SEPEKAN TERAKHIR
  Senin, 18 Juni 2018   -HARI INI-
  Minggu, 17 Juni 2018
  Sabtu, 16 Juni 2018
  Jumat, 15 Juni 2018
  Kamis, 14 Juni 2018
  Rabu, 13 Juni 2018
  Selasa, 12 Juni 2018
POKOK RENUNGAN
Sang Terang yang bercahaya mengalahkan kegelapan
DITULIS OLEH
Sdr. Dwi Winarno
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Sang Firman
Sang Firman
Jumat, 29 Desember 2017
Sang Firman
Yohanes 1:1-18

Dalam sebuah film, drama, atau teater tentunya terdapat peran utama dan pemeran pendukung. Bahkan juga ada yang bekerja di balik layar untuk membantu menyukseskannya. Setiap peran dan bagian tentu bekerja sesuai dengan fungsinya supaya berjalan dengan lancar. Pemeran pendukung harus mendukung cerita supaya tokoh utama semakin nyata dan kelihatan kiprahnya. Demikian dengan yang bekerja di balik layar pasti mempersiapkan segala sesuatu sesuai dengan kebutuhan per bagian. Sehingga setiap peran menjalankan bagiannya supaya berjalan baik. Dan semuanya itu tentu selalu tertuju kepada sang tokoh utama sebagai pemegang peran yang penting.

Dalam Yohanes 1:1-18 adalah Sang Firman yang menjadi manusia. Ia datang sebagai manusia untuk menyelamatkan manusia berdosa. Ia yang adalah Allah merelakan diri-Nya dan mengambil rupa menjadi hamba supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya mendapatkan terang yang ajaib. Sang Firman datang sebagai Terang untuk membawa manusia yang hidup di dalam kegelapan. Ketika Terang itu datang ke dunia, maka Terang itu akan bercahaya dan kegelapan tidak akan menang melawannya. Sang Firman tersebut menjadi tokoh utama di dalam dunia ini. Oleh sebab itu, Yohanes Pembaptis diutus untuk mendahului-Nya sebagai penunjuk jalan dan mempersiapkan akan kedata...selengkapnya »
Keselamatan keluarga kita Kisah Para Rasul 16:31 ’Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu.’ Saya yakin bahwa anda ingin memberikan yang terbaik buat keluarga anda. Anda pasti ingin anak-anak anda mendapatkan pendidikan di sekolah yang terbaik. Anda pasti ingin rumah dimana keluarga anda tinggal adalah rumah yang nyaman. Anda pasti ingin memberikan apa yang dibutuhkan oleh keluarga anda. Itu semua baik, tetapi ada satu hal yang paling penting, yaitu keselamatan keluarga anda. Rencana keselamatan Allah bukan hanya untuk kita secara pribadi, tetapi juga untuk keluarga kita. Dalam banyak kasus orang-orang yang diselamatkan oleh Allah melibatkan seluruh keluarganya. Berikut ini ada beberapa contoh di dalam Alkitab: - Abraham dipanggil bersama dengan seluruh keluarganya untuk menjadi cikal bakal umat pilihan Allah. Setiap anak yang lahir di dalam keluarga Abraham dan keturunannya [Israel] harus disahkan menjadi anggota umat Allah [bagi yang laki-laki sebagai tandanya mereka disunat]. - Rahab, seorang penduduk kota Yerikho yang menyambut pengintai dari Israel, diselamatkan bersama dengan seluruh keluarganya [Yosua 6:23]. - Kornelius, seorang perwira pasukan Italia diselamatkan bersama dengan seisi rumahnya [Kisah Para Rasul 10:1-48]. - Lidia, seorang penjual kain ungu dari kota Tiatira, diselamatkan bersama seisi rumahnya [Kisah Para Rasul 16:15]. - Kepala penjara di Filipi diselamatkan bersama seisi rumahnya [Kisah Para Rasul 16:31-34]. - Krispus, kepala rumah ibadat Yahudi yang ada di kota Korintus, diselamatkan bersama keluarganya [Kisah Para Rasul 8:8] Dahulu pada waktu masih remaja saya menerima Kristus sebagai Juruselamat pribadi, tetapi saya belum mengerti janji Tuhan ini. Tetapi ada seorang hamba Tuhan yang memberi tahu tentang kebenaran Alkitab ini. Lalu saya menjadi yakin akan kebenaran ini, sehingga dengan penuh semangat mendoakan seluruh keluarga saya agar diselamatkan oleh Tuhan. Akhirnya seluruh keluarga saya menjadi percaya dan diselamatkan oleh Tuhan Yesus. Milikilah keyakinan bahwa Allah menghendaki dan merencanakan seluruh keluarga anda diselamatkan oleh Tuhan Yesus. Amin. Pdt. Goenawan Susanto
Dalam hidup ini pikiran seseorang akan menentukan perasaan dan kehendak serta perbuatannya. Contoh: pikiran yang penuh dengan kekuatiran akan diikuti perasaan takut/cemas dan berpengaruh terhadap tindakannya sehari-hari. Pikiran bahwa dirinya orang penting dan harus dihormati orang lain akan membawa perasaan tinggi hati dan berpengaruh terhadap sikap dan perilakunya. Amsal mengingatkan bahwa bahwa apa yang dipikirkan seseorang itu menentukan keberadaannya, “For as he thinks in his heart, so is he”, “you are what you think”. [Amsal 23:7] Demikian juga dalam kehidupan iman, pola pikir yang ada dalam diri anak Tuhan juga akan menentukan keberadaannya di hadapan Tuhan. Rasul Paulus menasihatkan supaya kita menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus [Pilipi 2:5]. Jadi pola pikir anak Tuhan harus seperti pola pikir Tuhan Yesus, yang dilandasi oleh kesediaan mengosongkan diri, merendahkan diri dan taat mutlak kepada Bapa. Yang diutamakan adalah melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya [Yohanes 4:34]. Gaya hidup seperti ini yang rasul Paulus maksudkan dengan pola hidup yang berpadanan dengan Injil [Pilipi 1:27]. Injil adalah module khusus bagi anak Tuhan yang telah diajarkan dan diteladankan oleh Tuhan Yesus. Jelas pola pikir dan gaya hidup deperti ini sangat berbeda sekali dengan yang dimiliki anak-anak dunia, seperti perbedaan antara gandum dan lalang. Untuk memiliki pola pikir seperti tersebut di atas tidak mudah, diperlukan pembaharuan pikiran setiap hari melalui pembelajaran kebenaran Injil yang murni oleh pertolongan Roh Kudus [Roma 12 : 2]. Sebagaimana rasul Petrus menyatakan bahwa pola pikir kita dikuduskan oleh ketaatan kepada kebenaran/Injil [I Petrus 1:22]. Akan dialami realitas bahwa seorang anak Tuhan yang mengenakan pola pikir Kristus akan mengalami “kesulitan untuk akrab” dengan orang-orang yang tidak mengenal/tidak peduli kebenaran, tidak takut dan tidak menghormati Tuhan dalam sikap hidupnya sehari-hari. Meskipun demikian, anak Tuhan dengan pola pikir Kristus tidak berarti hidupnya menjadi tidak wajar atau kehilangan “kemanusiaan”. Kita akan tetap masih menjalani hidup seperti manusia lain, dalam : bekerja, mencari nafkah, berkeluarga, menikmati keindahan alam ciptaan Tuhan, mengembangkan dan menikmati kreasi seni, hobi, olah raga, rekreasi dll. Secara umum bisa dikatakan “tampak luar tetap sama, namun dalamnya [mind set] berbeda”. Anak Tuhan yang mengenakan pola pikir Kristus akan mengalami tidak merasa nyaman hidup di bumi [yang makin fasik, penuh ketragisan], makin menghayati bahwa dunia ini bukan rumahnya, makin kuat merasakan keberadaannya sebagai musafir, sehingga fokus hidupnya makin kuat ke Langit Baru dan Bumi Baru.
Allah senantiasa selalu mencari orang-orang yang dipakai untuk menjadi agen-Nya di dunia. Hal tersebut dapat kita lihat dari beberapa tokoh dalam Alkitab, yang dipakai Allah menjadi agen-Nya. Di antaranya adalah; Abraham, yang menjadi berkat bagi segala bangsa oleh karena ketaatannya akan panggilan Allah. Musa membawa Israel keluar dari Mesir. Yosua membawa bangsa Israel masuk ke tanah Perjanjian. Melalui kisah tokoh-tokoh tersebut, Allah mau supaya kita peka akan suara-Nya, dan kemudian meresponi panggilan-Nya untuk menjadikan kita sebagai agen-Nya, dengan hati yang taat dan setia, serta takut akan Allah. Sebagai agen-agen Allah, apa saja peran kita di dalam dunia ini: Pertama, sebagai Agen Kebenaran. Kita harus meminta kepada Tuhan agar selalu hidup di dalam kebenaran firman-Nya [Maz.119:25]. Ketika kita hidup dalam kebenaran, maka kebenaran dalam diri kita akan termanifestasikan kepada orang di sekeliling kita, sehingga nama Tuhan Yesus dipermuliakan. Kedua, sebagai Agen Kasih Allah. Setiap kita anak-anak Tuhan perlu memancarkan kasih Allah [1 Yoh. 2-4]. Kasih itu bukan sekedar kita rasakan tapi kasih itu kita lakukan, karena kasih adalah sebuah tindakan.Ketika orang percaya membawa kasih Allah, maka tindakan tersebut akan memancarkan kasih dan kemuliaan Allah, sehingga berdampak kepada orang disekitar. Ketiga, sebagai Agen perubahan. Perubahan harus dimulai dari diri kita sendiri, melalui cara berpikir [Rom. 12:1-2]. Kita hanya bisa mengalami perubahan, jika hati dan pikiran diisi oleh Firman Tuhan. Firman Tuhan mampu mentransformasi kehidupan, sehingga mampu mengontrol hati dan pikiran kita. Dengan perubahan yang dialami, kita dapat menjadi agen perubahan untuk lingkungan sekitar. Keempat, sebagai Agen keselamatan. Orang percaya mempunyai tugas untuk memberitakan atau menyampaikan keselamatan kepada dunia yang belum percaya dan belum mengenal Tuhan Yesus, dalam situasi apapun [Rom. 10:14-15; 2 Timotius 4:2]. Apapun tugas yang Tuhan mau untuk dilakukan; tugas kita adalah melakukannya. Oleh karena itu kita perlu memiliki kepekaan untuk mendengar suara Tuhan [Yesaya 6:8]. Dengan demikian, orang percaya sebagai agen Allah, perlu menjadi saksi bagi dunia, yakni membawa kebenaran, kasih, membawa perubahan dan membawa kabar keselamatan yang berasal dari Tuhan. Untuk itulah kita semua dipanggil, agar dunia tahu, bahwa hanya Yesuslah satu-satunya kebenaran, yang membawa kepada keselamatan dan hidup yang kekal. Amin!
Cerita dari teman kalimantan mengisahkan tentang jemaat yang digembalakan mengalami kelimpahan karena panen karet dan sawitnya melimpah. Sebagai petani yang sukses, jemaat ini ingin sekali memiliki barang-barang yang bagus. Kemudian ia pergi ke kota untuk jalan-jalan dan berbelanja kebutuhan sehari-hari. Dalam perjalannya di kota, ia melihat iklan air mineral yang sejuk dari televisi. Ia mulai tertarik untuk bisa merasakan kesejukan yang dilihat di iklan itu. Akhirnya ia membeli lemari Es, televisi, DVD dan alat elektronik yang lainnya karena sedang banyaknya uang. Sesampai dirumah, ia ketemu dengan bapak pendetanya, kemudia terjadi percakapan Pendeta : “banyak sekali barang belanjaannya pak!” Jemaat : “iya pak, saya beli Lemari Es, TV, DVD, kipas angin, setrika dll [ dengan sombongnya ] Pendeta : “wah hebat ya, lalu nanti cara pakainya gimana ? la daerah kita kan belum ada listrik terus nyalahkanya bagaimana ?” Jemaat : “oh iya ya [ sambil pegangan kepala ] [ untuk menghindari malu ] ia mengatakan ndak papa pak pendeta, nanti lemari Es bisa dibuat lemari baju, dan yang penting punya.” Pendeta : heem Kisah ini bagi kita akan punya penafsiran sendiri, namun ketika saya perhatikan dari cerita tersebut saya melihat bagian yang prinsip dari jemaat ini yaitu tidak paham, dan hanya mau mengikuti kesenangan karena harta kepemilikan. Keadaan kurang paham sering kali terjadi dalam hidup kebanyakan orang ketika menerima pesan, entah tidak memperhatikan, cuek, menganggap sudah tahu dll. Dan hal inilah yang menyebabkan terbengkalainnya suatu misi atau tujuan karena kurang paham. Dalam perjalanan bersama Yesus sering kali para murid belum mengerti maksud dari Yesus ketika Tuhan Yesus memberikan suatu pesan. Dalam injil Yohanes 4 ditunjukkan bagaimana murid-murid Tuhan Yesus tidak mengerti jika Yesus sedang berbicara masa penuaian. Namun yang dipikirkan adalah makanan bukan pengajaran tentang bagaimana saat penuaian yang harus dikerjakan. Persolannya karena mereka terlalu asik dengan kondisi mereka. Bersama Yesus yang serba ada dan selama mereka bersama dengan Yesus mereka hanya melakukan kegiatan rutin tanpa memahami maksud Gurunya. Kita sering melakukan yang justru tidak berfaedah dan jauh dari maksud dan rencana Tuhan. Kecenderungan kita hanya berputar-putar dengan kegiatan yang sama dan menghabiskan energi. Oleh karenanya kita perlu memahami secara benar maksud Tuhan yang ditaruh dalam diri kita jemaat agar sesuai dengan maksud Tuhan yaitu fokus pada jiwa2 bukan asesoris yang tidak ada hubungan dengan maksud Tuhan dibumi.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Harga Sebuah Keteladanan
08 Juni '18
Pribadi Roh Kudus
23 Mei '18
Membangun Rasa Aman
11 Juni '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang