangan kesempatan karena kelalaiannya, kealpaannya. Kecewa terhadap diri sendiri, hanya bisa merenungi nasib yang seakan tidak berpihak kepada dirinya. Rasul Paulus mengatakan dalam suratnya kepada Jemaat di Galatia, selama kita masih memiliki kesempatan, hendaklah kita berbuat kebaikan kepada semua orang, terutama kepada kawan-kawan seiman. [ayat 10]. Dalam bahasa aslinya, kata kesempatan mempergunakan kata “καιρός” [kairos], yang berbicara tentang periode waktu tertentu, kesempatan/momentum yang kalau sudah lewat tidak akan kembali lagi. Terjemahan bahasa Inggris menggunakan kata yang berarti waktu yang tepat, pantas, menguntungkan. Dari perikop surat Rasul Paulus kepada jemaat Galatia ini, kita bisa belajar bagaimana berbuat baik selama kita masih memiliki kesempatan, yaitu : 1. Memberikan bimbingan, tuntunan, teguran dengan lemah lembut jika kita tahu ada yang “melenceng” dari kebenaran. [ayat 1] 2. Memberikan perhatian, bantuan kepada mereka yang membutuhkan atau sebaliknya mau menerima bantuan kala kita membutuhkan. Jangan kita merasa sombong, paling berarti sehingga merasa tidak perlu menerima pertolongan orang lain. [ayat 2,3] 3. Tidak melupakan “Hamba Tuhan” yang telah memberikan pengajaran Firman Tuhan sehingga kita dapat memuridkan orang lain. [ayat 6] 4. Jangan jemu berbuat baik karena akan tiba saatnya kita akan menuai.[ayat 9] Mari kita pergunakan kesempatan untuk berbuat baik terutama untuk keselamatan jiwa-jiwa. Kesempatan sekecil apapun jangan kita sia-siakan. Bagikan berita keselamatan lewat kesaksian hidup kita melalui tutur kata ataupun perbuatan. Amin.
Efek Pentakosta Kisah Para Rasul 2:1-4 [1] Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat. [2] Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk; [3] dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. [4] Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, Andaikan kita hadir dalam peristiwa tercurahnya Roh Kudus untuk pertama kali ke atas para murid, kita akan merasakan betapa sukacitanya para murid itu. Padahal sebelumnya mereka dicekam oleh rasa takut. Mereka takut kepada orang-orang Yahudi yang berusaha untuk membinasakan mereka. Tetapi ketika Roh Kudus dicurahkan dan memenuhi mereka, mereka menjadi tidak takut, bahkan mereka dengan berani memberi kesaksian tentang Yesus Kristus yang telah bangkit dari kematian. Inilah salah satu efek Pentakosta. Murid Kristus yang tadinya takut menjadi berani. Firman Tuhan berkata: ’Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.’ [1 Timotius 1:7]. Juga dikatakan oleh Firman Tuhan, ’Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia.’ [1 Yohanes 4:4]. Hari ini kita merayakan hari Pentakosta. Kita memperingati saat Roh Kudus dicurahkan untuk pertama kali ke atas para murid. Hari Pentakosta tahun ini kita rayakan di tengah situasi terganggunya keamanan di negeri kita. Serentetan peristiwa teror kembali terjadi di negeri kita. Situasi ini membuat kita tidak merasa tenang. Dan bagi beberapa orang keadaan ini membuat mereka merasa takut. Keadaan yang dialami para murid Yesus pada waktu itu juga membuat mereka takut. Tetapi setelah Roh Kudus turun ke atas mereka dan mereka dipenuhi oleh Roh Kudus, mereka menang atas rasa takut itu. Mereka dengan berani bersaksi bahwa Yesus adalah Mesias dan Tuhan. Pengalaman dengan Roh Kudus bukan hanya cerita pada masa lampau, tetapi merupakan kenyataan untuk kita alami sekarang ini. Justru dalam situasi yang tidak membuat tenang ini kita bisa merasakan kehadiran Roh Kudus di dalam hidup kita yang membuat kita menang atas rasa takut. Tuhan memberkati kita semua. Selamat menyambut pengalaman yang baru dengan Roh Kudus. Pdt. Goenawan Susanto
Sam Foss adalah seorang musafir. Suatu ketika di dalam perjalanannya ia merasa lelah dan haus yang sangat. Ia datang mendekati sebuah rumah kecil tidak bercat yang berdiri di atas sebuah bukit. Dekat sisi jalan yang menuju rumah itu, ia melihat tanda dengan tulisan, ’masuklah, dan dapatkan minuman yang dingin.’ Tidak berapa jauh dari tulisan itu Foss menemukan sebuah mata air yang dingin dan sejuk. Di atas mata air itu tersedia gayung tua untuk menciduk air dan di bangku dekat mata air tersebut ada keranjang berisi buah apel yang segar segar dengan tulisan, ’layanilah diri anda sendiri’. Penuh rasa ingin tahu, Foss bergegas menemui pasangan suami istri yang tinggal di rumah kecil itu dan ia pun bertanya tentang tulisan dekat mata air dan keranjang apel yang dilihatnya’. Pasangan suami yang sudah tua itu ternyata tidak mempunyai anak dan mereka hidup dari hasil kebun apel mereka yang tidak seberapa. Mereka bisa digolongkan sangat miskin tetapi dalam hal mata air dan apel, mereka merasa kaya dan berkelimpahan sehingga mereka ingin sekali membagikan kelimpahan tersebut kepada orang-orang yang kebetulan lewat di situ. ’Dalam hal uang kami terlalu miskin untuk menolong orang lain.’ kata pemilik rumah kecil itu, ’tetapi kami berpikir dengan cara ini kami dapat menambahkan serta menutupi apa yang kurang pada kami sehingga kami tetap dapat melakukan sesuatu untuk orang lain.’ Setiap orang dapat melakukan sesuatu untuk menolong sesamanya. Kita tidak harus menunggu sampai kita cukup mampu dan cukup berada barulah memikirkan kepentingan sesama. Mungkin kita semiskin pasangan suami isteri diatas, kita masih memiliki lebih banyak dari apa yang mereka miliki. Tetapi sekalipun kita memiliki banyak hal, kita tetaplah orang-orang ’miskin’ sebab tidak pernah berpikir untuk menolong orang lain. ’Kekayaan seseorang tidak dapat dinilai dari apa yang ia miliki, tetapi dari apa yang ia berikan kepada sesama,’ demikian kata para bijak. Adakah kita memiliki kerinduan untuk berbuat kebaikan bagi sesama? Begitu banyak orang yang kecewa karena tidak menemukan apa yang mereka harapkan dari orang percaya. Tuhan tidak akan menanyakan berapa banyak perusahaan kita, berapa banyak harta yang kita miliki dan berapa banyak tabungan kita, tetapi yang akan Tuhan tanyakan adalah apa yang sudah kita lakukan dengan semua yang sudah Tuhan percayakan kepada kita.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Berserah Dalam Pimpinan Tuhan
06 Juni '18
Membangun Rasa Aman
11 Juni '18
Belenggu Takhayul
04 Juni '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang