SEPEKAN TERAKHIR
  Senin, 23 April 2018   -HARI INI-
  Minggu, 22 April 2018
  Sabtu, 21 April 2018
  Jumat, 20 April 2018
  Kamis, 19 April 2018
  Rabu, 18 April 2018
  Selasa, 17 April 2018
POKOK RENUNGAN
Melayani dan mengasihi adalah sikap hidup orang percaya.
DITULIS OLEH
Sdr. Dwi Winarno
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Teladan Kasih Yesus
Teladan Kasih Yesus
Sabtu, 07 Oktober 2017
Teladan Kasih Yesus
Lukas 19:1-10

Dalam sebuah acara retreat, ada seorang pemuda yang tersentuh hatinya saat prosesi pembasuhan kaki. Ia merasakan begitu dalamnya kasih Tuhan yang rela berkorban, bahkan memberikan keteladanan dalam hal melayani. Pemuda tersebut diingatkan sepanjang kehidupannya, ia belum pernah melakukan pembasuhan kaki terutama kepada orangtuanya. Ia mengingat perjuangan orangtua dan sanak saudara yang berjuang demi pendidikan dan masa depannya. Terdengar perkataan dalam hatinya, pernahkan kamu melakukannya kepada mereka [orangtua dan keluarga]? Seketika itu ada kasih yang besar dirasakannya. Ia merasakan betapa besar kasih Tuhan Yesus yang lebih dahulu diberikan kepada umat kesayangan-Nya. Sehingga pemuda tersebut benar-benar larut dalam hadirat Allah dan terdengar suara yang lembut, “Lakukanlah dan layanilah mereka sebab Aku telah melakukan terlebih dahulu untuk uma-tKu.” Hati pemuda tersebut tergetar karena kasih Tuhan yang besar.

Berbicara tentang kasih Tuhan memang tidak pernah ada habisnya dalam kehidupan ini. Seperti yang dialami oleh Zakheus, seorang kepala pemungut cukai. Ia adalah orang yang sangat dibenci oleh banyak orang karena kebiasaannya yang suka memeras mereka sehingga tidak banyak yang mau berkawan dengannya. Namun ketika ia mendengar bahwa Yesus ada di kota...selengkapnya »
Cintailah Gerejamu Mazmur 27:4 Satu hal telah kuminta kepada TUHAN, itulah yang kuingini: diam di rumah TUHAN seumur hidupku, menyaksikan kemurahan TUHAN dan menikmati bait-Nya. Hari ini gereja kita genap berusia 44 tahun. Pada tanggal 15 April 1974 Gereja Isa Almasih jemaat Dr. Cipto diresmikan menjadi salah satu Gereja Isa Almasih yang dewasa. Kita patut bersyukur, sejak hari lahirnya sampai hari ini Tuhan sudah banyak melakukan perbuatan besar di sini dan melalui gereja kita ini. Banyak orang sudah dimenangkan dan diubah hidupnya. Banyak orang sudah mengalami mujizat. Banyak orang sudah mengalami pertumbuhan iman. Banyak gereja baru yang didirikan di tempat-tempat lain. Selain bersyukur kita juga harus lebih mencintai gereja kita ini. Mengapa demikian? Gereja adalah keluarga rohani kita. Sama seperti setiap kita mempunyai keluarga secara jasmani, kita pun mempunyai keluarga secara rohani. Kalau Tuhan sudah menetapkan kita menjadi bagian dari gereja ini, maka kita adalah anggota keluarga Allah yang ada di GIA dr. Cipto. Gereja adalah tempat kita mengalami Tuhan. Di gereja kita mengalami kehadiran Tuhan. Kita mendapatkan makanan rohani yaitu Firman Tuhan. Di gereja kita mendengarkan Tuhan yang berbicara kepada kita. Kita mendapatkan kekuatan yang baru, pemulihan dan kesembuhan di gereja. Gereja adalah tempat kita mengalami pertumbuhan iman. Ada orang-orang yang Tuhan pakai untuk membantu kita dalam pertumbuhan rohani. Di gereja kita belajar untuk bertumbuh dalam karakter. Melalui melayani orang lain kita belajar tentang arti hidup untuk melayani. Gereja adalah tempat kita menemukan arti hidup dengan melayani dan menjadi berkat buat orang lain. Di gereja kita diajar untuk mempersembahkan hidup kita kepada Tuhan agar dipakai untuk memberkati orang lain. Melalui pelayanan yang kita kerjakan, kita memuliakan Tuhan dan memberikan dampak positif bagi orang lain. Marilah hari ini, dalam perayaan ulang tahun gereja kita yang ke 44 ini, kita berkomitmen untuk lebih mencintai gereja kita. Amin. Pdt. Goenawan Susanto
Sejenak kita tinggalkan Sambey, Pdt. Itong dan Mbah Wanidy dengan segala pikiran yang berkecamuk di kepala mereka. Marilah kita arahkan pandangan mata kita nun jauh di sana. Pada sosok Benay yang berada di Iraq, negeri Saddam Husein yang kaya minyak namun sekaligus kaya konflik. Ya, Benay masih hidup dan sangat rindu untuk dapat segera pulang ke tanah air. Ia sudah kangen dengan nasi goreng babat, lunpia Semarang, dan tentu saja nasi bungkus dan racikan kopi khas angkringan Mbah Wanidy. Ia sangat rindu pula pada Sambey, sahabat karibnya. Bayangan canda tawa dan keakraban di antara mereka terukir indah di langit-langit angannya. Dan itu semua membuat waktu penantian seperti ini terasa begitu lama dan sangat menyiksa batin Benay. Namun di sela-sela dera kerinduan itu, ada nuansa kepuasan yang tak terlukiskan dalam nurani Benay. “Sudah selesai”, kata Benay. Kalimat singkatnya itu merangkumkan semua jerih lelah dan pengorbanan yang telah ia persembahkan dalam misi kemanusiaan yang penuh risiko. Ya, Benay sungguh bersyukur diberi kesempatan untuk mencicipi pengalaman-pengalaman yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Melalui pengalaman-pengalaman itu hidupnya makin diperkaya dan kian merasakan campur tangan Tuhan sungguh nyata. Jemaat yang terkasih. Sama seperti Benay yang telah setia dan berhasil menyelesaikan misinya, demikian juga dengan Yesus Kristus. Hidupnya sungguh-sungguh dibaktikan-Nya untuk menggenapi seluruh kehendak Bapa. Yaitu kehendak untuk menanggung dosa seisi dunia, supaya manusia yang berdosa mendapatkan anugerah keselamatan oleh iman kepada-Nya.Saat-saat penghinaan, penyiksaan dan penyaliban yang begitu menyakitkan, menjadi saat-saat yang lama bagi Yesus. Namun Dia begitu sabar menanggungnya dan menjalaninya dengan setia. Hingga saat pamungkas yang dinanti-nanti tiba. Dengan tergantung di kayu salib, Yesus berkata, “Sudah selesai.” Dia menundukkan kepala lalu menyerahkan nyawa-Nya. Dengan perkataan itu Yesus maksudkan untuk menyatakan bahwa: pertama, misi penyelamatan-Nya untuk menggenapi kehendak Bapa sudah rampung; kedua, jangan ada lagi praktek-praktek ketidakadilan dengan mengorbankan orang-orang lemah, miskin dan tak berdaya untuk menanggung/menutupi kesalahan para penguasa yang tak bernurani. Jemaat yang dikasihi Tuhan. Beberapa hari menjelang peringatan Jumat Agung dan Paskah ini, marilah kita bersyukur buat anugerah keselamatan yang sudah kita terima. Sekaligus kita mengingat bahwa keselamatan itu harganya sangat mahal, yaitu seharga darah Kristus yang suci dan dengan demikian harganya tak terkira. Marilah kita menghargai-Nya dengan hidup benar dan adil di hadapan Tuhan dan bagi semua orang. Janganlah kita hidup menikmati gelimang dosa lagi. Dan jauhilah sikap dan tindakan yang mencari aman dengan mengabaikan dan mengkambing-hitamkan orang-orang kecil “yang tak berdosa”. Selamat bersyukur. Terpujilah Tuhan!
Dalam sebuah cerita ilustrasi di dalam kelas, seorang guru mulai bercerita tentang kehidupan seekor Koala. Koala ini sedang belajar melakukan yang terbaik atas apa yang diperbuatnya. Pertama-tama, ketika masih kecil, seekor Koala belajar untuk melompat, lari, dan bahkan bernyanyi. Ia terus mencoba sampai bisa. Setelah itu ia juga mencoba sesuatu yang baru, mungkin banyak waktu yang diperlukan untuk mampu melakukannya. Namun ia tetap mencoba dan belajar melakukan sesuatu yang terbaik. Bahkan ia melatih dirinya sampai ia mampu menguasainya. Ia selalu mencoba lakukan yang terbaik dengan bekerja keras. Apa yang ia telah mulai, ia berusaha untuk tetap menyelesaikan meskipun kadang tidak menyenangkan. Prinsip yang dimiliki seekor Koala ini adalah tetap melakukan yang terbaik dari setiap kegiatan yang dilakukannya. Kitab Amsal 14 merupakan salah satu bagian dari kitab Amsal yang berisikan ucapan-ucapan bijak atau yang sering kita sebut hikmat. Hikmat adalah pengetahuan dan pengertian akan apa yang benar, adil, tulus, dan jujur yang tentunya berasal dari Tuhan dan bersumber kepada Tuhan. Khusus di ayat 23, yaitu dalam tiap jerih payah ada keuntungan. Setiap manusia yang hidup pasti tidak pernah terlewatkan dari sebuah kegiatan. Baik dalam pendidikan, pekerjaan, dan pelayanan. Semua itu membutuhkan tenaga, pemikiran, dan kerja keras. Ayat ini mengingatkan bahwa setiap jerih lelah yang dilakukan akan mendatangkan keuntungan. Bukankan tahun ini target jemaat Tuhan adalah melakukan yang terbaik untuk keselamatan jiwa-jiwa? Itu berarti ada sesuatu yang harus dikerjakan, ada hal-hal yang harus diupayakan supaya dapat terpenuhi. Dari apa yang akan kita kerjakan tersebut membutuhkan yang namanya jerih lelah, butuh pengorbanan dan butuh tindakan. Melakukan yang terbaik tidak bisa hanya berdiam diri, melainkan harus berjerih lelah untuk menjangkau jiwa-jiwa bagi Tuhan. Dan pastinya dalam berjerih payah itu, butuh hikmat dari Tuhan. Saudara terkasih, kita telah dipanggil Allah untuk turut bekerja dalam ladang pelayanan di dunia ini. Kita dipanggil untuk melakukan perintah Allah, yaitu mencari dan menyelamatkan yang hilang. Kita juga alat kepanjangan tangan Tuhan untuk memberitakan Injil Tuhan. Oleh sebab itu, mari belajar melakukan yang terbaik dari setiap bagian kehidupan kita untuk menghasilkan buah yang berdampak bagi sesama. Bahkan sampai mendatangkan keuntungan bagi kemuliaan nama Tuhan.
Orang percaya yang telah ditebus oleh darah Yesus [penebusan Salib Kristus] telah dibeli dengan harga yang lunas dibayar dan dirinya menjadi milik Tuhan [I Korintus 6:19-20]. Berarti hidupnya tidak boleh memiliki cita-cita, keinginan untuk meraih sesuatu, kecuali sesuatu itu berguna bagi Tuhan. Keinginannya haruslah bukan untuk kepentingannya sendiri, bukan untuk harga diri, gengsi, kehormatan di mata manusia. [Lukas 14:33] Dalam ayat bacaan tertulis : “…semua orang yang menerima-Nya diberi kuasa [the right, hak istimewa] supaya menjadi anak-anak Allah,...” menjadi pribadi luar biasa, berkarakter serupa dengan Tuhan Yesus. Menjadi anak Allah tentunya bukan hanya sekadar status, namun benar-benar bisa berkeadaan sebagai anak Allah. Untuk mencapai keberadaan sebagai anak Allah tidaklah mudah, harus melalui proses panjang menjadi murid. Manusia diciptakan dengan . kehendak bebas di dalam dirinya, Tuhan tidak mengambil alih kemudi hidup atau kedaulatan manusia. Manusialah yang mengendalikan hidupnya, apakah mau mengarahkan hidupnya hanya untuk melakukan kehendak dan keinginan Tuhan atau tidak. Jadi yang sangat penting dalam hidup ini adalah, apakah kita sudah secara sadar rela dididik sebagai murid Kristus. Bapa sudah menganugerahkan fasilitas-fasilitas untuk membentuk kita bisa hidup sama seperti Kristus telah hidup, mengikuti jejak-Nya [I Yohanes 2:6] Fasilitas-fasilitas tersebut berupa : 1. Karya Penebusan oleh darah Yesus yang mahal harganya [I Petrus 1:18-19]. Dengan penebusan ini kita diubah status dari pemberontak menjadi orang kudus [I Korintus 1:2a]. Inilah yang disebut sebagai pengudusan pasif, yang hanya Tuhan yang dapat melakukannya. 2. Kebenaran Injil, yaitu kuasa Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, yaitu mengembalikan manusia kepada rancangan Allah semula, memiliki kemuliaan Allah, menjadi serupa dengan Tuhan Yesus [Roma 1:16]. Rasul Petrus mengingatkan bahwa kita menyucikan diri oleh ketaatan kepada kebenaran [I Petrus 1:22]. Kita harus sungguh-sungguh belajar Kebenaran Injil. Hal ini disebut pengudusan aktif. 3. Roh Kudus : Menuntun orang percaya kepada segala Kebenaran [Injil], menolong kita dalam proses pengudusan [Yohanes 16:13] 4. Penggarapan Bapa melalui peristiwa-peristiwa dalam kehidupan sehari-hari [Roma 8:28] Berkeberadaan sebagai anak Allah [bukan sekadar status] adalah hal yang menyenangkan hati Bapa, kita harus memperkarakannya setiap hari sepanjang waktu singkat yang masih ada.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Tuhan Yesus Teguh Iman Dan Mengutus
14 April '18
Pengorbanan Yang Tidak Sia-Sia
30 Maret '18
Mengasihi Tanpa Memandang Status
13 April '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang