SEPEKAN TERAKHIR
  Kamis, 18 Januari 2018   -HARI INI-
  Rabu, 17 Januari 2018
  Selasa, 16 Januari 2018
  Senin, 15 Januari 2018
  Minggu, 14 Januari 2018
  Sabtu, 13 Januari 2018
  Jumat, 12 Januari 2018
POKOK RENUNGAN
Di tahun yang baru ini, ingatlah bahwa kita punya Tabib yang ajaib yang akan memberi kelegaan dan ketenangan kepada kita.
DITULIS OLEH
Ibu Evylia H. Goenawan
Ibu Gembala
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Masih Adakah ’Happy New Year’
Masih Adakah ’Happy New Year’
Kamis, 11 Januari 2018
Masih Adakah ’Happy New Year’
Matius 11:25-30

Bulan pertama di tahun yang baru, orang menyambutnya dengan ucapan, ’Happy New Year!’ Dengan amunisi semangat yang masih menjulang tinggi, tersemat harapan bahwa tahun yang baru akan disarati oleh segala yang membawa kebaikan, kebahagiaan dan keberhasilan.

Tidak sulit bagi kita untuk tersenyum lebar dan bersikap optimis menyambut tahun yang baru apabila kondisi fisik, psikis atau ekonomi kita relatif stabil. Namun pada kenyataannya hidup ini tidak sesederhana itu. Bagi sebagian orang, langkah awal menyambut tahun baru tidak seideal yang diharapkan.

Ada yang mengawali langkah di tahun baru dengan masalah keluarga yang bagai benang kusut. Ada yang mengawali tahun dengan deraan penyakit yang belum juga sembuh. Ada yang memulai tahun dengan lilitan utang yang tak kunjung berkurang. Ada yang terjerat perkara-perkara rumit yang masih gelap juntrungnya. Lalu bagaimana bisa menatap bulan-bulan ke depan dengan optimis? Masih berlakukah ’Happy New Year’ dalam situasi b...selengkapnya »
Kristus datang memberi hidup dan pengharapan Yohanes 10:10b Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan. Kolose 1:27 Kepada mereka Allah mau memberitahukan, betapa kaya dan mulianya rahasia itu di antara bangsa-bangsa lain, yaitu: Kristus ada di tengah-tengah kamu, Kristus yang adalah pengharapan akan kemuliaan! Bila ada seseorang yang baru datang ke tengah sebuah lingkungan tertentu [misalkan sebuah kampung], maka orang-orang di lingkungan itu akan bertanya-tanya: ’Siapakah orang itu? Seperti apakah pribadi dan latar belakangnya? Apakah kehadirannya akan membawa akibat yang baik atau buruk bagi orang-orang di lingkungan ini?’ Dua ribu tahun yang lalu telah datang ke dunia ini Yesus yang lahir di kota Betlehem. Para nabi sudah menubuatkan kedatangan-Nya. Dia adalah Sang Firman yang menjelma menjadi manusia. Dia datang ke dunia dengan tujuan untuk memberikan hidup dan pengharapan kepada manusia. Kristus telah datang ke dunia untuk memberikan hidup. Hidup yang dimaksud adalah zoe [dalam bahasa Yunani], yaitu hidup yang berkualitas. Hidup bukan asal hidup. Bukan hidup hanya untuk menikmati kesenangan saja. Tapi hidup yang penuh arti. Hidup yang berdampak bagi orang lain. Hidup yang berkenan di hati Tuhan. Hidup yang berpengharapan adalah hidup yang tidak hanya sebatas hidup di dunia ini saja. Tapi hidup yang melampaui batas. Sebab Kristus adalah pengharapan akan kemuliaan. Kristus sendiri saat ini ada di dalam kemuliaan di Sorga. Kristus sanggup membawa umat-Nya kepada kemuliaan yang saat ini dimiliki-Nya. Untuk semua itulah Kristus datang ke dunia ini. Dia lahir ke dunia ini dengan tujuan yang jelas. Dia datang agar manusia yang percaya kepada-Nya akan memiliki hidup dan memiliki pengharapan akan kemuliaan. Hidup di tengah dunia ini kita harus memiliki pegangan yang pasti. Jika kita memiliki iman kepada Kristus, maka kita memiliki jaminan hidup yang pasti. Pada hari Natal ini marilah kita semakin kuat di dalam iman dan pengharapan kita kepada Kristus. Pdt. Goenawan Susanto
Dalam beberapa hari lagi kita akan bersama-sama merayakan hari kelahiran Tuhan Yesus ke dunia yang diperingati setiap tanggal 25 Desember setiap tahunnya. Rasa sukacita pastinya melingkupi hati kita dalam menyambut natal. Berbagai persiapan pasti telah kita persiapkan, misalnya memasang berbagai macam hiasan pernak-pernik natal di rumah kita masing-masing. Sungguh indah suasana natal bagi setiap kita yang menantikan peringatan kelahiran-Nya. Natal membawa pesan tersendiri bagi orang-orang percaya di seluruh dunia ini. Memaknai arti natal yang sesungguhnya adalah penting bagi kita semua. Jika natal hanya dimaknai sebagai perayaan saja, maka natal akan kehilangan makna sesungguhnya karena kita terfokus hanya kepada perayaan yang diisi berbagai macam acara meriah. Natal akan bermakna ketika hati kita tidak hanya bersucita karena kelahiran-Nya, namun juga hati yang bersiap untuk menyambut kedatangan-Nya yang kedua kali. Dalam Roma 13:11-14 kita melihat bahwa Sang Juruselamat itu telah dekat, oleh sebab itu bangunlah dari tidurmu dan persiapkan diri untuk menyambut Dia. Namun apakah kita benar-benar telah bangun dari dosa dan pelanggaran kita, atau justru kita masih terlelap dan menikmati dosa pelanggaran kita. Dan pada akhirnya kita tidak siap menyambut Dia yang datang. Maka kita harus bersiap dari sekarang dalam mempersiapkan diri menyambut kedatangan-Nya. Ini merupakan saat yang tepat untuk kita datang dan bertobat dengan sungguh-sungguh kepada Tuhan. Mari kita maknai hari natal sebagai waktu untuk kita mempersiapkan diri menyambut kedatangan-Nya dengan selalu mengingat waktu dulu Yesus dilahirkan di Betlehem; menyambut-Nya dengan sikap yang berjaga-jaga dan hidup dalam pertobatan yang sungguh-sungguh; melakukan perbuatan-perbuatan yang baik dalam tanggung jawab sosial dan moral dalam kehidupan di dunia ini.
Suprapto nampak bersedih hati dan rasa putus asa dalam hidupnya karena menderita sakit paru-paru. Penyebabnya mengkonsumsi rokok secara berlebihan. Suatu saat Yanto sahabat dekatnya datang mengunjungi dan mendoakan dia. Oleh Yanto, mas Suprapto diperkenalkan kepada Tuhan Yesus. Suprapto mau menerima Tuhan Yesus dalam hidupnya dan mau di doakan oleh Yanto. Selesai didoakan mohon kesembuhan dan pengampunan dosa, hidup Suprapto berubah merasa damai sejahtera. Dia mulai mempunyai pengharapan untuk di sembuhkan oleh Tuhan Yesus. Rasa sedih hatinya berganti dengan sukacita dan rasa putusasanya digantikan dengan damai sejahtera. Tema Gereja kita tahun 2018 adalah “ LAKUKAN YANG TERBAIK BUAT KESELAMATAN JIWA–JIWA”. Jika kita ingin memiliki kehidupan seperti mas Yanto yang memiliki kerinduan untuk memenangkan jiwa-jiwa berdosa bagi Tuhan Yesus, maka kita harus memiliki hati Tuhan Yesus. Tanpa kita memiliki hati Tuhan Yesus dan menghidupi hati Tuhan Yesus, mustahil kita bisa menjadi pemenang-pemenang bagi jiwa- jiwa yang berdosa. Pertama, hati Tuhan Yesus yang rindu membuat orang berdosa bertobat [Luk 5 : 32]. Lihatlah waktu Tuhan Yesus diperhadapkan dengan perempuan yang kedapatan berbuat zinah yang seharusnya dihukum mati dengan dilempari batu. Tuhan Yesus tidak menghakimi perempuan tersebut tetapi memberi pengampuan dan menyelamatkan perempuan tersebut dari maut. Tuhan Yesus mengharapkan perempuan tersebut berhenti berbuat dosa dan hidup sesuai dengan kebenaran Allah. Kedua, hati Tuhan Yesus yang rindu mencari dan menyelamatkan yang terhilang [Luk 19:10]. Lihatlah bagaimana Tuhan Yesus memanggil dan menyelamatkan si Zakheus seorang pemunggut cukai yang sangat dibenci oleh masyarakat karena pekerjaannya. Tuhan Yesus mau duduk makan dan mampir ke rumah Zakheus demi menyelamatkan dia yang terhilang dari hadapan Allah karena sibuk cari duit untuk keuntungan dirinya sendiri. Ketiga, hati Tuhan Yesus yang berbelas kasihan [Markus 1:41 ; 6:34]. Lihat bagaimana Tuhan Yesus berbelas kasihan melihat orang lumpuh yang selama 38 tahun menantikan kesembuhan di pinggir kolam Betesdha. Padahal disekeliling pinggir kolam tersebut banyak sekali orang yang sakit menantikan kesembuhan. Namun perhatian dan belas kasihan Tuhan Yesus tertuju kepada orang yang lumpuh itu. Tuhan Yesus mengetahui bahwa dia sudah 38 tahun dalam keadaan seperti itu. Kalau kita memiliki hati seperti Tuhan Yesus, pasti akan banyak jiwa – jiwa orang berdosa, orang yang terhilang dan orang yang menderita sakit akan tertolong, akan terlayani melalui kehidupan kita sepanjang tahun 2018. Sehingga apa yang menjadi tema Gereja kita tahun ini jadi kenyataan.
Saya bersyukur dilahirkan di tengah-tengah keluarga sederhana. Penghasilan orangtua hanya pas-pasan. Sehingga untuk membeli barang kebutuhan lainnya harus susah payah untuk mencari. Ketika akan memasuki kelas 3 SLTA, sepatu saya kelihatan rusak parah, maka saya berniat meminta kepada orangtua. Tetapi saya tidak berani meminta karena kondisi pekerjaan dan ekonomi. Sore itu tiba-tiba ibu menghampiri saya serta menegor mengapa saya tidak memberitahu kalau sepatu saya sudah rusak. Kemudian ibu mengajari saya agar “menyisihkan Rp. 200,- dari Rp. 500,- uang saku saya tiap hari. Ketika ibu memberi uang di pagi hari, ia selalu mengarahkan saya memasukan uang Rp. 200,- ke dalam “celengan” bambu. Ibu mengajari saya “menyisihkan” bukan “menyisakan” uang saku saya. Alasannya kalau menyisihkan berati benar-benar menyendirikan, disiapkan khusus. Sedangkan kalau “menyisakan” berati meninggalkan sedikit. Dan hasilnya, dalam jangka waktu 1 tahun, saya bisa membeli sepatu walaupun ibu harus menambah sejumlah uang, namun tidak memberatkan. Rumusan “sisihkan, bukan sisakan” seharusnya juga menjadi rumusan untuk waktu khusus bersama Tuhan. Seperti Daniel. Daniel adalah pembesar negara yang tentu sangat sibuk [ayat 3-4], tetapi yang mengagumkan, ia sudah punya tempat, waktu, bahkan metode yang tetap untuk bersekutu dengan Allah [ayat 11]. Dalam konteks ini, Daniel memang sedang terancam akan dilemparkan ke gua singa. Namun berdoa tiga kali sehari bukan dilakukannya karena panik dengan ancaman itu. Hal ini dicatat sudah menjadi pola kebiasannya. Ia benar-benar menyisihkan yang terbaik untuk Allah, bukan memberi sisa. Mungkin selama ini kita hanya memberi sisa-sisa waktu, sisa-sisa tenaga, serta kemauan sehingga waktu bersama Tuhan tidak berisi. Mari ubah pendekatan kita dengan menyisihkan [menyediakan], bukan menyisakan, waktu untuk berdoa dan membaca firman-Nya. Mungkin awalnya terasa berat, tetapi mintalah pertolongan Roh Kudus agar kita bijak menempatkan prioritas hidup dan diperkenankan menikmati persekutuan yang indah dengan Allah tiap hari. Persekutuan dengan Allah menolong kita menghadapi situasi hidup apapun. Di Tahun 2018 ini beri dan siapkan waktu khusus untuk Tuhan agar hidup kita makin berkenan di hadapan-Nya. Amin. [ATL] Pokok renungan: Temui Tuhan dengan menyisihkan waktu khusus untuk menghadap-Nya.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Kristus Datang Memberi Hidup Dan Pengharapan
24 Desember '17
Lahir Untuk Peduli
06 Januari '18
Apakah Dia Benay ?[2]
22 Desember '17
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang