SEPEKAN TERAKHIR
  Kamis, 18 Januari 2018   -HARI INI-
  Rabu, 17 Januari 2018
  Selasa, 16 Januari 2018
  Senin, 15 Januari 2018
  Minggu, 14 Januari 2018
  Sabtu, 13 Januari 2018
  Jumat, 12 Januari 2018
POKOK RENUNGAN
Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.
DITULIS OLEH
Pdt. Goenawan Susanto
Gembala Jemaat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Memasuki Tahun 2018
Memasuki Tahun 2018
Minggu, 31 Desember 2017
Memasuki Tahun 2018
Matius 28:20b
Memasuki tahun 2018

Matius 28:20b
Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.

Hari ini kita ada di hari terakhir tahun 2017. Sebentar lagi kita akan memasuki tahun 2018. Tahun 2018 adalah tahun yang penuh dengan tanda tanya, tahun yang sangat sulit untuk diprediksi. Karena pada tahun 2018 akan dilaksanakan Pilkada serentak di 171 daerah, yaitu 17 provinsi, 39 kota, dan 115 kabupaten. Dan di Jawa Tengah sendiri akan dilaksanakan pemilihan gubernur. Khususnya Kota Semarang sebagai ibukota Jawa Tengah tentu akan merasakan hangatnya suhu politik sebagai efek pilkada. Suasana menjelang Pemilihan presiden 2019 juga pasti sudah terasa di tahun 2018. Partai-partai pengusung calon RI1 akan saling berlomba mempopulerkan calonnya masing-masing. Kita berdoa agar tidak terjadi benturan-benturan yang mengakibatkan kegaduhan dan goncangan situasi negeri kita. Hal-hal yang tidak kita inginkan kiranya tidak terjadi.

Kita percaya kepada Allah Sang Penguas...selengkapnya »
Berlutut di hadapan Tuhan tidaklah hanya berbicara tentang sikap doa, tetapi juga sikap hati di mana kita mencari Tuhan. Doa adalah hal yang dapat dilakukan oleh siapapun juga, dan mengandung kuasa yang besar. Charles Stanley dalam bukunya ’Landmines in The Path of the Believer’ [Ranjau yang tersembunyi di balik jalan orang percaya] menyatakan, ’Kita berdiri makin tinggi dan kuat di atas lutut kita.’ Buku tersebut menceritakan tentang keadaan di mana dia mengalami saat-saat yang begitu gelap dan putus asa, dia terbangun di tengah malam dan duduk di sisi tempat tidurnya dan berdoa. Ia menyerukan seluruh persoalannya kepada Tuhan, dan kemudian meminta Tuhan menolong dia untuk dapat tidur kembali. Pada saat ia terombang-ambing dan putus asa, dia belajar satu hal yang sangat penting yaitu, ’Jika saya tetap fokus pada Tuhan, saya akan memperoleh pertolongan, kekuatan dan kemenangan untuk melewatinya, sekalipun dunia di sekeliling saya nampaknya akan runtuh’. Doa akan menolong kita fokus pada Tuhan. Malas berdoa membuat kita terfokus pada keadaan kita. Seperti yang Yesus nyatakan, ’Berjaga-jagalah dan berdoalah supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan. Roh memang penurut tetapi daging lemah.’ Kekuatan kita terletak di dalam doa, tetapi banyak kali kita mengabaikan doa. Kita memiliki banyak waktu untuk mendengar khotbah-khotbah, seminar-seminar, bahkan kesaksian-kesaksian tentang pentingnya doa. Namun kita tidak memiliki waktu untuk dapat berdoa. Bila kita menabung waktu dalam doa, maka kita sedang menanamkan kuasa yang besar dalam hidup ini. Sesungguhnya yang menjadi persoalan bagi orang percaya bukanlah karena kekurangan pengetahuan tentang doa, tetapi karena sikap malas berdoa. Bagaimana kita dapat membuang sikap malas berdoa? Dengan mengaku di hadapan Tuhan akan kemalasan kita dan meminta kepada Tuhan agar memberikan hati dan jiwa yang haus kepada Tuhan. Kesibukan dalam kehidupan telah membuat kita mengabaikan doa. Kita kehilangan poin penting dari kehidupan kekristenan, dan menempatkannya pada urutan ke sekian. Sadarilah bahwa doa menjadi basis utama dan segala berkat-berkat Tuhan yang telah disediakan-Nya.
Dengan perasaan antara yakin dan ragu, Mbah Wanidy memberanikan diri mengayunkan kakinya selangkah demi selangkah menghampiri orang yang tampak seperti Benay itu. Namun ketika jarak makin dekat, Mbah Wanidy memperlambat langkahnya. Kini keraguan lebih menguasainya. Tampak dipenglihatannya bahwa Benay lebih tua dari usia semestinya. Mbah Wanidy bertanya-tanya dalam benaknya mengapa begitu cepat Benay menjadi tua? Apakah ini karena pengaruh tekanan berat selama melayani di Iraq? Atau karena terpapar radiasi bom biologi? Tak bersedia ditaklukkan oleh keraguannya, Mbah Wanidy memantapkan langkahnya untuk menjumpai Benay-tua itu. Kini ia bertemu muka dengan muka. Tapi sesuatu yang tak diduganya terjadi. Tubuh renta Mbah Wanidy tiba-tiba bergetar hebat. Keringat dingin keluar membasahi wajahnya. Mulutnya terkatup tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Sorot mata dari Benay-tua menusuk tajam tanpa berkedip. Mbah Wanidy sangat ketakutan. Ia merasa bahwa orang bertubuh gempal yang ada di hadapannya adalah seorang preman pelabuhan, bukan Benay yang ia sangka. Jemaat yang terkasih, perasaan antara yakin dan ragu seperti yang dialami oleh Mbah Wanidy pernah dialami pula oleh Yohanes Pembaptis. Dari dalam kondisi menderita karena sedang dipenjara, Yohanes Pembaptis digelayuti keraguan apakah Yesus itu sungguh Kristus [Mesias]. Tidak mau ditaklukkan oleh keraguannya, ia menyuruh murid-muridnya untuk menjumpai dan bertanya secara langsung pada Yesus. Yesus tidak memberikan jawaban secara langsung, “ya” atau “tidak”. Dia memilih untuk menyampaikan bukti mujizat-mujizat yang telah dilakukan-Nya dan kabar baik yang diberitakan-Nya bagi orang miskin. Dengan demikian, Yesus memberi ruang pergumulan dalam diri Yohanes Pembaptis dan murid-muridnya untuk memutuskan sendiri apakah Dia adalah mesias atau tidak bagi mereka. Jemaat yang dikasihi Tuhan, berbagai penderitaan hidup yang kita alami dapat “melotot tajam” menantang iman kita. Bukankah beberapa orang di antara kita sering bertanya mengapa mengalami musibah atau masalah yang berat? Padahal sudah setia beribadah? Sudah aktif melayani Tuhan? Dalam kondisi seperti itu kita menjadi gemetar dan keraguan iman kita alami. Ini adalah hal yang wajar dalam hidup setiap orang percaya. Justru di sinilah iman kita sedang diasah dan dipertajam oleh penderitaan hidup kita. Oleh sebab itu Tuhan menghendaki kita untuk tidak kecewa dan menolak Dia. Namun sebaliknya, semakin mengarahkan diri untuk belajar berserah, bersyukur dan mengarahkan hidup pada kehendak-Nya. Berani menyangkal diri dan memikul salib. Selamat untuk tidak kecewa pada Tuhan!
Damai dalam badai ???? Mana mungkin....! Yang ada takut, bingung, kalang kabut saat badai datang.... Tahun 2017 dengan segala kenangan manis & pahit telah kita tinggalkan. Termasuk di dalamnya badai kehidupan yang terkadang menerpa kita bahkan mungkin membuat kita trauma dan gentar menapaki hidup di tahun yang baru ini. Dari kehidupan Raja Daud yang sering menghadapi berbagai tantangan bak badai yang tiada henti, ada beberapa nasehat sang pemazmur agar kitapun dapat juga menghadapi badai kehidupan yang sewaktu-waktu Tuhan ijinkan terjadi dalam kehidupan ini. 1. Jangan marah karena orang yang berbuat jahat, jangan iri kepada orang yang berbuat curang sebab mereka segera lisut seperti rumput dan layu seperti tumbuh-tumbuhan hijau. [ayat 1,2] 2. Percayalah kepada Tuhan, lakukanlah yang baik; bergembiralah karena Tuhan serta serahkan hidup kepada Tuhan maka Tuhan akan memunculkan kebenaran kita seperti terang dan hak kita seperti siang. [ayat 3-6] 3. Tidak usah takut karena Tuhan menetapkan setiap langkah hidup kita yang berkenan kepada-Nya dan apabila Tuhan ijinkan kita jatuh tidak akan sampai tergeletak sebab Tuhan menopang tangan kita dan anak cucu kita tidak akan terlantar hidupnya. [ayat 23-25] 4. Nantikanlah Tuhan dan tetap ikuti jalan-Nya [ayat 34] 5. Hiduplah dengan tulus hati , jujur dan suka damai maka pasti ada masa depan dalam hidup kita.[ ayat 37] Dengan berbekal nasehat-nasehat pemazmur ini, mari kita mantap memasuki tahun 2018 !! Jika badai datang hadapi dengan damai yang dari Tuhan.
Kristus datang memberi hidup dan pengharapan Yohanes 10:10b Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan. Kolose 1:27 Kepada mereka Allah mau memberitahukan, betapa kaya dan mulianya rahasia itu di antara bangsa-bangsa lain, yaitu: Kristus ada di tengah-tengah kamu, Kristus yang adalah pengharapan akan kemuliaan! Bila ada seseorang yang baru datang ke tengah sebuah lingkungan tertentu [misalkan sebuah kampung], maka orang-orang di lingkungan itu akan bertanya-tanya: ’Siapakah orang itu? Seperti apakah pribadi dan latar belakangnya? Apakah kehadirannya akan membawa akibat yang baik atau buruk bagi orang-orang di lingkungan ini?’ Dua ribu tahun yang lalu telah datang ke dunia ini Yesus yang lahir di kota Betlehem. Para nabi sudah menubuatkan kedatangan-Nya. Dia adalah Sang Firman yang menjelma menjadi manusia. Dia datang ke dunia dengan tujuan untuk memberikan hidup dan pengharapan kepada manusia. Kristus telah datang ke dunia untuk memberikan hidup. Hidup yang dimaksud adalah zoe [dalam bahasa Yunani], yaitu hidup yang berkualitas. Hidup bukan asal hidup. Bukan hidup hanya untuk menikmati kesenangan saja. Tapi hidup yang penuh arti. Hidup yang berdampak bagi orang lain. Hidup yang berkenan di hati Tuhan. Hidup yang berpengharapan adalah hidup yang tidak hanya sebatas hidup di dunia ini saja. Tapi hidup yang melampaui batas. Sebab Kristus adalah pengharapan akan kemuliaan. Kristus sendiri saat ini ada di dalam kemuliaan di Sorga. Kristus sanggup membawa umat-Nya kepada kemuliaan yang saat ini dimiliki-Nya. Untuk semua itulah Kristus datang ke dunia ini. Dia lahir ke dunia ini dengan tujuan yang jelas. Dia datang agar manusia yang percaya kepada-Nya akan memiliki hidup dan memiliki pengharapan akan kemuliaan. Hidup di tengah dunia ini kita harus memiliki pegangan yang pasti. Jika kita memiliki iman kepada Kristus, maka kita memiliki jaminan hidup yang pasti. Pada hari Natal ini marilah kita semakin kuat di dalam iman dan pengharapan kita kepada Kristus. Pdt. Goenawan Susanto
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Sang Firman
29 Desember '17
Motivasi Yang Benar
15 Januari '18
Demonstrasi Kasih Allah
08 Januari '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang