SEPEKAN TERAKHIR
  Kamis, 18 Januari 2018   -HARI INI-
  Rabu, 17 Januari 2018
  Selasa, 16 Januari 2018
  Senin, 15 Januari 2018
  Minggu, 14 Januari 2018
  Sabtu, 13 Januari 2018
  Jumat, 12 Januari 2018
POKOK RENUNGAN
Aku akan bergemar dalam ketetapan-ketetapan-Mu, Firman-Mu tidak akan kulupakan.
DITULIS OLEH
Sdr. Dwi Winarno
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hidup Dalam Ketetapan
Hidup Dalam Ketetapan
Rabu, 08 November 2017
Hidup Dalam Ketetapan
Mazmur 119:1-24

Di dalam kehidupan, mulai dari keluarga, lingkungan masyarakat, dan dunia pendidikan tentu memiliki sebuah peraturan. Adanya sebuah peraturan bukan untuk dilanggar atau diabaikan, tetapi bertujuan untuk mendisiplin semua yang termasuk bagian di dalamnya. Misalnya, ketika saya berada di bangku Sekolah Dasar, orangtua selalu memberikan peraturan jam belajar dari jam 6 sampai jam 8. Peraturan tersebut dibuat supaya anak-anaknya memiliki waktu khusus mempersiapkan pelajaran hari berikutnya. Kemudian ketika saya berada di perkuliahan, kampus memberikan peraturan jam belajar dari jam 7 sampai jam 10 malam. Namun, peraturan itu tidak dilaksanakan sepenuhnya. Peraturan tersebut dilakukan hanya sekedar formalitas. Keluar dari kamar membawa buku, namun tidak belajar. Tetapi di akhir semester, hampir semua mahasiswa menaati peraturan tersebut untuk mengejar membuat tugas akhir dan sebagainya.

Sebagai orang percaya, Tuhan juga menetapkan sebuah peraturan yang tertulis dalam Alkitab. Salah satunya tertulis dalam kitab Mazmur 119. Dalam ayat ini menekankan tentang ketaatan dan kesetiaan untuk terus mengikuti kehendak Tuhan. Ketaatan untuk hidup dalam terang firman Tuhan dan mencari Tuhan dengan segenap hati. Pemazmur memberikan pernyataan yang harus dilakukan dengan iman sebaga...selengkapnya »
Suatu saat ada seorang penjual ember berjalan berkeliling keluar masuk gang di perkampungan sambil menawarkan barang dagangannya. Bahkan si penjual ember itu kadang berhenti sejenak kemudian “mendemonstrasikan” ember, barang dagangannya itu dengan membanting-bantingkannya di tanah bahkan membentur-benturkan satu ember dengan ember lainnya. Penjual ember itu melakukan semua untuk membuktikan bahwa barang dagangannya itu merupakan produk kualitas unggul. Selain itu sebagai bukti bahwa ember yang tidak mudah pecah, sehingga harapannya adalah supaya banyak orang membeli ember, barang dagangannya itu. Berbicara demonstrasi adalah soal memastikan, meyakinkan sesuatu kepada orang banyak. Demikian juga dengan Allah, bahwa Dia menyatakan anugerahNya, sesuatu yang sangat dibutuhkan oleh manusia berdosa. Kebutuhan manusia berdosa yang utama bukanlah kehormatan, kekayaan, kejayaan, dsb., tetapi hanyalah pembebasan atau kemerdekaan dari belenggu dosa. Allah mengerti kebutuhan manusia yang utama, yaitu keselamatan dan kemenangan sehingga hidup ini terasa lepas dan bergairah dengan sukacita penuh dengan shalom, damai sejahtera. Oleh sebab itu tindakan Allah untuk manusia berdosa adalah menyatakan kasih-Nya yang besar, yaitu Allah “mendemonstrasikan” kasih-Nya yang besar itu dengan mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya barang siapa yang percaya akan kasih Allah itu, yaitu putera-Nya yang tunggal maka akan selamat. Yesus yang datang ke dunia adalah anugerah Allah Bapa bagi semua manusia. Yesus adalah tindakan kasih Allah. Yesus yang datang ke dunia adalah hati Allah yang terbuka kepada siapa pun tanpa “pandang bulu atau tebang pilih”. Kasih Allah itu untuk semua suku bangsa dengan tidak memandang kaya-miskin, pandai-tidak pandai, punya kedudukan atau tidak, punya gelar atau tidak, bahkan para yatim piatu, gelandangan, cacat permanen, dan semua manusia tanpa terkecuali mendapatkan hadiah keselamatan yaitu hadirnya Yesus, Putera Allah untuk semua manusia. Saudara kekasih Tuhan, marilah kita menghayati makna natal kali ini. Sudahkah kita menerima dengan meyakini bahwa Yesus adalah anugerah Allah? Keselamatan telah datang bagi diri pribadi kita. Kemudian marilah kita yang telah menerima “demonstrasi” kasih Allah itu kita dengungkan dan wartakan kepada banyak orang yang masih hidup dalam kesuraman dunia ini. Mari tunjukkan gaya hidup kita yang ceria dan tanpa beban, penuh pengampunan dan cintakasih kepada sesama manusia. Selamat natal.
Saya bersyukur dilahirkan di tengah-tengah keluarga sederhana. Penghasilan orangtua hanya pas-pasan. Sehingga untuk membeli barang kebutuhan lainnya harus susah payah untuk mencari. Ketika akan memasuki kelas 3 SLTA, sepatu saya kelihatan rusak parah, maka saya berniat meminta kepada orangtua. Tetapi saya tidak berani meminta karena kondisi pekerjaan dan ekonomi. Sore itu tiba-tiba ibu menghampiri saya serta menegor mengapa saya tidak memberitahu kalau sepatu saya sudah rusak. Kemudian ibu mengajari saya agar “menyisihkan Rp. 200,- dari Rp. 500,- uang saku saya tiap hari. Ketika ibu memberi uang di pagi hari, ia selalu mengarahkan saya memasukan uang Rp. 200,- ke dalam “celengan” bambu. Ibu mengajari saya “menyisihkan” bukan “menyisakan” uang saku saya. Alasannya kalau menyisihkan berati benar-benar menyendirikan, disiapkan khusus. Sedangkan kalau “menyisakan” berati meninggalkan sedikit. Dan hasilnya, dalam jangka waktu 1 tahun, saya bisa membeli sepatu walaupun ibu harus menambah sejumlah uang, namun tidak memberatkan. Rumusan “sisihkan, bukan sisakan” seharusnya juga menjadi rumusan untuk waktu khusus bersama Tuhan. Seperti Daniel. Daniel adalah pembesar negara yang tentu sangat sibuk [ayat 3-4], tetapi yang mengagumkan, ia sudah punya tempat, waktu, bahkan metode yang tetap untuk bersekutu dengan Allah [ayat 11]. Dalam konteks ini, Daniel memang sedang terancam akan dilemparkan ke gua singa. Namun berdoa tiga kali sehari bukan dilakukannya karena panik dengan ancaman itu. Hal ini dicatat sudah menjadi pola kebiasannya. Ia benar-benar menyisihkan yang terbaik untuk Allah, bukan memberi sisa. Mungkin selama ini kita hanya memberi sisa-sisa waktu, sisa-sisa tenaga, serta kemauan sehingga waktu bersama Tuhan tidak berisi. Mari ubah pendekatan kita dengan menyisihkan [menyediakan], bukan menyisakan, waktu untuk berdoa dan membaca firman-Nya. Mungkin awalnya terasa berat, tetapi mintalah pertolongan Roh Kudus agar kita bijak menempatkan prioritas hidup dan diperkenankan menikmati persekutuan yang indah dengan Allah tiap hari. Persekutuan dengan Allah menolong kita menghadapi situasi hidup apapun. Di Tahun 2018 ini beri dan siapkan waktu khusus untuk Tuhan agar hidup kita makin berkenan di hadapan-Nya. Amin. [ATL] Pokok renungan: Temui Tuhan dengan menyisihkan waktu khusus untuk menghadap-Nya.
Setiap memasuki tahun baru banyak orang yang takut dan ragu-ragu untuk melangkah karena melihat situasi dunia yang tidak menentu dalam segala bidang. Ekonomi yang terpuruk, situasi politik yang mencekam, keamanan yang mengkhawatirkan, bencana alam yang silih berganti. Kekhawatiran itu ditambah lagi dengan adanya ramalan-ramalan paranormal yang lebih menakutkan dan berita-berita dalam medsos yang seringkali hoax tetapi sudah terlanjur membuat pembacanya ketakutan. Daud mengatakan bahwa Tuhan menjawab pada saat ia dalam kesesakan dengan mengirim bantuan-Nya dari tempat kudus dan Dia membentenginya. Tuhan akan memberikan apa yang dia kehendaki dan menjadikan berhasil setiap yang dirancangkan. Tuhan memberi kemenangan dan memenuhi segala permintaan. Tuhan menjawab dari sorga-Nya yang kudus dan memberi kemenangan yang gilang gemilang oleh tangan kanan-Nya bagi orang yang diurapi-Nya. Allah akan mengingat segala korban persembahan dan menyukai korban bakaran yang dipersembahkannya. Atas kemenangan yang diberi-Nya, Daud bersorak sorai, mengangkat panji-panji demi Allah dan bermegah dalam nama Tuhan. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi dalam tahun baru yang kita masuki. Kita khawatir apa yang akan terjadi dengan usaha/pekerjaan, keluarga, masa depan, kekristenan, dll. Tuhan berjanji akan memenuhi setiap kebutuhkan kita, dalam kesulitan dan masalah yang kita alami, Dia akan memberikan kemenangan. Bagian kita sebagai orang yang diurapi-Nya adalah memberi yang terbaik bagi-Nya, yaitu ketaatan dan keintiman dengan-Nya. Kita memuliakan Tuhan melalui setiap perkataan, perbuatan dan tindakan yang mengharumkan nama-Nya. Marilah kita memasuki tahun ini dengan penuh sukacita dan dengan keyakinan bahwa kita sanggup menanggung segala perkara di dalam Dia yang memberi kekuatan kepada kita.
Pesta akhir tahun seakan menjadi puncak dari segala sukacita setelah 365 hari melewati kehidupan yang penuh dengan lika-liku. Rasa puas, lega, bahagia tertumpah di akhir tahun itu, beriringan dengan doa-doa yang dipanjatkan di detik-detik akhir ataupun sorak-sorai yang gegap gempita menyambut datangnya hari yang baru di tahun yang baru. Seiring dengan berakhirnya pesta akhir tahun, munculah tanda tanya besar, bagaimana dengan tahun yang akan datang? Apakah yang akan terjadi, apakah usaha dan pekerjaan bisa berjalan seperti tahun yang lalu? Apakah kesehatan akan menjadi lebih baik ataukah memburuk? Bagaimana dengan situasi politik, keamanan negara dan bangsa? Bagaimana dengan keluarga, studi anak-anak? Bayangan pertanyaan-pertanyaan itu akan dengan mudah membuat nyali kita menciut ketika kita tahu bahwa semakin hari hidup tidak semakin mudah. Tantangan, masalah, dan persoalan sudah pasti akan menghadang langkah-langkah kita. Demikian juga ketika Tuhan memanggil Abram untuk pergi dari tanah kelahirannya menuju ke negeri yang dijanjikan Tuhan. Abram tidak mengetahui tujuan pastinya, bagaimana keadaan negeri tersebut, berapa lama harus melakukan perjalanan, bagaimana dengan keamanan dalam perjalanan, dll. Yang dilakukan Abram ialah percaya kepada Tuhan karena Abram mengenal siapa yang menyuruhnya pergi. Abram percaya bahwa Tuhan yang “dipercaya”nya tidak akan meninggalkan, tidak akan menelantarkan, dan tidak akan menjerumuskannya. Belajar dari Abram dalam menempuh perjalanan menuju ke negeri yang dijanjikan Tuhan, kita bisa meneladani apa yang dilakukan Abram kepada Tuhan. Percaya saja, Dia pasti akan menuntun kita menempuh perjalanan di tahun yang baru ini. Dia tidak akan meninggalkan kita begitu saja, tapi akan terus menyertai. Dia menyediakan yang kita perlukan. Apa yang kita butuhkan dalam menjalani hari-hari yang akan datang? Rasa aman? Kekuatan? Penghiburan? Hikmat? Semua akan diberikan bagi kita. Mendirikan mezbah dan memanggil nama Tuhan, itu yang dilakukan Abram selama dia melakukan perjalanan ke negeri yang dijanjikan Tuhan [ayat 7-8]. Kita bisa meneladani apa yang dilakukan Abram supaya perjalanan kita melewati tahun 2018 inipun dapat kita jalani dengan berhasil. Jangan takut, jangan menjadi tawar hati untuk memulai langkah di tahun yang baru ini, tapi percaya saja… Dia pasti menolong kita.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Hidup Yang Teguh
18 Desember '17
Sang Firman
29 Desember '17
Demonstrasi Kasih Allah
08 Januari '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang