SEPEKAN TERAKHIR
  Senin, 23 April 2018   -HARI INI-
  Minggu, 22 April 2018
  Sabtu, 21 April 2018
  Jumat, 20 April 2018
  Kamis, 19 April 2018
  Rabu, 18 April 2018
  Selasa, 17 April 2018
POKOK RENUNGAN
Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.
DITULIS OLEH
Pdt. Goenawan Susanto
Gembala Jemaat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Memasuki Tahun 2018
Memasuki Tahun 2018
Minggu, 31 Desember 2017
Memasuki Tahun 2018
Matius 28:20b
Memasuki tahun 2018

Matius 28:20b
Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.

Hari ini kita ada di hari terakhir tahun 2017. Sebentar lagi kita akan memasuki tahun 2018. Tahun 2018 adalah tahun yang penuh dengan tanda tanya, tahun yang sangat sulit untuk diprediksi. Karena pada tahun 2018 akan dilaksanakan Pilkada serentak di 171 daerah, yaitu 17 provinsi, 39 kota, dan 115 kabupaten. Dan di Jawa Tengah sendiri akan dilaksanakan pemilihan gubernur. Khususnya Kota Semarang sebagai ibukota Jawa Tengah tentu akan merasakan hangatnya suhu politik sebagai efek pilkada. Suasana menjelang Pemilihan presiden 2019 juga pasti sudah terasa di tahun 2018. Partai-partai pengusung calon RI1 akan saling berlomba mempopulerkan calonnya masing-masing. Kita berdoa agar tidak terjadi benturan-benturan yang mengakibatkan kegaduhan dan goncangan situasi negeri kita. Hal-hal yang tidak kita inginkan kiranya tidak terjadi.

Kita percaya kepada Allah Sang Penguas...selengkapnya »
Seorang guru bijak mendatangi muridnya yang tampak murung. ’Kenapa kau murung, nak? Bukankah banyak hal yang indah di dunia ini?’ sang guru bertanya. ’Guru hidupku penuh masalah. Sulit bagiku untuk tersenyum. Masalah datang seperti tak ada habis-habisnya.’ jawab sang murid. Sang guru tersenyum. ’Nak, ambillah segelas air dan dua genggam garam, bawalah kemari.’ Si muridpun beranjak pelan tanpa semangat, mengambil gelas dan garam yang diminta gurunya. ’Coba ambil segenggam garam dan masukkan ke gelas air itu’, kata gurunya. ’Sekarang kau minum airnya sedikit.’ Si muridpun melakukannya. Wajahnya meringis karena minum air asin. ’Bagaimana rasanya?’ tanya sang guru. ’Asin sekali dan perutku jadi mual.’ jawab sang murid. ’Sekarang kau ikut aku.’ Sang guru membawa muridnya ke danau di dekat tempat pondokan mereka. ’Ambil garam yang tersisa dan tebarkan ke danau.’ Si murid menebar garam yang tersisa ke danau, tanpa bicara. Rasa asin di mulutnya belum hilang. ’Sekarang coba kau minum air danau itu.’ kata sang guru. Si murid menangkupkan kedua tangannya mengambil air danau, dan membawa ke mulutnya lalu meneguknya. Ketika air danau yang dingin dan segar mengalir di kerongkongannya, sang guru bertanya kepadanya. ’Bagaimana rasanya?’ ’Segar sekali.’ kata si murid. ’Terasakah rasa garam yang kau tebarkan tadi?’ ’Tidak sama sekali’ kata si murid sambil mengambil air dan meminumnya lagi. Sang guru hanya tersenyum memperhatikannya membiarkan muridnya itu meminum air danau sampai puas. ’Nak.’ kata sang guru setelah muridnya selesai minum. ’Segala masalah dalam hidup itu seperti segenggam garam. Tidak kurang tidak lebih. Hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus kau alami sepanjang kehidupanmu itu sudah diketahui oleh Tuhan, sesuai untuk dirimu. Jumlahnya tetap, segitu-segitu saja, tidak berkurang dan tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir ke dunia inipun demikian. Tidak ada satupun manusia, walau dia seorang nabi, yang bebas dari penderitaan dan masalah. Rasa ’asin’ dari penderitaan yang kita alami itu sangat tergantung dari besarnya hati yang menampungnya. Jadi nak, supaya tidak merasa menderita, berhentilah jadi gelas. Jadikan hati dalam dadamu itu sebesar danau.’ Si murid terdiam mendengarkan. Milikilah hati yang lapang, hati yang penuh dengan ucapan syukur dan yang sanggup menampung setiap perkara yang terjadi dalam hidup kita.
Sebuah penggalan lirik lagu yang berbunyi “kita dipilih dari segala bangsa, kita dipilih jadi umat-Nya, kita dipilih dan dikuduskan-Nya, membawa kemuliaan hanya bagi Dia”. Lirik dari lagu ini tegas mengatakan bahwa kita sebagai orang-orang yang menjadi umat Allah yang dikuduskanNya dari keadaan yang semula tidak kudus menjadi kudus oleh karena Dia, dan kita memiliki tugas yaitu untuk menjadi alat bagi kemuliaan-Nya. Tuhan memiliki tujuan bagi setiap kita, umat yang dikasihi-Nya. Sebuah hal yang luar biasa bagi kita yang pada dasarnya adalah manusia yang berdosa. Namun, oleh karena kasih karunia Allah kita memperoleh pengampunan melalui pengorbanan Kristus di kayu salib. Karena Allah sendiri yang telah memilih kita untuk menjadi umat-Nya maka dari itu kita perlu meresponi panggilan tersebut dengan benar. Hidup benar dan kudus di hadapan Tuhan sebagai wujud dari rasa syukur kita kepada Allah dan juga sebagai wujud bakti kita kepada-Nya. Dalam kitab Imamat 20:26 dikatakan bahwa Tuhan adalah kudus dan kita juga haruslah kudus, karena Ia telah memisahkan dan memilih kita sebagai umat kepunyaan-Nya. Maka sangat jelas bagi kita untuk hidup kudus sesuai dengan Firman-Nya. Hidup kudus berarti menjaga hidup kita untuk tetap lurus berjalan dalam kebenaran Firman Tuhan dalam setiap aspek kehidupan. Dan dengan demikin kita yang telah dikuduskan oleh karena Dia, dapat membawa terang kemuliaan Allah untuk kita tunjukan kepada dunia ini supaya menjadi berkat bagi orang-orang yang belum percaya kepada-Nya. Jemaat Tuhan yang terkasih, marilah kita menjadi umat Tuhan yang membawa terang kemuliaan-Nya melalui apa yang ada pada diri kita melalui sikap hidup kita. Dengan hidup lurus sesuai dengan firman-Nya, maka dengan itu pula nama Tuhan semakin dipermuliakan. Jika kita telah dipilih menjadi umat pilihan-Nya, maka kita juga memiliki tugas tanggung jawab untuk mempermuliaakan Tuhan.
Mengalami Tuhan yang bangkit Yohanes 20:24-29 Maka kata murid-murid yang lain itu kepadanya: ’Kami telah melihat Tuhan!’ Tetapi Tomas berkata kepada mereka: ’Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya.’ [ayat 25] Tomas tidak percaya bahwa Tuhan Yesus bangkit dan hidup. Sebelumnya murid-murid yang lain telah berjumpa dengan Yesus yang bangkit, tetapi waktu itu Tomas tidak ada bersama mereka. Tomas tidak mengalami Tuhan yang bangkit karena dia tidak ikut berkumpul bersama murid-murid yang lain. Tomas termasuk tipe orang yang sulit percaya sebelum melihat bukti. Dia menuntut bukti kebangkitan Yesus dengan cara meraba atau menyentuh dengan tangannya sendiri tubuh Yesus yang bangkit. Lalu Yesus menampakkan diri dan mempersilahkan Tomas mencucukkan jarinya ke dalam lobang bekas paku dan mencucukkan tangannya ke dalam lambung-Nya. Apa yang bisa kita pelajari dari peristiwa ini? Pertama, bahwa Tuhan Yesus yang bangkit itu adalah pribadi yang riil, nyata. Dia bukan sekedar ada dalam cerita atau dalam angan-angan para murid. Dia hadir secara nyata di tengah murid-murid-Nya. Dia menyatakan bahwa Dia tetap hidup dan berkuasa, seperti sebelum Dia mati di kayu salib. Dia juga tetap hidup sampai hari ini. Kita bisa mengalami kehadiran-Nya secara nyata pula. Kedua, Tuhan Yesus menyatakan diri-Nya di tengah persekutuan murid-murid-Nya, ketika mereka sedang berdoa bersama. Tomas ketinggalan menyaksikan Tuhan karena dia tidak ikut persekutuan mereka. Di sini kita melihat betapa pentingnya persekutuan orang percaya atau ibadah bersama. Tuhan Yesus hadir dan menyapa umat-Nya yang bersatu hati di dalam doa, sebab Dia sendiri pernah berkata: ’Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.’ [Matius 18:20]. Marilah kita merindukan kehadiran Tuhan yang bangkit di dalam hidup kita. Amin. Pdt. Goenawan Susanto
Sebuah ilustrasi menceritakan kisah tentang kehidupan binatang di sebuah hutan. Kisah tersebut bermula ketika hutan tempat tinggal semua binatang itu di landa angin badai yang besar. Maka terjadilah kerusakan hutan yang parah. Banyak pohon-pohon tumbang yang membuat semua binatang ketakutan. Setelah badai itu reda, ada seekor semut yang berjalan dengan sombongnya karena, ia tidak mengalami kesakitan sedikitpun akibat badai tersebut karena badannya yang mungil. Ketika ia keluar dari sarang yang berada di dalam tanah, ia melihat kepompong yang hanya tergeletak di bawah dahan yang patah. Ia bergumam, bahwa sungguh tidak enak menjadi kepompong yang tidak bisa apa-apa. Ia terkurung dan tidak bisa kemana-mana, sungguh sangat memalukan. Si semut mulai membanggakan dirinya yang selamat dan bisa kemana-mana yang ia mau. Bukan hanya kepompong yang ia hina, tetapi semua binatang yang ia temui. Suatu ketika si semut berjalan di atas jalanan yang berlumpur. Tanpa ia sadari lumpur itu menghisap dirinya semakin ke dalam dan membuatnya semakin tenggelam. Ia mulai berteiak-teriak minta tolong. Lalu datanglah kupu-kupu, ia berkata kepada si semut, “dulu aku adalah kepompong yang kau hina jelek, sekarang aku sudah berubah menjadi kupu-kupu yang indah dan bisa terbang kemanapun yang kumau, sini aku bantu keluar dari lumpur itu”. Injil Matius 5:43-48 membahas tentang bagaimana seharusnya menunjukkan kasih kepada orang lain. Allah datang bertujuan untuk menggenapi hukum Taurat bukan untuk meniadakannya. Oleh sebab itu, Allah mau menunjukkan perintah untuk saling mengasihi tanpa memandang status. Memang di jaman Perjanjian Lama, difirmankan bahwa, kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu[ayat 43]. Tetapi Allah yang datang dalam nama Yesus menegaskan bahwa kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang telah menganiaya [ayat 44]. Artinya adalah kasih yang Tuhan berikan adalah untuk semua umat manusia. Tuhan juga merindukan agar orang yang telah percaya terlebih dahulu menunjukkan kasih kepada orang-orang yang belum percaya kepada Tuhan sekalipun mereka membenci orang percaya. Karena dengan demikian, orang-orang yang percaya akan menjadi anak-anak Bapa yang di sorga. Tuhan Yesus mengajarkan untuk berbuat kasih kepada semua orang sekalipun itu musuh yang membenci kita. Seringkali kita menjadi sama seperti semut yang sombong karena kita merasa diri kita sudah selamat dan tidak menghiraukan kehidupan orang lain yang “menderita”. Tetapi kita sangat sulit memposisikan seperti kupu-kupu, yang bersedia menolong walaupun pernah dihina, pernah disakiti. Namun Tuhan Yesus memberikan penegasan bahwa jadilah seperti kupu-kupu yang rela menolong dan mengasihi tanpa memandang status.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Permintaan Yang Berkualitas
31 Maret '18
Mengikuti Jejak Yesus
25 Maret '18
Tak Melihat Namun Percaya
18 April '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang