SEPEKAN TERAKHIR
  Senin, 18 Juni 2018   -HARI INI-
  Minggu, 17 Juni 2018
  Sabtu, 16 Juni 2018
  Jumat, 15 Juni 2018
  Kamis, 14 Juni 2018
  Rabu, 13 Juni 2018
  Selasa, 12 Juni 2018
POKOK RENUNGAN
Diam dalam Rumah Tuham berarti hidup yang dipenuhi dengan kebenaran dan keadilan.
DITULIS OLEH
Sdr. Dwi Winarno
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Diam Dalam Rumah Tuhan
Diam Dalam Rumah Tuhan
Jumat, 27 Oktober 2017
Diam Dalam Rumah Tuhan
Yesaya 2:1-5

Nabi Yesaya mendapatkan panggilan pelayanan ketika berada dalam situasi bangsa yang tidak kondusif. Ada ancaman dari bangsa-bangsa yang mau menyerang kerajaan Israel Selatan atau Yehuda. Keadaan tersebut mengakibatkan stabilitas bangsa menjadi kacau. Namun bukan hanya hal itu yang menjadi keresahan seorang Yesaya, keadaan yang jauh lebih mengancam adalah kondisi kehidupan umat Israel yang sudah tidak lagi mempunyai hubungan dengan Tuhan, serta tidak mengindahkan apa yang menjadi perintah Tuhan dalam hidup mereka. Memang setiap perayaan ibadah, umat Israel selalu mengadakannya, mereka memberikan korban bakaran dan persembahan, namun hati mereka tidak tertuju kepada Tuhan. Hati mereka keras tidak mau mendengar suara firman Tuhan. Mereka memberontak dan melawan sesuai dengan keinginan hatinya. Tetapi Yesaya tetap menyampaikan pesan Tuhan dan memberikan seruan pertobatan bagi mereka yang mau tinggal dalam rumah Tuhan, menghampiri Tuhan dengan hati yang penuh rasa syukur.

Di dalam pasal 2:1-5, Yesaya menunjukkan bahwa Rumah Tuhan akan berdiri tegak dan menjulang tinggi. Hal ini menggambarkan bahwa Rumah Tuhan menjadi tempat kediaman dan kehadiran Tuhan akan dinyatakan kepada bangsa-bangsa. Rumah Tuhan akan menjadi tempat yang paling baik untuk para umat datang dan meny...selengkapnya »
Allah senantiasa selalu mencari orang-orang yang dipakai untuk menjadi agen-Nya di dunia. Hal tersebut dapat kita lihat dari beberapa tokoh dalam Alkitab, yang dipakai Allah menjadi agen-Nya. Di antaranya adalah; Abraham, yang menjadi berkat bagi segala bangsa oleh karena ketaatannya akan panggilan Allah. Musa membawa Israel keluar dari Mesir. Yosua membawa bangsa Israel masuk ke tanah Perjanjian. Melalui kisah tokoh-tokoh tersebut, Allah mau supaya kita peka akan suara-Nya, dan kemudian meresponi panggilan-Nya untuk menjadikan kita sebagai agen-Nya, dengan hati yang taat dan setia, serta takut akan Allah. Sebagai agen-agen Allah, apa saja peran kita di dalam dunia ini: Pertama, sebagai Agen Kebenaran. Kita harus meminta kepada Tuhan agar selalu hidup di dalam kebenaran firman-Nya [Maz.119:25]. Ketika kita hidup dalam kebenaran, maka kebenaran dalam diri kita akan termanifestasikan kepada orang di sekeliling kita, sehingga nama Tuhan Yesus dipermuliakan. Kedua, sebagai Agen Kasih Allah. Setiap kita anak-anak Tuhan perlu memancarkan kasih Allah [1 Yoh. 2-4]. Kasih itu bukan sekedar kita rasakan tapi kasih itu kita lakukan, karena kasih adalah sebuah tindakan.Ketika orang percaya membawa kasih Allah, maka tindakan tersebut akan memancarkan kasih dan kemuliaan Allah, sehingga berdampak kepada orang disekitar. Ketiga, sebagai Agen perubahan. Perubahan harus dimulai dari diri kita sendiri, melalui cara berpikir [Rom. 12:1-2]. Kita hanya bisa mengalami perubahan, jika hati dan pikiran diisi oleh Firman Tuhan. Firman Tuhan mampu mentransformasi kehidupan, sehingga mampu mengontrol hati dan pikiran kita. Dengan perubahan yang dialami, kita dapat menjadi agen perubahan untuk lingkungan sekitar. Keempat, sebagai Agen keselamatan. Orang percaya mempunyai tugas untuk memberitakan atau menyampaikan keselamatan kepada dunia yang belum percaya dan belum mengenal Tuhan Yesus, dalam situasi apapun [Rom. 10:14-15; 2 Timotius 4:2]. Apapun tugas yang Tuhan mau untuk dilakukan; tugas kita adalah melakukannya. Oleh karena itu kita perlu memiliki kepekaan untuk mendengar suara Tuhan [Yesaya 6:8]. Dengan demikian, orang percaya sebagai agen Allah, perlu menjadi saksi bagi dunia, yakni membawa kebenaran, kasih, membawa perubahan dan membawa kabar keselamatan yang berasal dari Tuhan. Untuk itulah kita semua dipanggil, agar dunia tahu, bahwa hanya Yesuslah satu-satunya kebenaran, yang membawa kepada keselamatan dan hidup yang kekal. Amin!
Setiap mahluk hidup membutuhkan rasa aman agar sehat secara psikologis. Oleh sebab itu mereka diperlengkapi dengan kemampuan untuk melindungi diri. Contoh, keong memiliki cangkang untuk melindungi badannya yang lemah. Kura-kura memiliki tempurung yang kuat untuk menyembunyikan bagian tubuhnya. Bunglon mempunyai kemampuan ‘berkamuflase’ untuk melindungi dirinya. Manusia dengan akal budinya, mengembangkan diri dan ilmunya untuk melindungi diri. Pakaian dirancang untuk melindungi dari cuaca. Rumah dibangun untuk melindungi dari cuaca, serangan binatang buas, dan sebagainya. Intinya, setiap mahluk hidup, khususnya manusia, butuh terlindungi sehingga merasa aman. Untuk mencapai keluarga yang sehat secara psikologis membutuhkan rasa aman. Jika kita berkaca dari keluarga Yusuf dan Maria, kita bisa melihat situasi sulit yang harus dihadapi yang mengancam rasa aman keluarga tersebut. Kehamilan Maria yang di luar nalar manusia, usaha pembunuhan oleh Herodes, menyingkir ke Mesir sebagai orang asing, kembali ke tanah Israel tetapi tetap ada ancaman merupakan situasi yang bisa merenggut rasa aman keluarga mereka. Tetapi mereka sanggup menghadapi bahkan melewati ‘ancaman’ yang bisa merusak rasa aman keluarga mereka. Hal tersebut disebabkan: 1. Ketaatan Maria dan ketulusan hati Yusuf. Ketaatan dan ketulusan hati merupakan perpaduan yang sanggup meredam setiap situasi yang berpotensi menghilangkan rasa aman. Ketaatan Maria menerima sebuah situasi yang tidak mudah telah memberinya keikhlasan dan kelapangan hati untuk mengandung bayi Yesus. Ketulusan hati Yusuf menerima kondisi Maria yang telah hamil meredakan gejolak hatinya yang semula berniat memutus pertunangannya dengan Maria. Dan karena ketulusan hatinya, Yusuf bersedia menikahi, melindungi, dan bertanggung jawab sepenuhnya kepada Maria dan bayi Yesus. Sikap-sikap tersebut telah membangun rasa aman dalam keluarga mereka. 2. Campur tangan Ilahi. Terciptanya rasa aman dalam keluarga mereka tidak lepas dari campur tangan Allah. Beberapa kali Allah mengutus malaikatnya untuk menyampaikan pesan-pesan penting kepada Maria dan Yusuf. Maria dan Yusuf mengerti rencana illahi bagi manusia berkat penjelasan malaikat. Bayi Yesus selamat dari usaha pembunuhan Herodes juga karena campur tangan Allah. Campur tangan Allah tersebut telah meredam gejolak batin Maria – Yusuf dan membawa keselamatan bayi Yesus. Setiap keluarga tentu tidak luput dari kondisi yang bisa merusak rasa aman. Perbedaan pendapat dan kebiasaan, konflik antar anggota keluarga, masalah keuangan, sakit penyakit, bisnis yang macet, dan sebagainya berpotensi merenggut rasa aman. Hadapilah semua itu dengan ketaatan dan ketulusan hati, serta selalu harapkan campur tangan Allah.
Minggu lalu baru saja kita merayakan perayaan Hari Pentakosta. Kita kembali diingatkan/disadarkan betapa pentingnya Roh Kudus. Orang percaya perlu Roh Kudus dalam hidupnya. Roh Kudus memberi kekuatan dan kuasa untuk berani bersaksi tentang Kristus. Roh Kudus memberi kuasa untuk hidup berkemenangan. Dan Roh Kudus juga memberi kuasa-kuasa yang lainnya kepada orang percaya. Semuanya itu sangat benar. Sayangnya, ada orang yang beranggapan bahwa Roh Kudus sebatas kuasa saja, mereka mengejar kekuatan/kuasa, tetapi mereka lupa bahwa Roh Kudus adalah satu pribadi yang punya pikiran, perasaan dan kehendak. Mereka tidak merasa perlu bersekutu denga pribadi Roh Kudus itu sendiri. Roh Kudus hadir sebagai Penolong yang menyertai orang percaya. Roh Kudus diutus sebagai penghibur dan mengajarkan segala sesuatu kepada orang percaya. Sekali lagi, Roh Kudus bukan sekedar kekuatan, bukan pula sekedar kuasa ataupun energi. Tetapi Roh Kudus adalah satu pribadi. Seperti Yesus Kristus menyertai murid-murid-Nya selama kurang lebih tiga setengah tahun di bumi demikian pula Roh Kudus menyertai orang percaya selama-lamanya. Sebagai satu pribadi, kita bisa bersekutu dan berkomunikasi dengan Roh Kudus. Kita bisa berbicara kepada-Nya dan kita bisa mendengar suara-Nya. Dia memimpin kerinduan kita untuk baca Firman Tuhan. Dia memberikan pencerahan sehingga Firman Tuhan itu menjadi hidup dalam hidup kita. Ketika kita melangkah keluar dari Firman, Dia menegur kita dan mendorong kita untuk mentaati Firman-Nya. Ketika kita taat, Roh Kudus disukakan. Nabi Yesaya pernah menyampaikan teguran kepada umat Tuhan, tetapi mereka sering memberontak dan mendukakan Roh Kudus. Tuhan yang tadinya memelihara dan melindungi mereka, kini berubah menjadi musuh mereka. Bahkan Tuhan sendiri berperang melawan mereka. Sejarah mencatat, mereka dibuang ke Babilonia selama 70 tahun. Berbahagialah kita yang menerima Roh Kudus sebagai satu pribadi yang menuntun kita kepada jalan kebenaran. Mari kita sukakan Roh Kudus dalam ketaatan kita kepada Allah.
Wikipedia mendefinisikan Fobia sebagai rasa ketakutan yang berlebihan pada sesuatu hal atau fenomena tertentu. Bagi sebagian orang, perasaan takut seorang pengidap fobia sulit dimengerti. Ada perbedaan ’bahasa’ antara pengamat fobia dengan seorang pengidap fobia. Pengamat fobia menggunakan bahasa logika sementara seorang pengidap fobia biasanya menggunakan bahasa rasa. Bagi pengamat dirasa lucu jika seseorang berbadan besar, takut dengan hewan kecil seperti kecoak atau tikus. Sementara di bayangan mental seorang pengidap fobia, subjek tersebut menjadi benda yang sangat besar, berwarna, sangat menjijikkan ataupun menakutkan. Di dalam keadaan normal setiap orang memiliki kemampuan mengendalikan rasa takut. Akan tetapi bila seseorang terpapar terus menerus dengan subjek fobia, hal tersebut berpotensi menyebabkan terjadinya fiksasi. Fiksasi adalah suatu keadaan di mana mental seseorang menjadi terkunci, yang disebabkan oleh ketidakmampuan orang yang bersangkutan dalam mengendalikan perasaan takutnya. Fobia bisa dikatakan dapat menghambat kehidupan orang yang mengidapnya. Tanpa disadari, hari-hari ini banyak orang Kristiani mengalami ketakutan. Tanpa disadari juga ketakutan itu terus meningkat dan seolah-olah menjadi seperti fobia. Fobia dalam hal apa? Fobia untuk beribadah. Ada ketakutan dalam diri untuk datang beribadah dan bergereja. Entah itu takut karena terorisme, intimidasi, merasa sebagai orang berdosa, yang tidak layak untuk beribadah kepadaNya. Atau ketakutan karena hal-hal lainnya, yang akhirnya menyebabkan urung untuk beribadah. Ketakutan itu jika terus dibiarkan akan berubah ke level yang lebih tinggi, yaitu fobia yang permanen. Apakah kita menyadari hal ini? Sebelum Tuhan Yesus terangkat ke sorga. Tuhan Yesus meyakinkan para muridNya untuk menghapus segala ketakutan mereka. Bagaimana caranya? Ada “Sang Penolong” yang akan diberikan kepada para murid. Injil Yohanes 14:16-17, “Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran...” Roh kebenaran akan menyatakan kebenaran kepada umat Tuhan, untuk tetap yakin mengikut dia Roh Kudus akan bertindak sebagai penolong, yang akan menolong umat Tuhan supaya tetap tegar menghadapi segala tantangan dan ketakutan. Apa yang menjadi ketakutan kita? Apakah ketakutan itu masih ada hingga saat ini? Apakah ketakutan itu menguasai dan mengintimidasi? Tuhan Yesus memberi penegasan kepada umatNya. Jangan Takut !!! Roh Tuhan bersama kita. Jangan gentar dan gelisah, Roh Tuhan menolong dan menuntun kita. Firman yang disampaikan oleh Tuhan Yesus yang tercatat di dalam Injil Yohanes 14:18 jelas dan tegas. Kita tidak akan dibiarkan sendiri. Tuhan bersama kita! Oleh karena itu, janganlah takut. Serukan dengan tegas kepada semua fobia tersebut, KAMI TIDAK TAKUT !!!
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Bertekun
13 Juni '18
Hidup Yang Berbuah1
31 Mei '18
Harga Sebuah Keteladanan
08 Juni '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang