SEPEKAN TERAKHIR
  Senin, 18 Juni 2018   -HARI INI-
  Minggu, 17 Juni 2018
  Sabtu, 16 Juni 2018
  Jumat, 15 Juni 2018
  Kamis, 14 Juni 2018
  Rabu, 13 Juni 2018
  Selasa, 12 Juni 2018
POKOK RENUNGAN
Aku akan bergemar dalam ketetapan-ketetapan-Mu, Firman-Mu tidak akan kulupakan.
DITULIS OLEH
Sdr. Dwi Winarno
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hidup Dalam Ketetapan
Hidup Dalam Ketetapan
Rabu, 08 November 2017
Hidup Dalam Ketetapan
Mazmur 119:1-24

Di dalam kehidupan, mulai dari keluarga, lingkungan masyarakat, dan dunia pendidikan tentu memiliki sebuah peraturan. Adanya sebuah peraturan bukan untuk dilanggar atau diabaikan, tetapi bertujuan untuk mendisiplin semua yang termasuk bagian di dalamnya. Misalnya, ketika saya berada di bangku Sekolah Dasar, orangtua selalu memberikan peraturan jam belajar dari jam 6 sampai jam 8. Peraturan tersebut dibuat supaya anak-anaknya memiliki waktu khusus mempersiapkan pelajaran hari berikutnya. Kemudian ketika saya berada di perkuliahan, kampus memberikan peraturan jam belajar dari jam 7 sampai jam 10 malam. Namun, peraturan itu tidak dilaksanakan sepenuhnya. Peraturan tersebut dilakukan hanya sekedar formalitas. Keluar dari kamar membawa buku, namun tidak belajar. Tetapi di akhir semester, hampir semua mahasiswa menaati peraturan tersebut untuk mengejar membuat tugas akhir dan sebagainya.

Sebagai orang percaya, Tuhan juga menetapkan sebuah peraturan yang tertulis dalam Alkitab. Salah satunya tertulis dalam kitab Mazmur 119. Dalam ayat ini menekankan tentang ketaatan dan kesetiaan untuk terus mengikuti kehendak Tuhan. Ketaatan untuk hidup dalam terang firman Tuhan dan mencari Tuhan dengan segenap hati. Pemazmur memberikan pernyataan yang harus dilakukan dengan iman sebaga...selengkapnya »
Wikipedia mendefinisikan Fobia sebagai rasa ketakutan yang berlebihan pada sesuatu hal atau fenomena tertentu. Bagi sebagian orang, perasaan takut seorang pengidap fobia sulit dimengerti. Ada perbedaan ’bahasa’ antara pengamat fobia dengan seorang pengidap fobia. Pengamat fobia menggunakan bahasa logika sementara seorang pengidap fobia biasanya menggunakan bahasa rasa. Bagi pengamat dirasa lucu jika seseorang berbadan besar, takut dengan hewan kecil seperti kecoak atau tikus. Sementara di bayangan mental seorang pengidap fobia, subjek tersebut menjadi benda yang sangat besar, berwarna, sangat menjijikkan ataupun menakutkan. Di dalam keadaan normal setiap orang memiliki kemampuan mengendalikan rasa takut. Akan tetapi bila seseorang terpapar terus menerus dengan subjek fobia, hal tersebut berpotensi menyebabkan terjadinya fiksasi. Fiksasi adalah suatu keadaan di mana mental seseorang menjadi terkunci, yang disebabkan oleh ketidakmampuan orang yang bersangkutan dalam mengendalikan perasaan takutnya. Fobia bisa dikatakan dapat menghambat kehidupan orang yang mengidapnya. Tanpa disadari, hari-hari ini banyak orang Kristiani mengalami ketakutan. Tanpa disadari juga ketakutan itu terus meningkat dan seolah-olah menjadi seperti fobia. Fobia dalam hal apa? Fobia untuk beribadah. Ada ketakutan dalam diri untuk datang beribadah dan bergereja. Entah itu takut karena terorisme, intimidasi, merasa sebagai orang berdosa, yang tidak layak untuk beribadah kepadaNya. Atau ketakutan karena hal-hal lainnya, yang akhirnya menyebabkan urung untuk beribadah. Ketakutan itu jika terus dibiarkan akan berubah ke level yang lebih tinggi, yaitu fobia yang permanen. Apakah kita menyadari hal ini? Sebelum Tuhan Yesus terangkat ke sorga. Tuhan Yesus meyakinkan para muridNya untuk menghapus segala ketakutan mereka. Bagaimana caranya? Ada “Sang Penolong” yang akan diberikan kepada para murid. Injil Yohanes 14:16-17, “Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran...” Roh kebenaran akan menyatakan kebenaran kepada umat Tuhan, untuk tetap yakin mengikut dia Roh Kudus akan bertindak sebagai penolong, yang akan menolong umat Tuhan supaya tetap tegar menghadapi segala tantangan dan ketakutan. Apa yang menjadi ketakutan kita? Apakah ketakutan itu masih ada hingga saat ini? Apakah ketakutan itu menguasai dan mengintimidasi? Tuhan Yesus memberi penegasan kepada umatNya. Jangan Takut !!! Roh Tuhan bersama kita. Jangan gentar dan gelisah, Roh Tuhan menolong dan menuntun kita. Firman yang disampaikan oleh Tuhan Yesus yang tercatat di dalam Injil Yohanes 14:18 jelas dan tegas. Kita tidak akan dibiarkan sendiri. Tuhan bersama kita! Oleh karena itu, janganlah takut. Serukan dengan tegas kepada semua fobia tersebut, KAMI TIDAK TAKUT !!!
Ketekunan merupakan hal yang baik untuk terus dilakukan oleh setiap orang. Ketika seorang murid belajar dengan tekun, maka ia akan mudah untuk menguasai setiap materi pelajaran yang diajarkan. Sehingga ketika mendapat soal dari guru, ia akan dapat mengerjakannya. Demikian juga seorang pianis tidak akan mampu memainkan piano dengan baik jika tidak disertai dengan tekun berlatih secara rutin. Semakin tekun berlatih maka permainan piano yang dihasilkan akan semakin bagus. Ketekunan di dalam melakukan hal-hal yang baik akan semakin meningkatkan kualitas hidup seseorang. Dalam Alkitab juga di tulis mengenai ketekunan yang dilakukan oleh jemaat mula-mula di dalam kehidupan keseharian mereka. Mereka bertekun oleh karna karya dari Roh Kudus yang bekerja dalam diri mereka. Jemaat mula-mula bertekun di dalam tiga hal [Kis 2:41-47]. Yang pertama; mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul. Mereka selalu bertekun mempelajari Firman melalui pengajaran yang diberikan oleh para rasul. Jemaat mula-mula menyediakan waktu untuk mempelajari Firman Allah, karena mereka tahu bahwa Firman Allah akan memimpin hidup mereka dalam kebenaran. Dan melalui pengajaran Firman Allah, iman mereka kepada Yesus Kristus semakin kuat dan tidak goyah. Yang kedua; mereka bertekun dalam persekutuan, yang artinya mereka selalu mengadakan pertemuan-pertemuan ibadah. Mereka berkumpul untuk berdoa dan saling menguatkan. Mereka senantiasa tekun bersekutu ditengah-tengah kesibukan mereka masing-masing. Yang ketiga; mereka bertekun dalam perbuatan kasih. Yang artinya di dalam kehidupan mereka bersama, tidak ada rasa mementingkan diri sendiri. Melainkan saling memberi dan menolong kepada sesama yang membutuhkan. Mereka rela menjual barang milik sendiri dan hasilnya dibagi kepada yang membutuhkan. Sungguh indah hal yang dilakukan oleh jemaat mula-mula. Sebagai jemaat Tuhan marilah kita juga melihat cara hidup jemaat mula-mula yang sungguh indah. Mereka senantiasa bertekun dalam tiga hal di atas dan hasilnya adalah kehidupan mereka menjadi berkat dan menjadi kesaksian hingga banyak orang yang akhirnya percaya kepada Kristus. Mari kita juga bertekun di dalam tiga hal tersebut sehingga hidup kita akan semakin berkenan kepada Allah.
Seorang lelaki berdoa kepada Tuhan Yesus agar diberikan bunga dan kupu-kupu. Namun Tuhan Yesus memberikannya kaktus dan ulat. Lelaki ini sedih dan tidak paham mengapa pemberian-Nya berbeda dari permintaannya. Kemudian dia berpikir, Tuhan Yesus mempunyai banyak umat untuk diurus. Dan dia memutuskan untuk tidak mempersoalkannya. Selepas beberapa waktu, lelaki ini memikirkan semula permohonan doanya yang telah lama dilupakannya. Lelaki ini sangat terkejut ketika melihat dari pohon kaktus yang buruk dan berduri itu tumbuh bunga yang cantik. Dan dari ulat yang terselubung telah berubah menjadi kupu-kupu yang cantik. Di dalam kehidupan manusia selalu merencanakan sesuatu yang baik baginya. Tidak dipungkiri bahwa umat Tuhan juga termasuk di dalamnya yang selalu mempunyai rencana-rencana yang baik bagi hidupnya. Kitab Amsal 19:21 mengajarkan bahwa secara alamiah hati manusia itu selalu mempunya banyak rancangan mengenai kehidupan di masa kini dan masa mendatang. Akan tetapi sebanyak apapun rancangan dan rencana itu, keputusan tetaplah di tangan Tuhan. Keputusan Tuhanlah yang akan terlaksana dalam kehidupan manusia. Mengapa demikian? Karena Tuhan yang mengendalikan semua hal yang terjadi dalam kehidupan manusia. Seperti halnya yang tertulis dalam Amsal 16:1, manusia dapat menimbang-nimbang dalam hati, tetapi jawaban lidah berasal daripada Tuhan. Bahkan kadang bukan hanya merencanakan tetapi seringkali menuntut Tuhan untuk memberikan seperti yang diminta. Jemaat terkasih, di dalam kehidupan kekristenan kita juga seringkali mengalami hal yang sama. Kita berdoa meminta banyak hal di dalam hidup kita. Bahkan seringkali kita juga merencanakan sesuatu yang indah, yang keren, dan yang waoo. Namun Tuhan tidak memberikan sama persis seperti yang kita harapkan. Tuhan mengajarkan supaya kita melihat proses bukan sesuatu yang instan. Tuhan memberikan kaktus dan ulat karena suatu saat itu akan menghasilkan bunga yang cantik dan kupu-kupu yang indah. Keputusan Tuhanlah yang terbaik dalam kehidupan umat-Nya. Sekalipun nampaknya tidak sesuai dengan rancangan kehidupan yang telah kita buat, namun rancangan Tuhan tidak pernah gagal. Walaupun kelihatannya salah, tetapi cara Tuhan menyatakan setiap perkara selalu ajaib dan benar. Percayakanlah setiap keputusan kepada Tuhan karena Dialah yang mengendalikannya. Dan yang Tuhan inginkan dari kita adalah kesetiaan menanti dan mempercayai keputusan Tuhanlah yang terbaik.
Saya pernah mengalami kesedihan yang sangat luar biasa. Penyebabnya yaitu, karena tidak mampu menyelesaikan studi S2. Segala upaya mencari jalan keluar sudah saya usahakan. Tetapi tetap tidak bisa menemukan jalan keluar. Permasalahan saya pada saat itu adalah pembagian waktu antara mengajar dengan kuliah dan dana yang kurang mencukupi. Ketika waktu mengajar bisa diatur dengan baik, gantian dana yang tidak cukup untuk membayar biaya semester. Akhirnya kegagalan yang saya dapatkan. Kehidupan seseorang diisi oleh dua hal yang berlawanan yaitu gagal atau berhasil. Tidak pernah ada satu orang selalu di isi satu bagian saja misal gagal terus menerus atau berhasil terus menerus. Lalu bagaimana Firman Tuhan kegagalan dan keberhasilan di tuliskan dalam Alkitab ? Kita akan belajar melalui peristiwa taman Firdaus yang terulisn dalam Alkitab. Pertama, Iblislah yang mencobai dengan target pikiran kita [Kejadian 3:1-7]. Tahap strategi iblis terhadap pikiran kita yaitu: agar kita meragukan Firman Tuhan, kemudian menyangkal Firman Tuhan dan percaya kepada iblis, sehingga iman kita gagal. Jika kita tidak waspada terhadap strategi iblis ini maka kita akan mudah jatuh dalam kegagalan. Kedua, Iblis memanfaatkan kelemahan kita [Matius 4:1-11]. Dalam Pasal ini menceritakan ketika iblis mencobai Yesus saat Dia sedang lapar dan lemah karena puasa. Iblis juga mencobai Yesus saat Ia mengalami kesunyian di padang gurun. Jadi iblis membuat kita gagal saat kita lemah dan juga sedang mengalami kesunyian tidak berpengharapan. Oleh sebab itu bagaimana strategi kita agar menang terhadap pencobaan sehingga memperoleh kemenangan ? Ada beberapa hal yang harus dilakukan, Pertama, memandang setiap pencobaan yang datang dengan berpikir bahwa setiap pencoban merupakan kesempatan untuk menjadikan kita semakin kuat dan berhasil dalam Tuhan [Kejadian 50:20]. Kedua, menjadikan Firman Tuhan sebagai pedoman yang paling berpengaruh dalam setiap sisi hidup kita [Matius 4:4, 7]. Ketiga, dengan berdoa dan berpuasa membuat hidup kita makin kuat dalam mengikut Tuhan. Kegagalan dan keberhasilan selalu mengikuti dalam setiap sisi kehidupan manusia. Bagi orang percaya, hidupnya akan dibuat berhasil jika kesukaannya adalah merenungkan dan melakukan Taurat Tuhan [Mazmur 1:2-3]. Maka lakukan setiap Firman-Nya jika kita ingin hidup berhasil.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Kami Tidak Takut !
07 Juni '18
Hidup Dipimpin Oleh Roh Kudus
09 Juni '18
Apa Yang Kupunyai, Kuberikan Padamu
26 Mei '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang