SEPEKAN TERAKHIR
  Senin, 23 April 2018   -HARI INI-
  Minggu, 22 April 2018
  Sabtu, 21 April 2018
  Jumat, 20 April 2018
  Kamis, 19 April 2018
  Rabu, 18 April 2018
  Selasa, 17 April 2018
POKOK RENUNGAN
Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. [Roma 12:1]
DITULIS OLEH
Ibu Lydia N. Haryanto
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hadiah Natal
Hadiah Natal
Rabu, 20 Desember 2017
Hadiah Natal
Matius 2:1-11

“ Hore!!!! Hari Natal hampir tiba.... hadiah apa yang akan kita terima tahun ini?” celoteh beberapa anak Sekolah Minggu. “Tahun lalu aku tidak suka hadiahnyanya, tidak bagus”, ucap salah seorang anak. Begitu ramai dan lucu celotehan mereka seputar hadiah kesetiaan kehadiran mereka di kebaktian Sekolah Minggu selama satu tahun.

Memang pada umumnya seseorang akan merasa kecewa saat seseorang menerima hadiah yang kurang berkenan di hatinya. Bagaimana dengan diri kita?? Hadiah yang bagaimana yang kita persembahkan kepada Yesus Sang Juru Selamat yang hari-hari ini akan kita peringati kelahiran-Nya.

Mari kita belajar dari orang Majus yang datang dari jauh berjalan mengikuti bintang yang mereka percayai pertanda ada seorang Raja dilahirkan. Saat bintang berhenti, mereka menemukan Bayi Yesus didampingi Maria dan Yusuf. Mereka tidak ragu-ragu, yakin bahwa Sang Bayi adalah seorang Raja. Mereka memberikan persembahan yang dibawa dari negerinya yaitu emas, kemenyan dan ...selengkapnya »
Hari ini, tanggal 21 April, bangsa Indonesia, khususnya kaum perempuan memperingati hari kelahiran RA Kartini, seorang pahlawan emansipasi wanita. Kalau kita mengingat tentang RA Kartini, kita pasti akan teringat dengan sebuah buku yang berjudul “Habis Gelap Terbitlah Terang” Sebenarnya buku tersebut bukanlah buku karangan Kartini. Itu adalah kumpulan surat kartini kepada teman2nya di Eropa yg dikumpulkan dan diterbitkan J.H Abendanon dengan judul awal “ Dari Kegelapan Menuju Cahaya”.Pada tahun 1922, Balai Pustaka menerbitkannya dalam bahasa Melayu dengan judul yang diterjemahkan menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang [sumber dari Wikipedia] Isi dari buku Habis gelap terbitlah terang adalah cita-cita, harapan-harapan dan pengalaman kehidupan RA Kartini, dimana cita-cita dan harapannya adalah mengangkat derajat kaum perempuan dari kebodohan menjadi perempuan yang lebih berharga, bermanfaat bagi keluarga dan masyarakat. Dan apa yang telah dilakukan oleh RA Kartini, membawa manfaat yang besar bagi kaum perempuan di Indonesia, yaitu kesetaraan, emansipasi, atau kesamaan derajat dengan kaum pria. Sehingga mulai saat itu kaum perempuan bisa mengekpresikan diri lebih optimal dan membawa manfaat yang lebih besar bagi keluarga dan masyarakat. Seperti buku Habis gelap terbitlah terang, bagi kita umat Kristiani tersaji juga sebuah kitab, kumpulan dari surat-surat pada Rasul dan kisah perjalanan hidup Yesus, yang berjudul “Injil Perjanjian lama dan Perjanjian baru”. Didalam Injil, tidak hanya berisi cita-cita ataupun harapan-harapan dari Yesus, sang tokoh sentral, tapi juga janji-janji yang mengandung kekuatan kepada yang percaya. Bahkan rasul Paulus dalam suratnya kepada orang2 di Roma mengatakan “ Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya….” Kalau buah pikiran dari RA Kartini saja bisa merubah nasib kaum perempuan, terlebih Firman dari Tuhan Yesus, bukan hanya merubah nasib manusia di dunia, tapi nasib manusia setelah selesai menjalani kehidupan di dunia kelak. Firman yang ada dalam Injil mampu menyelamatkan manusia, dari kehidupan yang penuh dosa kepada kehidupan yang penuh dengan anugerah, dengan catatan bagi mereka yang percaya. Jangan sia-siakan Injil yang sudah menjadi milik kita, selagi masih ada waktu, kita gunakan untuk membaca, merenungkan, menelitinya. Dan semakin kita mengerti dan mengimani janji-janji-Nya, semakin kita akan melihat terang dalam setiap jalan-jalan kita. Amin
Cerita ini saya dengar dari teman yang melihat sebuah kejadian yang cukup menyentuhnya sehingga ia berusaha menceritakan kenyataan hidup yang ada disekitar kita. Seorang pedagang telur ayam negeri seperti biasa menjajakan daganganya dengan harapan dagangannya laku dan bisa mencukupi kehidupan keluarganya yang memang dalam kondisi pas-pasan. Seperti biasanya dilapaknya ia menjajakan telur ayam dengan harapan pembeli atau pelanggan menghampirinnya. Lama ia menanti akhirnya ada seorang pembeli yang dilihat dari penampilannya orang berada, dan terjadilah penawaran Pembeli : berapa harga telurnya per Kg ? Pedagang : Rp 15.000 [ lima belas ribu ] bu Pembeli : Rp 42.500 [ empat puluh dua limaratus ] ya 3 Kg Pedagang : seharusnya ndak boleh bu tetapi karena memaksa dan supaya ada pembelinya baiklah bu dengan sedih ia menjualnya Dalam hari yang sama orang yang membeli telur tersebut bertemu dengan teman-temannya dengan bersenda gurau mereka melangkah ke rumah makan yang cukup ok. Ia memesan makanan yang enak dan ketika mereka memakannya tersisa banyak makanan karena bagi mereka itu sudah biasa. Ketika pelayan restoran datang memberikan tagihan sejumlah Rp 450.000, ia [ pembeli telur ] mengeluarkan uang sebanyak Rp 500.000 jumlah seratus ribuan lima dan dengan mengucapkan kembaliannya buat kamu saja [ Rp 50.000 ], memang pemandangan itu sudah biasa. Dan dari kejadian tersebut teman saya teringat akan kejadian dengan penjual telur tadi yang begitu membutuhkan uang yang tidak terlalu banyak tetapi sipembeli membeli dengan sesuka hatinya dan jika ia melihat kejadian tersebut teman saya membayangkan betapa sakit hatinya pedagang telur tadi jika ia melihat kejadian di restoran, orang yang membeli telur begitu baik banget dengan pelayan restoran yang sesungguhnya hidupnya lebih baik Sering kali kita berbicara menjadi berkat dan berbuat baik, namun terkadang dalam tindakan kita justru kita melakukan perbuatan baik yang terbalik. Orang yang mungkin tidak seharusnya kita beri justru kita memberikan berlebihan dan orang yang membutuhkan terkadang kita memberikan dengan sisa atau barang yang paling buruk. Dan hal itu kita lakukan sebagai perbuatan baik. Kita berharap memberi yang terbaik untuk Tuhan dan itu bisa kita lakukan dengan memperhatikan mereka yang Tuhan taruh dalam hati kita.
Cintailah Gerejamu Mazmur 27:4 Satu hal telah kuminta kepada TUHAN, itulah yang kuingini: diam di rumah TUHAN seumur hidupku, menyaksikan kemurahan TUHAN dan menikmati bait-Nya. Hari ini gereja kita genap berusia 44 tahun. Pada tanggal 15 April 1974 Gereja Isa Almasih jemaat Dr. Cipto diresmikan menjadi salah satu Gereja Isa Almasih yang dewasa. Kita patut bersyukur, sejak hari lahirnya sampai hari ini Tuhan sudah banyak melakukan perbuatan besar di sini dan melalui gereja kita ini. Banyak orang sudah dimenangkan dan diubah hidupnya. Banyak orang sudah mengalami mujizat. Banyak orang sudah mengalami pertumbuhan iman. Banyak gereja baru yang didirikan di tempat-tempat lain. Selain bersyukur kita juga harus lebih mencintai gereja kita ini. Mengapa demikian? Gereja adalah keluarga rohani kita. Sama seperti setiap kita mempunyai keluarga secara jasmani, kita pun mempunyai keluarga secara rohani. Kalau Tuhan sudah menetapkan kita menjadi bagian dari gereja ini, maka kita adalah anggota keluarga Allah yang ada di GIA dr. Cipto. Gereja adalah tempat kita mengalami Tuhan. Di gereja kita mengalami kehadiran Tuhan. Kita mendapatkan makanan rohani yaitu Firman Tuhan. Di gereja kita mendengarkan Tuhan yang berbicara kepada kita. Kita mendapatkan kekuatan yang baru, pemulihan dan kesembuhan di gereja. Gereja adalah tempat kita mengalami pertumbuhan iman. Ada orang-orang yang Tuhan pakai untuk membantu kita dalam pertumbuhan rohani. Di gereja kita belajar untuk bertumbuh dalam karakter. Melalui melayani orang lain kita belajar tentang arti hidup untuk melayani. Gereja adalah tempat kita menemukan arti hidup dengan melayani dan menjadi berkat buat orang lain. Di gereja kita diajar untuk mempersembahkan hidup kita kepada Tuhan agar dipakai untuk memberkati orang lain. Melalui pelayanan yang kita kerjakan, kita memuliakan Tuhan dan memberikan dampak positif bagi orang lain. Marilah hari ini, dalam perayaan ulang tahun gereja kita yang ke 44 ini, kita berkomitmen untuk lebih mencintai gereja kita. Amin. Pdt. Goenawan Susanto
Mengalami Tuhan yang bangkit Yohanes 20:24-29 Maka kata murid-murid yang lain itu kepadanya: ’Kami telah melihat Tuhan!’ Tetapi Tomas berkata kepada mereka: ’Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya.’ [ayat 25] Tomas tidak percaya bahwa Tuhan Yesus bangkit dan hidup. Sebelumnya murid-murid yang lain telah berjumpa dengan Yesus yang bangkit, tetapi waktu itu Tomas tidak ada bersama mereka. Tomas tidak mengalami Tuhan yang bangkit karena dia tidak ikut berkumpul bersama murid-murid yang lain. Tomas termasuk tipe orang yang sulit percaya sebelum melihat bukti. Dia menuntut bukti kebangkitan Yesus dengan cara meraba atau menyentuh dengan tangannya sendiri tubuh Yesus yang bangkit. Lalu Yesus menampakkan diri dan mempersilahkan Tomas mencucukkan jarinya ke dalam lobang bekas paku dan mencucukkan tangannya ke dalam lambung-Nya. Apa yang bisa kita pelajari dari peristiwa ini? Pertama, bahwa Tuhan Yesus yang bangkit itu adalah pribadi yang riil, nyata. Dia bukan sekedar ada dalam cerita atau dalam angan-angan para murid. Dia hadir secara nyata di tengah murid-murid-Nya. Dia menyatakan bahwa Dia tetap hidup dan berkuasa, seperti sebelum Dia mati di kayu salib. Dia juga tetap hidup sampai hari ini. Kita bisa mengalami kehadiran-Nya secara nyata pula. Kedua, Tuhan Yesus menyatakan diri-Nya di tengah persekutuan murid-murid-Nya, ketika mereka sedang berdoa bersama. Tomas ketinggalan menyaksikan Tuhan karena dia tidak ikut persekutuan mereka. Di sini kita melihat betapa pentingnya persekutuan orang percaya atau ibadah bersama. Tuhan Yesus hadir dan menyapa umat-Nya yang bersatu hati di dalam doa, sebab Dia sendiri pernah berkata: ’Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.’ [Matius 18:20]. Marilah kita merindukan kehadiran Tuhan yang bangkit di dalam hidup kita. Amin. Pdt. Goenawan Susanto
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Permintaan Yang Berkualitas
31 Maret '18
Pengorbanan Yang Tidak Sia-Sia
30 Maret '18
Swa Bhuwana Paksa
09 April '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang