SEPEKAN TERAKHIR
  Senin, 18 Juni 2018   -HARI INI-
  Minggu, 17 Juni 2018
  Sabtu, 16 Juni 2018
  Jumat, 15 Juni 2018
  Kamis, 14 Juni 2018
  Rabu, 13 Juni 2018
  Selasa, 12 Juni 2018
POKOK RENUNGAN
Jika malas berdoa, sesungguhnya kita sedang kehilangan berkat istimewa yang telah disediakan Tuhan.
DITULIS OLEH
Pdt. Andreas P. Chandra
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Rumah Doa
Rumah Doa
Sabtu, 23 Desember 2017
Rumah Doa
Ratapan 3:55-57
Berlutut di hadapan Tuhan tidaklah hanya berbicara tentang sikap doa, tetapi juga sikap hati di mana kita mencari Tuhan. Doa adalah hal yang dapat dilakukan oleh siapapun juga, dan mengandung kuasa yang besar. Charles Stanley dalam bukunya ’Landmines in The Path of the Believer’ [Ranjau yang tersembunyi di balik jalan orang percaya] menyatakan, ’Kita berdiri makin tinggi dan kuat di atas lutut kita.’ Buku tersebut menceritakan tentang keadaan di mana dia mengalami saat-saat yang begitu gelap dan putus asa, dia terbangun di tengah malam dan duduk di sisi tempat tidurnya dan berdoa. Ia menyerukan seluruh persoalannya kepada Tuhan, dan kemudian meminta Tuhan menolong dia untuk dapat tidur kembali. Pada saat ia terombang-ambing dan putus asa, dia belajar satu hal yang sangat penting yaitu, ’Jika saya tetap fokus pada Tuhan, saya akan memperoleh pertolongan, kekuatan dan kemenangan untuk melewatinya, sekalipun dunia di sekeliling saya nampaknya akan runtuh’.

Doa akan menolong kita fokus pada Tuhan. Malas berdoa membuat kita terfokus pada keadaan kita. Seperti yang Yesus nyatakan, ’Berjaga-jagalah dan berdoalah supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan. Roh memang penurut tetapi daging lemah.’ Kekuatan kita terletak di dalam doa, tetapi banyak kali kita ...selengkapnya »
Minggu lalu baru saja kita merayakan perayaan Hari Pentakosta. Kita kembali diingatkan/disadarkan betapa pentingnya Roh Kudus. Orang percaya perlu Roh Kudus dalam hidupnya. Roh Kudus memberi kekuatan dan kuasa untuk berani bersaksi tentang Kristus. Roh Kudus memberi kuasa untuk hidup berkemenangan. Dan Roh Kudus juga memberi kuasa-kuasa yang lainnya kepada orang percaya. Semuanya itu sangat benar. Sayangnya, ada orang yang beranggapan bahwa Roh Kudus sebatas kuasa saja, mereka mengejar kekuatan/kuasa, tetapi mereka lupa bahwa Roh Kudus adalah satu pribadi yang punya pikiran, perasaan dan kehendak. Mereka tidak merasa perlu bersekutu denga pribadi Roh Kudus itu sendiri. Roh Kudus hadir sebagai Penolong yang menyertai orang percaya. Roh Kudus diutus sebagai penghibur dan mengajarkan segala sesuatu kepada orang percaya. Sekali lagi, Roh Kudus bukan sekedar kekuatan, bukan pula sekedar kuasa ataupun energi. Tetapi Roh Kudus adalah satu pribadi. Seperti Yesus Kristus menyertai murid-murid-Nya selama kurang lebih tiga setengah tahun di bumi demikian pula Roh Kudus menyertai orang percaya selama-lamanya. Sebagai satu pribadi, kita bisa bersekutu dan berkomunikasi dengan Roh Kudus. Kita bisa berbicara kepada-Nya dan kita bisa mendengar suara-Nya. Dia memimpin kerinduan kita untuk baca Firman Tuhan. Dia memberikan pencerahan sehingga Firman Tuhan itu menjadi hidup dalam hidup kita. Ketika kita melangkah keluar dari Firman, Dia menegur kita dan mendorong kita untuk mentaati Firman-Nya. Ketika kita taat, Roh Kudus disukakan. Nabi Yesaya pernah menyampaikan teguran kepada umat Tuhan, tetapi mereka sering memberontak dan mendukakan Roh Kudus. Tuhan yang tadinya memelihara dan melindungi mereka, kini berubah menjadi musuh mereka. Bahkan Tuhan sendiri berperang melawan mereka. Sejarah mencatat, mereka dibuang ke Babilonia selama 70 tahun. Berbahagialah kita yang menerima Roh Kudus sebagai satu pribadi yang menuntun kita kepada jalan kebenaran. Mari kita sukakan Roh Kudus dalam ketaatan kita kepada Allah.
Cerita dari teman kalimantan mengisahkan tentang jemaat yang digembalakan mengalami kelimpahan karena panen karet dan sawitnya melimpah. Sebagai petani yang sukses, jemaat ini ingin sekali memiliki barang-barang yang bagus. Kemudian ia pergi ke kota untuk jalan-jalan dan berbelanja kebutuhan sehari-hari. Dalam perjalannya di kota, ia melihat iklan air mineral yang sejuk dari televisi. Ia mulai tertarik untuk bisa merasakan kesejukan yang dilihat di iklan itu. Akhirnya ia membeli lemari Es, televisi, DVD dan alat elektronik yang lainnya karena sedang banyaknya uang. Sesampai dirumah, ia ketemu dengan bapak pendetanya, kemudia terjadi percakapan Pendeta : “banyak sekali barang belanjaannya pak!” Jemaat : “iya pak, saya beli Lemari Es, TV, DVD, kipas angin, setrika dll [ dengan sombongnya ] Pendeta : “wah hebat ya, lalu nanti cara pakainya gimana ? la daerah kita kan belum ada listrik terus nyalahkanya bagaimana ?” Jemaat : “oh iya ya [ sambil pegangan kepala ] [ untuk menghindari malu ] ia mengatakan ndak papa pak pendeta, nanti lemari Es bisa dibuat lemari baju, dan yang penting punya.” Pendeta : heem Kisah ini bagi kita akan punya penafsiran sendiri, namun ketika saya perhatikan dari cerita tersebut saya melihat bagian yang prinsip dari jemaat ini yaitu tidak paham, dan hanya mau mengikuti kesenangan karena harta kepemilikan. Keadaan kurang paham sering kali terjadi dalam hidup kebanyakan orang ketika menerima pesan, entah tidak memperhatikan, cuek, menganggap sudah tahu dll. Dan hal inilah yang menyebabkan terbengkalainnya suatu misi atau tujuan karena kurang paham. Dalam perjalanan bersama Yesus sering kali para murid belum mengerti maksud dari Yesus ketika Tuhan Yesus memberikan suatu pesan. Dalam injil Yohanes 4 ditunjukkan bagaimana murid-murid Tuhan Yesus tidak mengerti jika Yesus sedang berbicara masa penuaian. Namun yang dipikirkan adalah makanan bukan pengajaran tentang bagaimana saat penuaian yang harus dikerjakan. Persolannya karena mereka terlalu asik dengan kondisi mereka. Bersama Yesus yang serba ada dan selama mereka bersama dengan Yesus mereka hanya melakukan kegiatan rutin tanpa memahami maksud Gurunya. Kita sering melakukan yang justru tidak berfaedah dan jauh dari maksud dan rencana Tuhan. Kecenderungan kita hanya berputar-putar dengan kegiatan yang sama dan menghabiskan energi. Oleh karenanya kita perlu memahami secara benar maksud Tuhan yang ditaruh dalam diri kita jemaat agar sesuai dengan maksud Tuhan yaitu fokus pada jiwa2 bukan asesoris yang tidak ada hubungan dengan maksud Tuhan dibumi.
Tugas generasi kita Mazmur 78:6-7 supaya dikenal oleh angkatan yang kemudian, supaya anak-anak, yang akan lahir kelak, bangun dan menceritakannya kepada anak-anak mereka, supaya mereka menaruh kepercayaan kepada Allah dan tidak melupakan perbuatan-perbuatan Allah, tetapi memegang perintah-perintah-Nya; Saya pernah menemukan sebuah posting di medsos yang mengatakan bahwa kita yang lahir di tahun 1960-70-80an, adalah generasi yang paling beruntung. Karena kitalah generasi yg mengalami loncatan teknologi yang begitu mengejutkan di abad ini, dengan kondisi usia prima. Kitalah generasi dengan masa kecil bertubuh lebih sehat dari anak masa kini, karena lompat tali, loncat tinggi, petak umpet, gobak sodor, main kelereng, karetan adalah permainan yang tiap hari akrab dengan kita. Sekaligus saat ini mata dan jari kita tetap lincah memainkan berbagai game di gadget. Kitalah generasi terakhir yang pernah menikmati lancarnya jalan raya tanpa macet dimana-mana walaupun jalan belum diaspal. Juga bersepeda onthel / motor menikmati segarnya angin jalan raya tanpa helm di kepala. Kitalah generasi terakhir yang pernah menikmati jalan kaki berkilo meter tanpa perlu berpikir ada penculik yg membayangi kita. Kitalah generasi terakhir yang pernah begitu mengharapkan datangnya Pak Pos menyampaikan surat dari sahabat dan kekasih, namun dilain sisi kita juga bisa menikmati email bahkan membuat blog pribadi kita. Sebenarnya ada yang lebih lagi. Kita yang lahir di tahun-tahun 50-80an adalah generasi yang sangat beruntung secara rohani, karena kita mengalami masa-masa kebangunan rohani. Kita sempat menikmati KKR-KKR yang memberikan semangat rohani. Ada banyak bermunculan persekutuan-persekutuan doa yang membawa semangat pembaharuan bagi gereja-gereja yang saat itu mengalami kesuaman. Sebagian dari kita yang pernah menjadi pelajar atau mahasiswa pasti pernah diajak untuk bergabung dalam persekutuan doa di sekolah-sekolah atau kampus-kampus. Kita juga sempat menikmati kegerakan pujian dan penyembahan, dengan munculnya lagu-lagu pujian baru yang membawa semangat baru pula. Ada banyak orang yang mengalami pertobatan dan pembaharuan iman melalui kegerakan-kegerakan rohani itu. Dan hasilnya adalah orang-orang Kristen generasi sekarang ini. Pernahkah kita bertanya: Lalu apa? Apakah maksud Tuhan untuk generasi kita ini? Tuhan punya maksud untuk generasi kita, yaitu agar kita menjadi generasi yang mengenal Dia dengan benar. Agar kita mengenal Dia sebagai Allah yang dahsyat dan penuh kasih karunia. Namun bukan hanya sampai di situ saja. Kita punya tugas generasi, yaitu untuk menyampaikan pengenalan akan Allah itu kepada generasi selanjutnya. Agar generasi di bawah kita nantinya juga percaya kepada Allah dan mentaati perintah-perintah-Nya. Pdt. Goenawan Susanto
Seorang organis gereja sedang berlatih memainkan lagu ciptaan Felix Mendelssohn, tetapi ia masih saja belum dapat memainkannya dengan baik. Karena kesal, ia lalu membereskan perlengkapan musiknya dan hendak pergi. Ia tidak memperhatikan kalau ada seseorang yang masuk dan duduk di bangku depan gereja. Saat organis tersebut beranjak pergi, orang itu maju ke depan dan bertanya apakah ia boleh memainkan lagu itu. ’Saya tak pernah mengizinkan siapa pun menyentuh organ ini!’ tukas sang organis. Setelah dua kali memohon dengan sopan, akhirnya sang organis yang galak itu dengan berat hati mengizinkannya. Orang itu akhirnya duduk dan memainkan musik yang indah sehingga alunan musiknya memenuhi gereja. Setelah selesai, sang organis bertanya, ’Siapakah Anda?’ Lelaki itu menjawab, ’Saya Felix Mendelssohn.’ Tadinya sang organis hampir saja melarang si pencipta lagu memainkan musik ciptaannya sendiri! Sering kali kita terlalu ingin memainkan “nada-nada kehidupan kita sendiri dan melarang Sang Pencipta memainkan musik yang indah”. Seperti halnya organis yang keras kepala itu, dengan berat hati kita melepaskan tangan kita dari tuts-tuts organ. Seperti pengalaman hidup yang dialami oleh pemazmur bahwa seluruh perjalanan hidupnya senantiasa dipimpin oleh Tuhan. Demikian juga pemazmur menyadari bahwa kalau dirinya kuat dan mampu menghadapi persoalan hidupnya itu karena semata-mata pertolongan Tuhan. Tidak cukup sampai di situ bahwa keberhasilan Daud menjadi penguasa atas Yehuda dan seluruh wilayah Israel itu karena perbuatan tangan TUHAN. Dengan demikian Daud dengan lugas berkata,”Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak; Ia akan memunculkan kebenaranmu seperti terang, dan hakmu seperti siang [ay.5-6].” Saudara-saudara kekasih Tuhan, sudah semestinya bahwa kita harus melakukan segala kehidupan ini. Banyak hal yang dilakukan dengan baik, tetapi dalam kehidupan ini kita sering menghadapi kenyataan yang di luar kemampuan. Kita sudah memeras seluruh kemampuan tetapi berakhir dengan nihil, dan akhirnya kita sampai pada perasaan lelah dan kepayahan. Dalam keadaan seperti ini kita diingatkan kembali akan pentingnya berserah dalam pimpinan Tuhan. Dari persoalan hidup yang ringan sampai yang berat, mari kita serahkan kepada Tuhan. Biarkan tangan Tuhan yang turut memainkan “tuts” kehidupan, karena Dia sang pencipta atas kita, ijinkan Dia memimpin seluruh hidupmu, Tuhan memampukan kita menjalani kehidupan ini dengan baik dan penuh keberhasilan. Berserahlah kepada Tuhan.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Menolong Sesama
16 Juni '18
Bersaksi Bagi Kristus
18 Mei '18
Pola Pikir Yang Benar Seorang Anak Tuhan
22 Mei '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang