SEPEKAN TERAKHIR
  Senin, 23 April 2018   -HARI INI-
  Minggu, 22 April 2018
  Sabtu, 21 April 2018
  Jumat, 20 April 2018
  Kamis, 19 April 2018
  Rabu, 18 April 2018
  Selasa, 17 April 2018
POKOK RENUNGAN
Jangan merasa rendah diri [inferior] karena Tuhan pasti telah menanamkan potensi yang besar dalam diri setiap kita untuk ditemukan dan dikembangkan untuk menggenapi rancangan-Nya dalam hidup kita.
DITULIS OLEH
Pdt. Andreas Budianto
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Potensi Diri
Potensi Diri
Senin, 12 Maret 2018
Potensi Diri
Hakim-Hakim 6:14-15

Potensi diri merupakan kemampuan, kekuatan atau kelebihan yang dimiliki seseorang baik yang sudah terwujud maupun yang belum terwujud, tetapi belum sepenuhnya terlihat atau dipergunakan secara maksimal oleh pribadi tersebut.

Yang seringkali menjadi penghambat seseorang menemukan dan mengembangkan potensi dirinya adalah rasa inferior [rendah diri]. Hal ini dialami oleh Gideon. Perasaan rendah diri begitu kuat menguasai Gideon. Hal itu terlihat dari pernyataannya [ayat 15],“Ah Tuhanku, dengan apakah akan kuselamatkan orang Israel? Ketahuilah, kaumku adalah yang paling kecil di antara suku Manasye dan aku pun seorang yang paling muda di antara kaum keluargaku.” Rasa inferior tersebut juga semakin lengkap dengan keraguannya terhadap penyertaan Tuhan dengan beberapa kali meminta tanda. Padahal di ayat-ayat sebelumnya, Allah melalui malaikat menyatakan bahwa Gideon adalah seorang pahlawan yang gagah berani [ayat 12] dan juga bahwa Allah menegaskan bahwa Ia menyertainya [ayat 16].

Ketakutan yang menguasai orang Israel dan juga Gideon kepada orang Midian telah melunturkan kepercayaan diri umat Israel sebagai umat yan...selengkapnya »
Sebuah ilustrasi menceritakan kisah tentang kehidupan binatang di sebuah hutan. Kisah tersebut bermula ketika hutan tempat tinggal semua binatang itu di landa angin badai yang besar. Maka terjadilah kerusakan hutan yang parah. Banyak pohon-pohon tumbang yang membuat semua binatang ketakutan. Setelah badai itu reda, ada seekor semut yang berjalan dengan sombongnya karena, ia tidak mengalami kesakitan sedikitpun akibat badai tersebut karena badannya yang mungil. Ketika ia keluar dari sarang yang berada di dalam tanah, ia melihat kepompong yang hanya tergeletak di bawah dahan yang patah. Ia bergumam, bahwa sungguh tidak enak menjadi kepompong yang tidak bisa apa-apa. Ia terkurung dan tidak bisa kemana-mana, sungguh sangat memalukan. Si semut mulai membanggakan dirinya yang selamat dan bisa kemana-mana yang ia mau. Bukan hanya kepompong yang ia hina, tetapi semua binatang yang ia temui. Suatu ketika si semut berjalan di atas jalanan yang berlumpur. Tanpa ia sadari lumpur itu menghisap dirinya semakin ke dalam dan membuatnya semakin tenggelam. Ia mulai berteiak-teriak minta tolong. Lalu datanglah kupu-kupu, ia berkata kepada si semut, “dulu aku adalah kepompong yang kau hina jelek, sekarang aku sudah berubah menjadi kupu-kupu yang indah dan bisa terbang kemanapun yang kumau, sini aku bantu keluar dari lumpur itu”. Injil Matius 5:43-48 membahas tentang bagaimana seharusnya menunjukkan kasih kepada orang lain. Allah datang bertujuan untuk menggenapi hukum Taurat bukan untuk meniadakannya. Oleh sebab itu, Allah mau menunjukkan perintah untuk saling mengasihi tanpa memandang status. Memang di jaman Perjanjian Lama, difirmankan bahwa, kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu[ayat 43]. Tetapi Allah yang datang dalam nama Yesus menegaskan bahwa kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang telah menganiaya [ayat 44]. Artinya adalah kasih yang Tuhan berikan adalah untuk semua umat manusia. Tuhan juga merindukan agar orang yang telah percaya terlebih dahulu menunjukkan kasih kepada orang-orang yang belum percaya kepada Tuhan sekalipun mereka membenci orang percaya. Karena dengan demikian, orang-orang yang percaya akan menjadi anak-anak Bapa yang di sorga. Tuhan Yesus mengajarkan untuk berbuat kasih kepada semua orang sekalipun itu musuh yang membenci kita. Seringkali kita menjadi sama seperti semut yang sombong karena kita merasa diri kita sudah selamat dan tidak menghiraukan kehidupan orang lain yang “menderita”. Tetapi kita sangat sulit memposisikan seperti kupu-kupu, yang bersedia menolong walaupun pernah dihina, pernah disakiti. Namun Tuhan Yesus memberikan penegasan bahwa jadilah seperti kupu-kupu yang rela menolong dan mengasihi tanpa memandang status.
Hari ini, tanggal 21 April, bangsa Indonesia, khususnya kaum perempuan memperingati hari kelahiran RA Kartini, seorang pahlawan emansipasi wanita. Kalau kita mengingat tentang RA Kartini, kita pasti akan teringat dengan sebuah buku yang berjudul “Habis Gelap Terbitlah Terang” Sebenarnya buku tersebut bukanlah buku karangan Kartini. Itu adalah kumpulan surat kartini kepada teman2nya di Eropa yg dikumpulkan dan diterbitkan J.H Abendanon dengan judul awal “ Dari Kegelapan Menuju Cahaya”.Pada tahun 1922, Balai Pustaka menerbitkannya dalam bahasa Melayu dengan judul yang diterjemahkan menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang [sumber dari Wikipedia] Isi dari buku Habis gelap terbitlah terang adalah cita-cita, harapan-harapan dan pengalaman kehidupan RA Kartini, dimana cita-cita dan harapannya adalah mengangkat derajat kaum perempuan dari kebodohan menjadi perempuan yang lebih berharga, bermanfaat bagi keluarga dan masyarakat. Dan apa yang telah dilakukan oleh RA Kartini, membawa manfaat yang besar bagi kaum perempuan di Indonesia, yaitu kesetaraan, emansipasi, atau kesamaan derajat dengan kaum pria. Sehingga mulai saat itu kaum perempuan bisa mengekpresikan diri lebih optimal dan membawa manfaat yang lebih besar bagi keluarga dan masyarakat. Seperti buku Habis gelap terbitlah terang, bagi kita umat Kristiani tersaji juga sebuah kitab, kumpulan dari surat-surat pada Rasul dan kisah perjalanan hidup Yesus, yang berjudul “Injil Perjanjian lama dan Perjanjian baru”. Didalam Injil, tidak hanya berisi cita-cita ataupun harapan-harapan dari Yesus, sang tokoh sentral, tapi juga janji-janji yang mengandung kekuatan kepada yang percaya. Bahkan rasul Paulus dalam suratnya kepada orang2 di Roma mengatakan “ Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya….” Kalau buah pikiran dari RA Kartini saja bisa merubah nasib kaum perempuan, terlebih Firman dari Tuhan Yesus, bukan hanya merubah nasib manusia di dunia, tapi nasib manusia setelah selesai menjalani kehidupan di dunia kelak. Firman yang ada dalam Injil mampu menyelamatkan manusia, dari kehidupan yang penuh dosa kepada kehidupan yang penuh dengan anugerah, dengan catatan bagi mereka yang percaya. Jangan sia-siakan Injil yang sudah menjadi milik kita, selagi masih ada waktu, kita gunakan untuk membaca, merenungkan, menelitinya. Dan semakin kita mengerti dan mengimani janji-janji-Nya, semakin kita akan melihat terang dalam setiap jalan-jalan kita. Amin
Yeremia adalah salah satu nabi yang dipakai oleh Tuhan seperti halnya Musa. Ketika Tuhan memanggil Yeremia dan memberitahukan kepadanya bahwa ia telah ditetapkan menjadi nabi bagi bangsa-bangsa. Yeremia menanggapi panggilan Tuhan dengan “Tahu diri” bahwa dirinya tidak pandai bicara, apalagi dirinya yang masih muda, belum ada pengalaman. Namun demikian bukan berarti Yeremia menolak panggilan tersebut. Ada 2 hal yang terkandung dalam tanggapan Yeremia atas panggilanNya. Pertama : Ketidakmampuannya. Yeremia menjelaskan ketidakmampuannya dalam hal berbicara karena ia sadar betul dimana seorang nabi harus tegar dalam menyampaikan perkataan Firman yang dari Tuhan kepada umatNya. Sementara ia “Tahu diri” masih muda belum berpengalaman lalu harus berbicara di hadapan sebuah bangsa, baik yang anak-anak, remaja, pemuda, dewasa dan para tua-tua yang sudah berpengalaman diantara umat-umat tersebut [ayat 6] itulah yang dibayangkan oleh Yeremia. Mampukah aku menyuarakan kehendak Tuhan? mampukah aku berbicara dengan tegas? Kedua : Penyerahan diri. Orang yang menolak sebuah tugas karena alasan tidak mampu sangat berbeda dengan orang yang menolak tugas karena memang tidak bersedia melakukan tugas tersebut. Di dalam tanggapan atas panggilannya Yeremia menjelaskan keadaan yang sesungguhnya bahwa ia memiliki kelemahan. Pengakuan Yeremia itu bukan sekedar untuk memberitahu Tuhan namun itu adalah suatu bentuk penyerahan diri. Dan Tuhan tahu hal itu. Tuhan tidak butuh hal lain dari Yeremia. Ia butuh kesediaan dan ketaatan Yeremia untuk melakukan apa yang Ia perintahkan. Kekurangan dalam diri Yeremia bukan menjadi penghalang untuk Tuhan memakainya. Hanya dengan mengulurkan tanganNya ke mulut Yeremia, kesulitan itu teratasi. Semua orang pasti memiliki kekurangan dalam dirinya termasuk kita orang percaya yang seringkali menjadi penghalang bagi diri kita untuk melakukan sesuatu untuk Tuhan tetapi apapun kekurangan itu akuilah semua di hadapan Tuhan. Tuhan tahu bagaimana memperlengkapi kita guna dipakai untuk tujuanNya bahkan dengan karunia-karunia yang tidak pernah kita duga untuk diberikan kepada kita untuk memberikan yang terbaik buat keselamatan jiwa-jiwa melalui Roh KudusNya yang ditaruh di dalam hidup kita. Nyatakan kekurangan dan kelemahan diri kepada Tuhan dan penyerahan diri kita kepadaNya maka Tuhan akan memampukan kita seperti halnya Tuhan sudah memampukan Yeremia.
Persembahan yang terbaik Markus 12:41-44 Maka dipanggil-Nya murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: ’Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya.’ [ayat 43-44] Di mata manusia persembahan janda miskin itu tidak terlalu bernilai karena jumlah nominal yang kecil. Tetapi di hadapan Tuhan persembahannya bernilai tinggi. Yesus memberikan penghargaan kepada janda tersebut. Bagi Yesus persembahan janda itu lebih besar daripada persembahan orang-orang lain yang lebih banyak jumlah nominalnya. Apakah yang hendak diajarkan Yesus melalui peristiwa ini? Pertama, Tuhan menghargai pengorbanan yang dilakukan dengan kerelaan. Janda itu berkorban dengan segala yang dia punya. Hanya dua peser saja yang dia punya untuk menyambung kehidupannya pada hari itu. Setelah uang itu dipersembahkan dia tidak punya sesuatu lagi, bahkan untuk makannya pada hari itu. Tapi janda itu memberikan dengan kerelaan hatinya. Dia tidak mempunyai motif apapun di dalam memberi, kecuali hanya memberi yang terbaik kepada Allah yang layak menerima segalanya dari hidupnya. Kedua, Tuhan melihat iman dari janda itu. Setelah janda itu memberikan segala yang dia punya, bagaimana dia menyambung kehidupannya? Segala nafkahnya sudah dia persembahkan, lalu bagaimana dengan kehidupannya sendiri? Di sini kita melihat ada iman yang luar biasa dari janda yang miskin itu. Janda itu percaya bahwa Allah yang adalah Bapanya akan memelihara hidupnya. Dia menyerahkan hidupnya sepenuhnya kepada Allah yang dia yakini sebagai Gembalanya yang baik. Karena kepercayaannya itulah dia berani mempersembahkan apa yang dia butuhkan untuk kehidupannya sendiri. Ketiga, Tuhan melihat penyerahan hidup dari janda tersebut. Meskipun dia miskin tapi dia tidak terbelenggu oleh kekuatiran akan apa yang akan dia makan. Dia tidak kuatir tentang apa yang akan dia makan hari itu dan besoknya. Dia hanya percaya bahwa kehidupannya setiap hari ada di tangan Tuhan. Melalui cara memberi persembahan akan terlihat apa yang ada di dalam hati kita, apakah kita orang yang percaya penuh kepada Tuhan? Apakah kita orang yang mencintai Tuhan dengan sepenuh hati kita? Kiranya Tuhan menolong kita, sehingga kita bertumbuh dalam iman dan kasih kita kepada Tuhan. Amin. Pdt. Goenawan Susanto
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Si Penolong Yang Dijanjikan
20 April '18
Tetap Semangat
03 April '18
Habis Gelap Terbitlah Terang
21 April '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang